Masyarakat Indonesia Masih Kurang Sadar Pentingnya P3K

Minimnya kesiagaan dan pengetahuan tentang P3K menimbulkan sejumlah penanganan pertama yang salah.
, Majalah Kartini | 18/09/2016 - 16:00

Jpeg


MajalahKartini.co.id
– Data Riskesdas 2013 menunjukkan, secara nasional cedera paling banyak terjadi di jalan raya yaitu sebesar 42,8 persen, disusul oleh rumah 36,5 persen, dan sekolah 5,4 persen. Proporsi jenis cedera didominasi oleh luka lecet/memar sebesar 70,9 persen, terkilir 27,5 persen, dan luka robek 23,2 persen. Dari angka tersebut, terlihat bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya mempersiapkan perlengkapan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) dan tidak memiliki keterampilan dalam penanganan pertama pada luka.

Bayu Isnawan, Marketing Manager Hansaplast, PT Beiersdorf Indonesia pada acara workshop Hansaplast di Jakarta, Kamis (15/9) mengatakan, kecelakaan dapat terjadi dimanapun kapanpun, namun mayoritas masyarakat masih terbiasa dengan mencari perlengkapan P3K setelah mengalami luka. “Hal ini perlu mendapat perhatian karena proses penyembuhan luka kecil dapat terhambat atau menimbulkan infeksi serius,” ujar dia.

Hansaplast sebagai brand yang memiliki kepedulian terhadap pentingnya penanganan pertama pada kecelakaan, mendorong masyarakat untuk memiliki perangkat P3K, serta meningkatkan pengetahuannya mengenai pengaplikasian P3K dalam aktivitas keseharian sebagai persiapan bila terjadi kecelakaan di rumah, sekolah, tempat kerja, dan di perjalanan.

Minimnya kesiagaan dan pengetahuan masyarakat tentang P3K menimbulkan sejumlah penanganan pertama yang salah misalnya mengoleskan pasta gigi pada bagian luka bakar atau membersihkan luka terbuka dengan tisu basah. “Kedua contoh tersebut adalah fenomena yang beredar di masyarakat turun-temurun atau berdasarkan kurangnya informasi medis,” kata Bayu.(Foto : Andim)

Tags: , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: