Kelahiran Down Syndrome di Indonesia Mencapai Ratusan Kasus Per Tahun

Down syndrome menimpa satu di antara 700 kelahiran hidup atau 1 di antara 800 – 1.000 kelahiran bayi. Diperkirakan saat ini terdapat empat juta penderita down syndrome di seluruh dunia, dan 300 ribu kasusnya terjadi di Indonesia
, Majalah Kartini | 21/03/2019 - 18:00

Foto: (Instagram/POTADS)

MajalahKartini.co.id – Mengutip dari Clinic for Children, dalam 17 tahun terakhir jumlah kelahiran Down Syndrome meningkat cukup pesat dengan perbandingan 1:700 dari kelahiran hidup. Saat ini jumlahnya masih belum diketahui pasti.

”Anak yang terkena down syndrome bukanlah sebuah kutukan dalam keluarga. Mereka hanya memiliki kelebihan satu kromosom karena secara normal ada 46 kromosom dalam sel seseorang yang diwariskan masing-masing 23 dari ayah dan ibu,” ujar Aryani Saida Ketua Umum 1 Persatuan Orang Tua Anak Dengan Down Syndrome (POTADS), Jakarta, (21/3/2019).

Aryani pun menjelaskan, “Penyandang down syndrome biasanya memiliki perkembangan lebih lambat, baik dari segi motorik, sosialisasi maupun kognisi. Penyandang down syndrome memang terlambat dalam proses pertumbuhannya dibanding anak normal. Meski demikian banyak bukti yang menunjukkan bahwa penderita down syndrome bisa berprestasi dan hidup mandiri”.

Baca Juga: Pasangan Down Syndrome Rayakan 22 Tahun Pernikahan

Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr.John Longdon Down. Gejala yang muncul akibat down syndrome dapat bervariasi mulai dari yang tidak tampak sama sekali, tampak minimal sampai muncul tanda yang khas.

Di seluruh dunia jumlahnya mencapai 8 juta kasus. Sedangkan di Indonesia diperkirakan ada lebih dari 3 ribu kasus (3.75%). Spesifiknya, ada 3.000 – 5.000 anak lahir penyandang kelainan kromosom per tahunnya di dunia. Down syndrome menimpa satu di antara 700 kelahiran hidup atau 1 di antara 800 – 1.000 kelahiran bayi. Diperkirakan saat ini terdapat empat juta penderita down syndrome di seluruh dunia, dan 300 ribu kasusnya terjadi di Indonesia

Penyebab down syndrome diakibatkan adanya kurangnya yodium saat proses perkembangan janin, adanya faktor genetik (bawaan), dan akibat usia orang tua terlalu tua atau terlalu dini. Rata-rata penderita down syndrome memiliki IQ di bawah 70 sehingga seringkali mengalami gangguan adaptif perilaku. Namun, hambatan kecerdasan tersebut terbagi menjadi dua bagian, yaitu sedang atau rendah sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa penyandang down syndrome mampu bersekolah di sekolah umum.

Saat ini kehidupan penyandang down syndrome di Indonesia rentan akibat minimnya  informasi penyakit, pengobatan, pendidikan, akses publik, dan terutama adalah peluang kerja penyandang down syndrome sangatlah terbatas. Dari segi pendidikan pendidikan jumlah SLB di Indonesia sangatlah kurang. Penyelenggaraan pendidikan inklusif, praktiknya cenderung dipaksakan. Banyak sekolah inklusif tanpa guru khusus pendamping anak berkebutuhan khusus.(*)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: