Saat Habib Bahar Menolak Minta Maaf dan Presiden Jokowi Diminta Memaafkan

Meski telah ditetapkan sebagai tersangka, Habib Bahar tetap enggan minta maaf atas ceramahnya yang menyebut nama Presiden Joko Widodo.
, Majalah Kartini | 11/12/2018 - 10:00

MajalahKartini.co.id – Terkait dengan kasus ujaran kebencian serta diskriminasi ras dan etnis yang diduga dilakukan Habib Bahar bin Smith dalam video ceramah di depan jamaahnya, kasus ini bergulir terus di Kepolisian. Sebelum berstatus tersangka, Habib Bahar bin Smith menolak meminta maaf kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun kini giliran Presiden Jokowi yang diminta memberikan maaf kepada Habib Bahar.

Sebelum akhirnya ditetapkan sebagai tersangka, Habib Bahar sempat mengomentari pelaporan dirinya ke polisi. Dia mengaku tidak gentar dan mengatakan ceramahnya saat itu terkait dengan adanya aksi 4 November 2016 atau Aksi 411. Dia menilai Jokowi sebagai Presiden RI saat itu tak merespons keresahan umat. “Kalau mereka mendesak saya minta maaf, maka demi Allah saya lebih baik memilih busuk dalam penjara daripada harus minta maaf,” ujar Habib Bahar (1/12).

Selanjutnya, pada Kamis, 6 Desember 2018, Habib Bahar menjalani pemeriksaan di Bareskrim Polri dan ditetapkan sebagai tersangka, tetapi tidak ditahan. “Apa pun saya tetap tanggung jawab, saya nggak ada masalah mau dijadikan tersangka. Ya mau gimana lagi,” kata Habib Bahar (8/12).

Di sisi lain, pengacara Jokowi, Yusril Ihza Mahendra, mengaku sempat membahas penetapan tersangka Habib Bahar pada Jokowi. Pada saat itu, Yusril memberikan saran kepada Jokowi. “Kemarin waktu di Bogor juga saya singgung masalah Habib Bahar itu. Saya katakan, sebagai calon presiden, tentu alangkah Pak Jokowi menunjukkan sikap rahasia dan kasih sayang, walaupun saya juga tidak setuju juga cara ngomong Habib Bahar itu,” cerita Yusril kepada wartawan (10/12).

“Nah, kalau kembali ke Pak Jokowi, saya bilang kan lebih baik diselesaikan di luar cara-cara hukum. Ya dimaafkan saja. Tapi tolong para habib lainnya menasihati, kalau ngasih dakwah, lakukan dengan cara yang baik,” imbuhnya.
Menurut Yusril, Jokowi mendengarkan sarannya itu dengan saksama.

Di lain kesempatan, Presiden Jokowi buka suara seputar tudingan yang kerap menuju padanya akan isu kriminalisasi ulama. Hal tersebut disampaikan saat memberikan pengarahan Temu Relawan Bravo-5 di Hotel Putri Duyung, Ancol, Jakarta Utara (10/12).

“Ini sering larinya ke sini, kriminalisasi ulama. Bagaimana mungkin. Pertama, wakil kita sekarang ini adalah ulama sudah paling atas, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia. Kok isu seperti ini masih berani keluar? Kriminalisasi ulama?” ujar Presiden Jokowi. “Inilah hal yang tidak logis tapi diangkat terus. Rakyat yang di bawah, yang informasinya tidak lengkap, percaya, dan ini bahaya. Tolong ditanya siapa ulama yang kena kriminalisasi? Langsung to the point saja, jelaskan, karena itu memang ada masalah hukum,” imbuhnya tegas. (*)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: