Waspada Epidemi Cacar Monyet

Cacar monyet adalah virus yang mirip dengan cacar yang biasa terjadi pada manusia. Virus ini sebenarnya sudah diberantas pada 1980.
, Majalah Kartini | 14/05/2019 - 10:00

MajalahKartini.co.id – Waspadalah untuk wisatawan yang ingin berlibur di Singapura, pasalnya pemerintah Singapura mengonfirmasi temuan kasus infeksi cacar monyet (Monkeypox).

Foto: Istimewa

Penyakit ini teridentifikasi dibawa oleh warga negara Nigeria berusia 38 tahun. Sebelum ia ke Singapura, ia menghadiri pernikahan di Nigeria dengan mengonsumsi daging hewan liar. Seperti diketahui, virus cacar monyet ini ditularkan dari hewan liar tersebut. Menurut Kementrian Kesehatan Singapura pada Kamis (9/5/19), pasien tersebut kini sedang berada dalam kondisi stabil dan menempati ruang isolasi di National Centre for Infectious Diseases (NCID).

Seperti dilansir Reuters, Minggu (12/5/19), cacar monyet adalah virus yang mirip dengan cacar yang biasa terjadi pada manusia. Virus ini sebenarnya sudah diberantas pada 1980. Dan sebenarnya, virus ini tidak menyebar dengan mudah dari orang ke orang. Tapi dalam kasus yang langka, virus ini dapat berakibat fatal dan ditularkan pada manusia melalui hewan. Utamanya di kawasan Afrika Tengah dan Barat. Umumnya penularan diakibatkan oleh kontak dengan hewan terinfeksi. Misalnya saja tikus atau hewan pengerat lain.

Baca Juga: JT Borofka, Bayi 7 Bulan Penderita Penyakit Langka

Gejala penyakit cacar monyet

Secara umum, gejala penyakit cacar monyet antara lain termasuk demam, nyeri, pembengkakan nodus limfa, dan ruam pada kulit. Penyakit ini juga dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia atau bahkan kematian. Sebelum menunjukkan gejalanya, cacar monyet biasanya diawali dengan periode inkubasi selama 6-16 hari. Infeksinya kemudian bisa dibagi menjadi dua periode:

  1. Periode invasi

Selama 5 hari sejak gejala dimulai, pasien mengalami demam, sakit kepala intens, pembengkakan nodus limfa atau limfadenopati, nyeri punggung, nyeri otot dan kekurangan energi.

  1. Periode erupsi kulit

Periode ini terjadi 1-3 hari setelah demam dimulai. Pada periode inilah, ruam muncul. Mulai dari area wajah dan menyebar ke seluruh tubuh. Pada 95 persen kasus, wajah pasien menjadi bagian yang paling banyak mengalami ruam. Disusul dengan telapak tangan dan kaki (75 persen kasus).

Baca Juga: Kawasaki, Penyakit yang Tak Boleh Diabaikan

Pencegahan penyakit cacar monyet

Sampai saat ini belum ada perawatan atau vaksin khusus untuk menangani cacar monyet. Studi menunjukkan bahwa vaksin variola 85% efektif dalam mencegah cacar monyet. Namun, vaksin ini sudah tidak lagi diproduksi untuk khalayak umum menyusul eradikasi variola global. Oleh sebab itu, cara terbaik untuk menghentikan penyebaran cacar monyet adalah mencegah infeksinya.

WHO menghimbau pihak-pihak yang berwenang untuk meningkatkan kesadaran akan faktor risiko cacar monyet. Diperlukan juga edukasi terhadap cara-cara untuk mengurangi paparan terhadap virus ini. Pemerintah juga dituntut untuk mengidentifikasi kasus baru secepatnya. Ini dilakukan sebagai upaya untuk menghentikan wabah. Untuk masyarakat, pencegahan infeksi cacar monyet adalah dengan mengurangi transmisi hewan ke manusia.

WHO menghimbau agar masyarakat di daerah endemik cacar monyet untuk menghindari kontak dengan primata dan hewan pengerat. Selalu gunakan pakaian pelindung, seperti sarung tangan ketika bersentuhan dengan hewan yang diduga membawa virus cacar monyet. Untuk mencegah penularan antar manusia, hindari kontak fisik dekat dengan orang-orang yang terinfeksi cacar monyet. Selalu gunakan pakaian pelindung ketika merawat mereka dan cuci tangan setelahnya.

 

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: