Jatuh Bangun Leomongga Haoemasan Dalam Dunia Bisnis

Berawal dari ketertarikan di dunia model hingga kini menggawangi bisnis properti.
, Majalah Kartini | 29/04/2017 - 12:20

leomonggaMajalahKartini.co.id – Paras cantik Loemongga Haoemasan yang mengawali kariernya di dunia model kini sukses dalam bisnis properti. Perempuan kelahiran Bandung 6 September 1973 ini mendirikan Asiana Group sejak tahu 2005. Kiprahnya dalam bisnis properti ini berhasil membuatnya menjadi salah satu perempuan yang berpengaruh di Indonesia. Berbagai penghargaan pun diperolehnya termasuk sebagai 2016 Forbes Indonesia “Most Inspiring Women” dan 2016 SWA Magazine ”100 Business Women of The Year”.

“Saya mendirikan asiana itu tahun 2005, sebelumnya saya bekerja di Enggineering. Saat di bank inggris itu saya pegang divisi finance induction sehabis itu baru saya bikin company sendiri,” ujar Leomongga saat ditemui di Jakarta, Selasa (18/4).

Mantan model dan presenter di beberapa stasiun televisi ini kini sudah tidak pernah tampil di dunia hiburan karena fokus mengurusi bisnis dan rumah tangganya. Sebagai Presiden Direktur Asiana Group, perempuan berambut panjang ini semakin sibuk menangani pengembang proyek apartemen mewah di kawasan Senopati, Jakarta Selatan; Senopati Suites Tower 1, Tower 2, Tower 3 dan beberapa proyek apartemen baru di daerah Senopati dan TB Simatupang. Proyek apartemen Senopati Suites ini masuk kedalam daftar delapan apartemen termahal dan termewah di Jakarta.

“Mengenai prestasi biar orang yang menilai. Disamping saya mengurus bisnis, saya tetap bangganya menjadi ibu dari anak-anak saya,” katanya.

Leomongga menceritakan, menjadi model di era 1990-an baginya bukan menjadi profesi melainkan hanyalah pekerjaan sampingan untuk mengisi waktu luang. “Ketika sekolah gitu kalo ada waktu luang setelah jam sekolah, dulukan sekolah selesianya pukul 12.00 ya. Kalau kebagian masuk siang atau masuk pagi masih bisa untuk foto-foto, modeling, atau sebagainya gitu,” kata ibu tiga anak ini.

Setelah lulus dari SMA 6 Jakarta ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Boston College mengambil jurusan Finance. Setelah selesai kuliah ia bekerja di bank. Bertemu dengan banyak clien, Leomongga mendapat banyak cerita tentang jatuh bangun dalam menjalankan bisnis.

“Setelah kerja di bank saya banyak beriteraksi dengan client, terus mereka cerita jatuh bangun. Kalau punya bisnis sendiri itu nggak semuanya enak, banyak gagalnya tapi ada juga suksesnya. Tapi kalau gagal ya memang itu pelajaran, kalau bisa bangun lagi itu jadi lebin baik. Semoga bisa belajar dari kegagalan dan kalau sukses itu lebih baik lagi. Karena itu jadinya saya terinspirasi,” jelas Leomongga.

Kala itu, ia belum menikah sehingga ia merasa memiliki kebebasan dan berpikir bahwa bisa saja ia mengambil risiko untuk memulai bisnisnya sendiri. “Jadi saya berpindah dari bank mengundurkan diri terus saya mulai berbisnis macem-macemlah; buka cafe, buka industri garmen, buka butik, semuanya jatuh bangun. Nggak berhasil akhirnya saya terjun ke properti karena ada temen-temen waktu itu udah duluan di dunia properti, dari situ mulai akhirnya 2005 mulai satu proyek rumah kecil-kecilan kerja sama dengan yang punya tanah. Dari situ ternyata diminati pasar hingga sekarang ini,” kata Leomongga sambil mengenang perjalanannya di dunia bisnis properti.

Sebelumnya Loemongga juga pernah menjadi pendiri dan pemilik rumah produksi KEP Media yang kemudian membidani kelahiran beberapa sinetron bergenre religi, termasuk Rahasia Ilahi (TPI, 2007). Selain bisnis properti (apartemen) dan production house (PH), Loemongga juga pernah menggeluti bisnis distribusi sepatu asal Malaysia, bermerk Vincci, bersama tiga sahabatnya.

Sedangkan sekarang perusahaan propertinya Asiana Group selain baru saja dinobatkan oleh Indonesia Property Awards sebagai 2016 “Best Boutique Developer”, juga telah merambah ke bisnis usaha lainnya pada tahun 2015 termasuk multi-brand boutique Fou dan beberapa gerai restoran seperti Koiki Eatery, restoran Jepang yang berlokasi di dalam kompleks apartemen mewah Senopati Suites, restoran Indonesia berkonsep nostalgia SOULFOOD di daerah Kemang dan sebuah restoran Asia terbaik di San Francisco, Namu Gaji yang akan segera buka dalam kompleks Senopati Suites juga.

Loemongga menikah dengan Agus Gumiwang Kartasasmita, putra Ginandjar Kartasasmita pada April 1998 dan dikaruniai tiga orang putra: Gania Kartasasmita, Gasia Kartasasmita dan Ghibran Kartasasmita.

Istri dari Agus Gumiwang ini mengaku memiliki tantangan tersendiri dalam membangun usaha. Tidak memiliki pengalaman di bidang properti, perlahan ia mulai menyelami dan menggali potensi-potensi yang ada termasuk memperkuat teamwork, saling bersinergi.

“Akhirnya saya menyadari bahwa semua itu sukses karena teamwork, berikutnya saya jadi nggak ngerjain sendiri. Saya cari orang yang bisa menlengkapi gitu, mencari tim dari sisi oprasional, keuangan, marketing semua pilar-pilar perusahaan ini saya cari yang ahli-ahli,” kata Leomongga.

Dalam mencapai kesuksesan dalam pekerjaan apapun, bagi Leomongga yakni seseorang harus legowo untuk menyadari kelemahan kita apa, dan harus belajar dari tiap kesalahan. Yang tak kalah penting kita harus menerima kritik dan tak pandang lengah dalam belajar.

Menjadi perempuan pekerja bagi Leomongga kita harus pintar memanage waktu dengan baik serta berfikir kreatif dan cepat. “Kalau kerjaan mau nggak mau harus menyesuaikan, jadi kapan kita mau louncing. Mesti ada trik bersama karyawan itu harus kita manage dari awal sedini mungkin. Dalam keadaan mendesak kita harus mengetahui cara bijak untuk mendelegasi orang kantor yang bisa mengerjakan tugas tersebut. Intinya nggak bisa sendirilah kita selalu kerjasama dengan tim,” katanya.

Memahami pentingnya kehadiran Ruang Terbuka Hijau (RTH) di lingkungan perkotaan, Leomongga melalui Asiana Group mengadakan syukuran atas terwujudnya rencana pembangunan RTH TBS Park seluas satu hektar di kawasan Jl. TB Simatupang, Jakarta Selatan. Inisiasi kepedulian ini juga sebagai bentuk dukungan perusahaan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam pemenuhan target ruang terbuka hijau di DKI Jakarta sebesar 30 persen dari keseluruhan luas wilayah Ibukota.

“Kalau RTH tentunya kita punya CSR itu memang nggak hanya menyiapkan uang untuk hal-hal yang baik tapi dia juga harus efektif dan efisien jadi dampaknya itu harus sebaik-baiknya dirasakan oleh sebanyak-banyaknya orang. Kita masih bisa mencari apa yang memang benar-benar diperlukan, yang kurang saat ini jumlahnya, nah RTH itu menurut saya adalah hal yang tepat karena sekarang belum banyak,” pungkasnya. (Foto : Istimewa)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: