Waspada! Perempuan Berisiko Banyak Penyakit Akibat Hipertensi

Hipertensi pada perempuan menyebabkan terjadinya ganggguan jantung, gangguan ginjal, stroke, demensia bahkan kematian.
, Majalah Kartini | 28/02/2017 - 13:28

SONY DSC

MajalahKartini.co.id – Meskipun hipertensi pada perempuan sering dianggap kurang penting (underestimated) dan tidak terdiagnosa dengan baik (undiagnosed), pada kenyataannya hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya ganggguan jantung, gangguan ginjal, stroke, demensia bahkan kematian. Data Riskesdas 2013 mencatat, pada usia 65 tahun ke atas, prevalensi hipertensi pada perempuan adalah 28,8 lebih tinggi dibandingkan laki-laki dengan prevalensi 22,8. Selain faktor hormonal, didapati bahwa angka perkiraan hidup (life expectancy) perempuan lebih tinggi dari pria.

Dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S, Ketua 11th Scientific Meeting of Indonesian Society of Hypertension mengungkapkan, sampai saat ini, hipertensi masih merupakan tantangan besar di Indonesia. Keberhasilan pengendalian hipertensi akan menurunkan angka kejadian gangguan jantung, ginjal, stroke dan demensia. Namun sayangnya, pengetahuan masyarakat dan petugas kesehatan di seluruh Indonesia tentang hipertensi tercatat masih rendah dengan jumlah kasus yang tidak terdiagnosa dan jumlah pasien yang tidak mendapat terapi yang memadai masih tinggi.

“Untuk itu, masyarakat dihimbau untuk mewaspadai hipertensi pada wanita dan hipertensi pada umumnya. Masyarakat dianjurkan untuk melakukan tindakan pencegahan, seperti menjaga pola hidup dan deteksi dini serta apabila sudah terdiagnosa hipertensi, maka pasien harus berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan terapi yang tepat,” jelas dr. Eka pada pertemuan ilmiah “11th Scientific Meeting of InaSH: The Science For Today’s And Tomorrow’s” di Jakarta, Kamis (23/2). Semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah dan petugas kesehatan diharapkan untuk lebih meningkatkan kepedulian terhadap penyakit ini.

Pakar hipertensi dan salah seorang pendiri InaSH, dr. Arieska Ann Soenarta, SpJP(K), FIHA, FAsCC mengungkapkan, hipertensi merupakan faktor risiko terpenting dalam penyebab terjadinya penyakit Kardio-Cerebro-Vascular (KCV). Kematian di dunia sebagian besar disebabkan oleh penyakit KCV, baik pada laki-laki maupun perempuan.

Dalam kurun waktu antara tahun 2000-2025 diperkirakan akan terjadi peningkatan prevalensi sebanyak 9 persen pada laki-laki dan 13 persen pada perempuan. “Populasi usia lanjut dalam tahun- tahun mendatang memang semakin bertambah, disamping itu, perkiraan hidup (life expectancy) wanita lebih tinggi dibandingkan pria, kemungkinan hal inilah yang menyebabkan peningkatan prevalensi hipertensi lebih tinggi pada wanita dibandingkan pada pria,” jelas dr Anna.

Ia memaparkan, kelainan KCV pada perempuan seringkali kurang mendapatkan perhatian akibat kurang terdeteksinya faktor-faktor risiko penyakit KCV, seperti obesitas. Riskesdas 2007 mencatat prevalensi obesitas pada wanita adalah 29 persen sedangkan pria 7,7 persen, sedangkan Riskesdas 2013 menemukan prevalensi kolesterol 39,6 persen pada perempuan dan 30 persen pada laki-laki. Diabetes Mellitus II pada perempuan prevalensinya 7,7 persen laki-laki 5,6 persen. “Maka dapat dikatakan bahwa risiko terjadinya kejadian-kejadian KCV pada wanita lebih tinggi dibandingkan pria terutama pada usia lanjut,” lanjut dr. Anna.

Tekanan darah sistolik (TDS) perempuan, pada dewasa muda adalah lebih rendah dari pada laki-laki, akan tetapi pada usia 60 keatas TDS perempuan lebih tinggi dari pada laki-laki. Tekanan darah diastolic (TDD) pada umumnya sedikit lebih rendah pada perempuan daripada laki-laki di semua usia. Pada usia dewasa muda, hipertensi lebih banyak terjadi pada laki-laki, akan tetapi setelah usia 50 tahun, insiden hipertensi pada perempuan akan meningkat dengan cepat sehingga pada usia 60 ke atas, hipertensi akan lebih banyak dijumpai pada perempuan daripada laki-laki. “Prevalensi hipertensi bisa mencapai sampai 60% pada perempuan di atas 65 tahun.

Hal itu diakibatkan menjadi kakunya pembuluh darah arterial, juga akibat menurunnya hormon estrogen secara tajam,” lanjutnya. Lebih lanjut de. Anna menjelaskan kekurangan estrogen telah terbukti dapat merusak lapisan sel dinding pembuluh darah (endotil). “Keadaan ini dapat memicu terjadinya pembentukan plak disamping mengaktivasi sistem tubuh yang dapat meningkatan tekanan darah,” kuncinya. (Foto: Dok. InaSH)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: