Di Perusahaan Ini Cuti Hamil 6 Bulan Tak Lagi Mimpi

Kokok meyakini bahwa cuti hamil enam bulan ini sebaiknya bisa diberlakukan secara umum.
, Majalah Kartini | 06/12/2017 - 13:03

MajalahKartini.co.id – Bangunan berwarna peach itu tampak tak seperti perkantoran pada umumnya, melainkan lebih tampak seperti rumah biasa.  Selasa (7/11) itu, sebelum jam makan siang, suasana kantor tampak lengang, para pegawai masih asyik berkutat pada pekerjaan mereka di ruangan masing-masing.

Muncullah Kokok Herdhianto Dirgantoro, sang tuan rumah, CEO Opal Communication, yang dengan penuh kehangatan menyambut Majalahkartini.co.id.  Menampakkan banyak senyum, sosoknya tampak bersahaja. Siapa sangka dari tangannya lahir sejumlah langkah yang boleh dikata, menggemparkan Indonesia.

Dimulai ketika, dua tahun lalu sekitar awal 2015, ia mengeluarkan ketetapan yang memberi hak cuti enam bulan dengan gaji penuh, kepada para karyawatinya yang akan melahirkan.  Cuti hamil enam bulan itu dua kali lipat lebih lama dari yang diwajibakan pemerintah.

Padahal di sisi lain banyak perusahaan yang malah untuk memberikan cuti hamil tiga bulan yang sudah menjadi hak pegawai pun, masih banyak yang susah. Kokok mengaku, ia tak menyangka bahwa kebijakan di perusahaannya itu akan menimbulkan semacam kehebohan.

Pria kelahiran Surabaya 17 Agustus 1976 ini mengungkap, kebijakan itu didasari pengalaman keluarganya sendiri. “Dulu setelah istri saya melahirkan, ia terlihat blackout, berat badan turun belasan kilogram, tidak bisa melihat cahaya,” Kokok berkisah. “Awalnya saya tidak paham bahwa yang istri saya alami itu adalah baby blues. Tapi itulah yang ia alami,” ujarnya lagi. Sesudah itu ia tahu bahwa ada beberapa hal yang dihadapi perempuan menjelang dan sesudah melahirkan, yang cukup berat.

Kokok kemudian mendapat semacam pencerahan, dan memutuskan untuk memberikan hal terbaik yang dia bisa berikan untuk karyawan perempuan terkait kehamilan mereka. Lahirlah kebijakan enam bulan cuti itu.

Hitungannya, dalam catatan Kokok, perempuan membutuhkan sekitar 2 sampai 3 bulan sebelum melahirkan untuk istirahat penuh dan fokus persiapan melahirkan. Sesudah melahirkan, butuh 3 bulan untuk masa pemulihan fisik dan mental.

Baca juga: Cuti Hamil Panjang Jangan Setengah Hati

Kebijakannya segera jadi buah bibir. Ia sempat sempat diundang kedutaan Swedia, negeri yang tergolong paling maju tentang hak perempuan dan ibu melahirkan.“Di sana seorang ibu yang melahirkan di tahun 1975 sudah mendapatkan cuti hamil 6 bulan,” ungkap ayah 3 anak ini.

Opal yang dipimpin Kokok menetapkan, cuti hamil 6 bulan itu berlaku hingga kelahiran anak ketiga. Juga diberlakukan pada anak angkat, atau adopsi, kendati mekanismenya berbeda. “Banyak yang memberi masukan saat akan menerapkan kebijakan cuti hamil, salah satunya dari Aliansi Laki-laki Baru sangat berpengaruh pada saya,” tandasnya.

Kokok mengungkapkan, karyawan lain pun mendukung kebijakan ini. Karenanya ia tak menemukan kesulitan terkait kerja-kerja yang ditinggalkan karyawati yang menjalani masa cuti 6 bulan, karena karyawan lain mendukung mekanisme penanganannya juga.

Produktifitas, motivasi, semangat

Sejauh ini, Kokok mengakui, belum ada evaluasi khusus terkait dengan dampak dari pemberian cuti hamil 6 bulan ini.  “Kantor kami baru berjalan 5 tahun. Saya tidak hitung (dampak cuti hamil 6 bulan terhadap) produktivitas, yang penting pekerjaan selesai. Jadi achievement yang penting,” ucapnya.

Karenanya, pria yang memiliki hobi kuliner dan jalan-jalan ini belum tahu persis bagaimana dampak kebijakan cuti panjang itu dengan produktivitas. “Secara umummereka kompak, mereka senang, itu sudah cukup,” kata Kokok. Namun menurutnya, ia mendapat kesan karyawan lebih loyal dan bersemangat baru ketika kembali masuk kerja.

Terlepas dari belum dilakukannya pengkajian atas dampak kebijakannya, Kokok meyakini bahwa cuti hamil enam bulan ini sebaiknya bisa diberlakukan secara umum, terutama di instansi-instansi pemerintah. “Untuk PNS, seorang perempuan rata-rata masuk mulai umur 25 dan pensiun umur 55, masa karier 30 tahun, anak maksimal 3 anak. Kalau kita berikan 1,5 tahun cuti untuk 30 tahun masa produktif kerja, apakah akan merugikan?” cetusnya.

Sejauh ini baru Aceh yang memberlakukan cuti melahirkan selama enam bulan melalui Peraturan Gubernur Aceh nomor 49 tahun 2016. Betapa pun, untuk permulaan, katanya, tak perlu muluk-muluk langsung menerapkan cuti hamil 6 bulan. Semuanya bisa dimulai dengan bertahap.

“ Vietnam yang sama-sama negara ASEAN sudah menerapkan cuti hamil 6 bulan,” ungkap alumni Universitas Brawijaya, Malang ini. Kokok merasa masih banyak urusan yang terkait dengan masalah ini. Menurutnya, pemerintah juga harus sudah memikirkan hal-hal lain terkait kesejahteran jiwa warga.

Tak terasa, waktu bergerak terus, sore pun tiba. Namun semangat Kokok membahas berbagai persoalan terkait hal ini tak kunjung surut.
Kokok juga sudah memiliki berbagai rencana lain tentang, bagaimana perusahaannya bisa berkontribusi dalam kehidupan sosial. Sebagaimana yang sudah diwujudkannya dengan pemberian cuti hamil enam bulan ini, diyakini bisa membuat para perempuan yang bekerja di tempatnya merasa bahwa kebutuhan mereka bisa selaras dengan kebutuhan perusahaan. (Teks&Foto: Ecka Pramita/Ilustrasi)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: