Selat Sunda Masih Berpotensi Tsunami, Begini Penjelasan BMKG!

Terdapat tiga sumber yang dapat memicu tsunami di Selat Sunda.
, Majalah Kartini | 13/01/2019 - 10:00

MajalahKartini.co.id – Usai terjadinya tsunami selat sunda pada akhir Desember 2018 lalu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan bahwa Selat Sunda masih menjadi area yang rentan terjadi tsunami. Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhamad Sadly menerangkan sedikitnya terdapat tiga sumber tsunami di Selat Sunda, yakni kompleks Gunung Anak Krakatau (GAK), Zona Graben, dan Zona Megathrust.

Sadly menjelaskan kompleks GAK terdiri dari Gunung Anak Krakatau, Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang. Gunung serta ketiga pulau tersebut tersusun dari batuan yang retak-retak secara sistemik akibat aktivitas vulkano-tektonik. Akibatnya, kompleks tersebut rentan mengalami runtuhan lereng batuan (longsor) ke dalam laut dan berpotensi kembali membangkitkan tsunami.Begitu pun Zona Graben, yang berada di sebelah barat-barat daya kompleks GAK. Ini merupakan zona batuan rentan runtuhan lereng batuan (longsor) dan berpotensi memicu gelombang tsunami. Sementara itu, Zona Megathrust termasuk pula sebagai wilayah yang berpotensi membangkitkan patahan naik pemicu tsunami.

“Atas dasar itulah hingga saat ini BMKG tetap memantau perkembangan kegempaan dan fluktuasi muka air laut di Selat Sunda. BMKG juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai zona bahaya dengan radius 500 meter dari bibir pantai yang elevasi ketinggiannya kurang dari 5 meter,” ujarnya kepada Media (12/1).

Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan pemasangan beberapa alat pantau dilakukan di sejumlah titik di Selat Sunda guna memantau aktivitas kegempaan dan fluktuasi muka air laut. Di antaranya di Pulau Sebesi, Ujung Kulon, dan Labuan. Pulau Sebesi merupakan pulau terdekat dengan kompleks GAK yang saat ini bisa dijangkau untuk pemasangan alat. “Penambahan peralatan tersebut untuk mempercepat pengiriman data hasil pengamatan aktivitas kegempaan dan fluktuasi muka air laut yang terpantau. Dengan begitu, kita memiliki lebih banyak waktu untuk meminimalisir jumlah korban akibat gempa maupun tsunami di wilayah pesisir Selat Sunda,” ujar Dwikorita.

Dwikorita menambahkan, untuk mengantisipasi beredarnya informasi sesat dan bohong mengenai kondisi Selat Sunda, BMKG mengimbau masyarakat melakukan cek dan kroscek informasi melalui kanal-kanal resmi milik BMKG. (*)

Tags: ,

BAGIKAN HALAMAN INI: