Mengenal Wajah Perempuan Perupa Muda Indonesia

Di abad ke-20 banyak perupa perempuan yang memberanikan dirinya terjun ke dalam bidang seni rupa dengan medium kanvas. Kini, para perupa perempuan ini lahir dengan latar belakang yang berbeda dan dengan kiprahnya yang berbeda pula.
, Majalah Kartini | 22/03/2019 - 08:00

Foto: Istimewa

MajalahKartini.co.id – Tokoh karya seni rupa di Indonesia memang kurang terlihat batang hidungnya. Meski demikian dalam situasi di zaman serba digital ini, perupa masih menjadi daya tarik yang memiliki segmentasi sendiri. Terlepas dari para pesohor perupa Indonesia yang kebanyakan didominasi oleh pria, ada hal yang membuat luput pula dari perhatian. Yaitu, perupa perempuan muda dari Nusantara.

Selain dunia film dan dunia literasi, prestasi di bidang seni rupa pun tak kalah mencuatnya. Sejumlah nama telah menerjang kalangan pecinta seni rupa di Indonesia, bahkan dengan majunya teknologi digital, memudahkan para perupa perempuan ini untuk banyak dikenali di masyarakat luas. Karya-karya mereka pun telah dipamerkan di banyak galeri seni baik di Indonesia maupun mancanegara. Berikut adalah nama perupa perempuan di Indonesia:

Ratu Adil

Foto: gotomalls.com

Ratu Tama Adil atau yang dikenal dengan nama Ratu Adil adalah salah seorang pelukis perempuan berprestasi dari Indonesia. Perempuan lulusan Universitas Gajah Mada jurusan Sosiologi ini menekuni dunia seni lukis di Texas Academy of Figurative Art, Fort Worth. Dan mempelajari teknik abstract impressionism dari Upstair Gallery, Arlington.

Ia pernah menggelar pameran tunggal pertamanya bertajuk “Place I Call Home” pada 22 Juli – 2 Agustus 2017 di Mansfield Art Center, Mansfield, Texas, Amerika Serikat. Melalui pamerannya,  ia dianggap memiliki kontribusi dalam pengembangan budaya lokal. Lewat lukisan, ia menampilkan nilai seni yang terkandung dalam adat-adat Jawa. Dikutip dari gotomalls.com, Koordinator dari Mansfield Commission for The Art, Rosalie Gilbert mengatakan “Ratu Adil telah menunjukkan kontribusi nyata terhadap komunitas seni di Mansfield”.

Salah satu lukisan Ratu Adil (Foto: Istimewa)

Pameran tersebut menjadi pijakan keberhasilannya karena ia membawa pesan dan keindahan alam, budaya, dan kehidupan urban di Indonesia maupun kota tempat ia bermukim, Mansfield. Perempuan yang akrab disapa Tata ini, telah melukis dan memiliki karakter dengan kebudayaan Jawa nya mengenai simbol-simbol kejawen sebagai fondasi ide lukisan.

Baca juga: Pelukis Perempuan Jogja Gelar Pameran Tunggal di Amerika

Ruth Amerina Marbun

Foto: Istimewa

Ruth Amerina yang pernah tinggal di Inggris dan Singapura ini sudah aktif di dunia seni sejak tahun 2012. Perempuan kelahiran Sumatera Utara ini mengekspresikan karyanya dengan tonjolan warna-warna pastel.

Perempuan yang sering dipanggil Utay ini menggambarkan pengalamannya dengan cara menghidupi budaya yang beragam di dalam karya-karyanya. Ia ingin memainkan struktur emosi manusia dengan menonjolkan pasang surutnya suatu kontras dalam masyarakat yang harus menerima seni dengan ketidaksempurnaan karya.

Salah satu karya lukisan Utay (Foto: Istimewa)

Ia banyak menggunakan media akrilik dan cat air dalam karya-karyanya dengan gaya ekspresionis dengan unsur ambigu dan kamuflase.

Sinta Tantra

Foto: Istimewa

Ketertarikannya pada ruang dan gambar menjadi eksplorasi sendiri dalam berkarya. Perempuan asal Bali ini kerap memakai teknik dan ide dari literasi sejarah, sastra. Tetap berfokus pada benda, ruang, dan warna.

Perempuan yang kini tinggal di Inggris itu, menegaskan karakternya pada warna-warna cerah dengan medium arsitektur. Ia telah menyulap sejumlah bangunan di Inggris dengan gaya warna-warni khas Bali. Salah satunya adalah ”The Cube” Gedung Pusat Pendidikan, Folkstone.

Foto: Istimewa

Di Inggris, ia mendapat penghargaan sebagai seniman yang melukis jembatan 300 meter di daerah Canary Wharf yang diluncurkan saat Olimpiade London 2012, acara Liverpool Biennial, stasiun kereta bawah tanah London serta sejumlah universitas. Selain itu, ia membuat karya dengan melukis lapangan sekitar 3.300 meter persegi di kota Sangdo.

Natisa Jones

Foto: Istimewa

Natisa Jones menerapkan konsep kesendirian dalam karya-karyanya. Pelukis yang memilih medium pada kanvas dan kertas ini berkeluh tentang dominasi digital dan keramaian kotanya. Tapi dengan demikian, ia menyadari bahwa suatu karya harus tetap bisa dinikmati dalam keadaan apapun. Itupun dijadikan tantangan baginya.

Warna-warna di karyanya pun sebagian besar sangat kontras dan beradu, percampuran digoreskan dengan warna-warna yangkongtras seperti perpaduan merah, biru, dan hitam. Terlihat sekali emosi Natisa seakan meluap-luap.

Karya-karya Natisa Jones (Foto: Istimewa)

Seolah karyanya adalah gambaran dunia bawah sadar dengan peristiwa lain yang mencoba meloloskan diri dari kesesakkan dan kepungan sensor resmi dari definisi umum tentang ‘kebaikan’. “Ia mencoba mengembalikan manusia pada pengalaman-pengalaman paling personal.

Dengan pameran “Grotesk”, Natisa ingin membawa sekumpulan pengalaman paling personalnya ke permukaan secara apa adanya agar manusia dapat melihat kembali kesejatian dirinya.(*)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: