4 Rekomendasi Buku Tentang Perjuangan Perempuan

Feminisme juga tercatat dalam fiksi. Banyak buku yang menggali posisi perempuan di Indonesia. Berikut rekomendasi buku tentang perjuangan perempuan di Indonesia.
, Majalah Kartini | 25/04/2019 - 14:00

Foto: Istimewa

MajalahKartini.co.id – Perbincangan mengenai perempuan memang tidak akan ada habisnya. Perempuan yang diyakini memiliki kekuatan penuh akan dirinya, merasa telah dicurangi atau mengalami penindasan, khususnya di Indonesia.

Tak jarang, perempuan menjadi objek dalam berkarya pun berkesenian, termasuk cerita di dalam karya fiksi. Bahkan banyak penulis-penulis besar lebih menitikberatkan fokus tulisannya mengenai isu perempuan.

Sebagai ilmu pengetahuan, para penulis menyajikan cerita perempuan dalam tragedi, sejarah dan cinta. Dikemas semenarik mungkin agar perempuan Indonesia dapat membuka mata akan haknya sebagai manusia.

Lantas, buku apa saja dan cerita seperti apa yang menunjukkan perjuangan perempuan dalam mencapai haknya? Berikut 4 rekomendasi buku tentang perjuangan perempuan:

Kuda Terbang Maria Pinto (Linda Christanty)

Foto: Istimewa

Buku Kuda Terbang Maria Pinto karya Linda Christanty merupakan kumpulan cerita pendek (cerpen) berisikan 134 halaman yang diterbitkan pada tahun 2004 oleh KataKita Jakarta. Dalam salah satu cerpen di dalam buku tersebut terdapat salah satu cerpen yang mengutarakan isu gender dan penindasan serta perjuangan perempuan, yakni cerpen yang berjudul “Makan Malam”.

Cerpen tersebut mengisahkan seorang ibu yang ditinggalkan suaminya, meninggalkan seorang anak perempuan yang kritis. Saat tokoh aku (anak perempuan) masih dalam kandungan, sang ibu bercerita bahwa ayahnya kabur ke Moskwa saat mendengar berita kudeta. Dan sang ayah menghilang selama 30 tahun.

Dalam cerita tersebut, dikisahkan perjuangan seorang ibu untuk membesarkan anaknya. Hingga pada hari itu, sang ayah datang ke rumah berbincang tanpa getir. Ia ingin minta maaf karena telah meninggalkan mereka selama puluhan tahun, dan datang hanya sekadar meminta maaf lantas pergi lagi saat makan malam selesai.

Dari ringkasan sekilas tersebut sudah jelas bahwa Linda Christanty dalam bukunya ini mengisahkan perjuangan dan ketertindasan perempuan di negara patriarki. Buku ini sangat direkomendasikan untuk melihat kondisi perempuan di Indonesia melalui karya fiksi.

Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer)

Foto: Istimewa

Roman fenomenal karya Pramoedya Ananta Toer (Pram) ini mengisahkan tentang pergulatan batin Nyai Ontosoroh atas ketertindsan di zaman kolonial belanda. Haknya tidak didengarkan meskipun ia mengerti tentang hukum dan adat Eropa dibanding orang totok (campuran Indo-eropa), kisah cinta yang pedih antara Minke (tokoh utama) dengan Annelies (anak Nyai Ontosoroh).

Tekanan dari nama yang menempel pada Nyai Ontosoroh, juga berarti negatif. Karena kata “Nyai” mengandung arti “simpanan orang Eropa (Belanda pada waktu itu)”

Pram mengisahkan peristiwa sejarah itu ke dalam bentuk fiksi. Sempat dilarang pada Orde Baru penyebaran bukunya. Dengan lugas Pram menarasikan penindasan terhadap intelektual yang perempuan miliki pada zaman itu.

Di mana Nyai Ontosoroh dicurangi di depan persidangan dengan menyelewengkan ketaatan hukum yang berlaku. Di situ digambarkan bagaimana rupa perilaku perempuan Indonesia pada zaman penjajahan Belanda.

Sri Sumarah (Umar Kayam)

Foto: Istimewa

Kisah yang dilatarbelakangi masa Orde Baru ini menceritakan tentang perjuangan sang ibu (Sri Sumarah) yang bergulat dengan batinnya tatkala anak perempuannya, Ginuk, yang hamil di luar nikah oleh seorang mahasiswa sekaligus demonstran garda depan. Cerita ini berhasil disuguhkan dengan pas oleh Umar Kayam dengan ciri khas ke-Jawa-an nya.

Konflik dimulai saat zaman menggerus budaya yang dulu dipegang Sri Sumarah. Zaman yang berubah dimaklumi Sri Sumarah, ia menderita oleh zaman, seolah budaya “sungkem” sudah tidak ada lagi.

Hal yang menarik adalah, profesi Sri Sumarah adalah sebagai tukang pijat. Menurutnya di zaman modern tutur sapa yang lembut masih sangat dihormati. Dengan sabar ia memijat pelanggannya hingga ia bisa memijat orang yang paling berpengaruh di kotanya.

Sri Sumarah harus menanggung hidupnya dengan kesabaran menanti anaknya kembali pulang sebab melarikan diri dari kejaran tentara yang mengincarnya dan suaminya.

Drupadi (Seno Gumira Ajidarma)

Foto: Istimewa

Drupadi  adalah sosok perempuan dalam kisah Mahabarata. Penulis buku Drupadi, yakni Seno Gumira Ajidarma berhasil menyuguhkan cerita ini menjadi bacaan yang ringan. Ditambah gaya bahasa yang tidak rumit tapi berbobot.

Kisah Drupadi yang menikahi 5 Ksatria membawanya pada kesengsaraan, dihinakan oleh Kurawa. Terhina, terlunta-lunta dan terusir adalah derita yang harus ditanggung Drupadi di dalam masa pengasingan bersama kelima suaminya.

Namun Drupadi tak tinggal diam. Ia melakukan perlawanan melalui kata-kata, doa, dan mantra yang pada akhirnya membawa kemenangan bagi Pandawa.

Drupadi, menggambarkan sosok wanita cerdas, yang dengan kekuatan dan kelembutannya mampu memberi perlawanan atas penghinaan yang dilakukan Kurawa. Sepanjang hidupnya Drupadi ingin memanusia.

Kisah Drupadi dalam buku ini juga menggambarkan bentuk pengabdian Drupadi kepada hidup yang dilakoninya. Perannya sebagai istri dari lima ksatria Pandawa membawa Drupadi kepada kebahagiaan dan kesengsaraan yang tidak terperi. Namun demikian ia tetap bersetia kepada takdir yang telah menentukan jalan kehidupannya.

Baca juga: Masa Emas Buku “Becoming” Memoar Sosok Michelle Obama

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: