Masih Relevankah Sebuah Dongeng untuk Anak?

Banyak manfaat yang didapatkan dari sebuah dongeng. Namun, masihkah relevan untuk kehidupan anak-anak di era modern ini?
, Majalah Kartini | 14/04/2019 - 14:00

Foto: Istimewa

MajalahKartini.co.id – “Pada zaman dahulu kala, di negeri antah berantah, hiduplah seorang…”. Penggalan kalimat awal ini tentu tidak asing bagi kita yang pernah merasakan indahnya sebuah dongeng. Biasanya cerita dongeng dibawakan sebagai pengantar tidur oleh orang tua kepada anaknya.

Dewasa ini, kita jarang menemukan dongeng muncul sebagai sarana penyampaian pesan moral yang efektif. Dengan kemajuan teknologi dan digital, para orang tua merasa lebih praktis memberikan sebuah informasi kepada anaknya melalui gawai kepemilikannya. Tapi apakah itu dapat memengaruhi daya imajinasi anak? Jawabannya belum tentu!

Banyak orang tua yang sudah enggan mendongeng untuk anaknya. Bahkan tak sedikit anak itu sendiri yang enggan untuk mendengar dongeng dari orang tuanya. Lantas sebenarnya, di zaman modern ini, masih relevan kah sebuah dongeng untuk anak?

Dongeng sebagai Sarana Interaksi

Nyatanya, dongeng masih sangat relevan, bahkan di era canggih seperti sekarang ini. Pasalnya, dongeng merupakan sarana dua arah, yaitu membacakan cerita sekaligus juga mendengarkannya. Mendengarkan adalah nilai interaksi yang menyenangkan bagi anak.

Daya ingat dan imajinasi anak sangat kuat saat berinteraksi. Selain sebagai alat penghibur, dalam dongeng juga bisa dimasukkan unsur pesan yang bertujuan memberikan nasihat, motivasi dan pesan moral pada anak.

Dengan sifat anak yang suka meniru, maka mereka akan terpacu oleh kreativitas pendongeng. Mendengarkan dongeng juga dapat membuat anak mempunyai sikap tenang, stabil dan memiliki sifat yang terbuka kepada siapapun.

Memacu Imajinasi Anak

Dongeng juga mendorong sifat imajinatif pada anak. Orang tua yang mendongeng kepada anaknya, juga harus pandai memilah dongeng seperti apa yang harus dibacakan. Sebab, anak harus dijejali ilmu pengetahuan di baliknya.

Setiap dongeng memiliki pesan moral yang kuat, meskipun kisahnya berupa cerita sederhana. Banyak dongeng yang mengandung unsur sejarah di dalamnya. Contohnya dongeng rakyat. Dalam dongeng rakyat, anak akan dikenalkan melalui karakter dan penokohan yang sangat berlawanan, misalnya si baik dan si jahat.

Dongeng juga merupakan warisan dan pusaka dari generasi ke generasi. Dengan mendongengkan cerita rakyat kepada anak, maka orang tua telah melestarikan sebuah warisan. Dalam khazanah kebudayaan dongeng adalah gambaran jiwa manusia.

Pembelajaran Alternatif di Luar Sekolah

Relevansi dongeng yang ketiga adalah, dongeng sebagai pembelajaran alternatif di luar sekolah. Banyak manfaat bagi anak ketika mendengarkan sebuah cerita atau dongeng, anak akan lebih aktif dalam berbicara. Dan akan terus terangsang dalam mendengarkan.

Lewat dongeng pula, mereka mengembangkan imajinasi dan memori. Akan muncul banyak manfaat ketika anak mengembangkan diri. Mereka akan menjadi lebih antusias pada cerita, menjadikan mereka semakin ingin bercerita dan memiliki daya tulis yang semakin besar. Karena mereka mulai menyenangi dan gembira pada kisah dan cerita melalui dongeng.(*)

Baca juga: Dorong Kemampuan Kognitif Anak Melalui Dongeng

Orang tua harus pandai mengajak anaknya agar ia mau mendengarkan dan memberikan pengajaran tentang bercerita. Anak ingin sesuatu yang menantang dan terkesan baru. Jika anak sudah menyenangi dongeng tersebut, ajaklah mereka untuk mengkisahkan kembali melalui ingatan mereka yang mereka utarakan lewat verbal.

Lalu ajaklah anak untuk menulis sesuatu yang baru, kisah baru, dongeng baru.

Mendongeng atau bercerita adalah salah satu metode dalam pendidikan anak. Menurut beberapa pakar, dengan membacakan cerita atau mendongeng selama 20 menit saja, tingkat kecerdasan anak dalam membaca dan menulis kreatif akan naik secara signifikan. Nilai 20 menit story telling itu setara dengan sekurang-kurangnya 10 hari belajar di sekolah(*)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: