Fadhilla Sandra Adjie: Meningkatkan Industri Kreatif di Kedai Kopi

Dikucilkan, seolah tidak berdaya dalam menjajal pendapat. “Saya perempuan, dan saya adalah hasil dari intimidasi.” Membuka kedai kopi yang melahirkan pegiat industri kreatif, sebagai perempuan ia tidak ingin dianggap sebelah mata.
, Majalah Kartini | 23/04/2019 - 14:00
pemilik Kopi Bon

Fadhilla Sandra Adjie

MajalahKartini.co.id – Perempuan yang berusia 23 tahun ini adalah lulusan Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR). Fadhilla Sandra Adjie atau lebih akrab dipanggil Dhilla mempunyai misi dan cita-cita yang tidak pernah padam, yaitu membawa unsur ‘Perancis’ dalam kehidupan sehari-hari. Sebab menurutnya Perancis adalah negara yang elegan serta maju dalam berbagai aspek ketatanegaraan. Karena bukan berasal dari keluarga kalangan atas, Dhilla awalnya enggan untuk pergi ke sana, karena menurutnya itu mustahil.

Terpilih dalam Program Student Exchange ke Perancis

Saat memasuki kuliah, Dhilla memulai kursus bahasa Perancis dan mendalaminya. Sempat ia magang di Institut Français d’Indonésie (IFI) yang mengurusi bagian kultur dan dunia kreatif. “Saya tidak dibayar. Yang saya pikirkan adalah jejaring dan pengalaman,” ungkap Dhilla.

Tak disangka, di semester tiga ia terpilih sebagai penerima program pertukaran pelajar ke Perancis mengalahkan saingan yang berada di atas levelnya. “Terharu, dan saya mau-tidak mau harus mendalami bahasa Perancis dengan lebih lagi.”

Intimidasi Rekan Kerja Laki-laki

Setelah beres dari program pertukaran pelajar, Dhilla semakin terpantik untuk melanjutkan gelar masternya di negeri mode terebut. Berjuang untuk memenuhi syarat, di tahun 2018 ia mencoba untuk mendaftar ke-7 universitas di Perancis. “Ketujuh Universitas tersebut menolak saya, karena masih kurang dari segi bahasa,” ujar Dhilla. Saat itulah ia akhirnya mencoba internship  di berbagai perusahaan.

Di semester empat perkuliahan, ia magang di sebuah perusahaan IT dan bisnis, yang memiliki 99 persen karyawan laki-laki. Intimidasi banyak Dhilla rasakan sebagai kaum minoritas di kantornya tersebut. “Saya sangat merasakan intimidasi tersebut, bahkan dalam menyatakan pendapat pun masih tidak dianggap dan membuat saya tidak bisa berkutik. Banyak di antaranya yang masih menganggap perempuan itu rendah, baik dari segi pemikiran dan pengambilan keputusan, maka saya tidak didengar,” cerita Dhilla.

Semenjak itu, Dhilla mendalami dunia bisnis lebih cermat lagi. Ia bahkan mulai berkecimpung di dunia bisnis dengan mencoba membuka bisnis sendiri, yaitu bisnis kedai kopi. “Saya yang sekarang, adalah hasil dari intimidasi tersebut,” tambah Dhilla.

Membuka Bisnis Kedai “Kopi Bon”

Kandasnya harapan untuk melanjutkan gelar master di Perancis, dijadikannya alat pacu untuk menumbuhkan bisnisnya tersebut. Dhilla membuka kedai kopi yang bernama “Kopi Bon”. Kedai kopi yang berada di Jalan Pahlawan No. 76 Bandung itu tak lepas dari unsur Perancis. Sama seperti yang sudah ia sukai sejak mempelajari bahasa negara tersebut. Karena kata “bon” itu sendiri adalah bahasa Perancis yang mengandung arti “enak”.

Kedai Kopi “Kopi Bon

Dhilla memiliki filosofi tersendiri saat membuka kedai kopinya. “Saya terbesit membuka kedai kopi karena melihat sejarah revolusi Perancis. Ternyata orang-orang atau para pemikir di Perancis, mereka berkumpul di kedai kopi untuk membicarakan gagasan dan ide untuk sebuah pergerakan. Diperlukan suatu ruang yang bisa mempertemukan berbagai macam orang dan memunculkan pergerakan revolusi baru,” tandas Dhilla.

Kedai Kopi Sebagai Ruang Kreatif

Workshop DIY (do it yourself) bertempat di Kopi bon

Walaupun persaingan industri kopi di Bandung semakin meruak, tapi pebisnis kopi perempuan sangat jarang ditemui. Dengan konsep yang sudah matang, Dhilla tidak ingin kopinya hadir hanya sekadar barang jualan saja. Ia ingin menawarkan sesuatu yang lebih dari itu. Ia membuka kegiatan di setiap minggunya, seperti workshop, kegiatan diskusi, hingga live akustik.

Diskusi dengan beberapa komunitas membahas isu perempuan dalam budaya tandinga. bertempat di Kopi Bon

Meski pebisnis perempuan di industri kopi masih sedikit, ia tidak patah arang. Bahkan itu menjadi tantangan tersendiri bagi Dhilla, sebab ia tahu cara melakukannya, dan bagaimana cara mengembangkannya.

“Saat memulai bisnis, saya melakukan segalanya dengan sendiri. Melakukan operation sendiri, marketing sendiri, mengorganisir semua,” paparnya. Dengan konsep yang ia bikin sendiri, ia mematok harga standar di Bandung. Tidak terlalu mahal dan terlalu murah. Intinya tidak murahan.

Baca Juga: Gagasan Anak Muda Kembangkan Industri Kreatif

 

Kegiatan kreatif yang digelar Kopi Bon adalah harapan Dhilla agar menjadi daya tarik bagi penikmat kopi. Apalagi kalau bukan karena menyediakan ruang untuk berkreasi dan memunculkan gagasan-gagasan baru. “Saya ingin menciptakan para pegiat industri kreatif, yang di baliknya terdapat sosok perempuan, seperti saya sendiri. Saya mengagumi Kartini saya sendiri, Ibu saya. Beliau yang mengajarkan bahwa menjadi perempuan itu harus berani, mandiri dan berjuang. Menjadi perempuan juga harus memiliki daya juang yang tinggi.”

 

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: