Hindari 8 Kesalahan Fatal Menjadi Pemimpin

Menjadi pemimpin merupakan suatu pencapaian yang tak mudah. Beberapa hal kesalahan fatal perlu dihindari agar Anda menjadi sosok pemimpin yang baik.
, Majalah Kartini | 19/03/2019 - 18:00

Foto: Shutterstock

MajalahKartini.co.id – Masalahnya, tidak semua pemimpin mampu mengelola perusahaannya dengan benar dan kerap melakukan kesalahan fatal. Menurut catatan Steven Brown yang telah bertahun-tahun sebagai konsultan, setidaknya ada beberapa kesalahan fatal pemimpin yang kerap dilakukan. Berikut di antaranya:

  1. Gagal Mengembangkan Orang. Jika perusahaan yang Anda bangun akhirnya runtuh setelah Anda tinggalkan, maka Anda layak merasa bersalah dan gagal dalam mengembangkan estafet kepemimpinan. Sering terjadi karena berbagai alasan, tidak percaya kemampuan seseorang, tidak ada pelimpahan wewenang dan kekuasaan. Akibatnya, selain pemimpin sibuk dengan urusan yang tidak perlu, secara tidak sadar juga telah melewatkan kesempatan untuk menciptakan kader-kader pemimpin baru.
  2. Mengendalikan Hasil, Bukan Cara. Kebanyakan pemimpin sering memukul rata unjuk kerja para karyawannya. Karena itu untuk menghindari persepsi yang keliru, seorang pemimpin mesti melihat dalam sebuah kerangka rangkaian yang utuh, yakni melalui pikiran, perasaan atau akal budi, kegiatan dan lama-lama menjadi kebiasaan, lalu memberikan hasil. Jika rangkaian tersebut dipergunakan, maka pemimpin akan dengan mudah melakukan perubahan drastis dalam membangun produktivitas karyawan.
  3. Bergabung dengan Kelompok yang Keliru. Seorang pemimpin sering dijadikan sebagai pejuang bagi orang-orang yang melawan kebijakan, tujuan dan sasaran perusahaan. Jika hal itu terjadi, Anda harus menolak sekalipun yang mengajak seorang pemimpin sejawat atau sekumpulan beberapa karyawan.
  4. Seragam dalam Mengelola Orang. Pemimpin yang mengelola anak buahnya dengan cara yang sama atau satu teknik saja, seringkali mengalami kekecewaan. Pemimpin yang baik mestinya peka terhadap perbedaan dan kepribadian masing-masing karyawan. Oleh karena itu, pemimpin harus menyadari dan memanfaatkan perbedaan tersebut sebagai sebuah kekuatan
  5. Melupakan Pentingnya Laba. Tujuan utama sebuah organisasi adalah menjaga kelangsungan organisasi melalui perolehan laba. Seringkali terjadi, pemimpin lebih fokus untuk menjadi divisi terbaik di perusahaan. Hal ini bisa membuat seorang pemimpin tidak fokus dan akhirnya melupakan pentingnya laba.
  6. Terpaku Pada Persoalan, Lupa Tujuan. Salah satu alasan mengapa seorang pemimpin tidak efektif adalah karena ia terpaku pada masalah-masalah sederhana, misalnya kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan karyawan atau orang lain. Daripada membuang-buang energi untuk mencari-cari kesalahan orang lain, tentu lebih baik jika seorang pemimpin melakukan pendekatan lain. Misalnya dengan mencari tahu, apa yang memengaruhi prestasi karyawan.
  7. Bersikap Sebagai Sesama, Bukan Pemimpin. Usai jam kantor, banyak pemimpin yang bersikap sebagai orang biasa seperti sesama karyawan yang lain. Kemudian esok paginya ia akan bersikap sebagai pemimpin lagi. Banyak karyawan yang tidak bisa menerima sikap seperti itu. Seorang pemimpin memang harus memilih: menjadi pemimpin atau menjadi sesama karyawan. Tidak ada jalan tengah dalam situasi seperti itu. Seorang pemimpin tidak boleh terjebak pada perannya sebagai sahabat, atau psikiater. Tugas pemimpin adalah bagaimana mengelola kehidupan sebuah perusahaan.
  8. Gagal Menentukan Standar. Banyak pemimpin yang tidak menyukai konsep menentukan standar. Pemimpin yang beranggapan demikian sebenarnya tidak memahami salah satu kunci perusahaan yang dikelola dengan baik. Perusahaan memang tidak perlu memaksa orang untuk tunduk kepada sederetan panjang peraturan, tetapi ia harus mempunyai sasaran untuk membangun kebanggaan pribadi dan perusahaan.(*)

Baca Juga: Benarkah Pemimpin Perempuan Sering Bikin Stres?

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: