Ricuhnya Pencoblosan Pilpres Indonesia 2019 di Beberapa Negara

Sangat disayangkan pencoblosan di beberapa negara seperti, Malaysia, Singapura, Hongkong, dan Australia, berakhir ricuh.
, Majalah Kartini | 15/04/2019 - 08:00

Foto: Istimewa

MajalahKartini.co.id – Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di luar negeri, hari Minggu lalu telah melaksanakan pencoblosan pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres) 2019. Namun, sangat disayangkan di beberapa negara seperti, Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Australia, pencoblosan berakhir ricuh.

Terdapat beberapa masalah yang menyebabkan kericuhan pencoblosan. Seperti di Malaysia misalnya, WNI yang berada di sana berbondong-bondong menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang berada di Jalan Tun Razak. Pencoblosan berlangsung di hari Minggu (14/4/19) dari pukul 08.00 hingga 18.00 waktu setempat. Selain di KBRI, Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Kuala Lumpur mempersiapkan 255 TPS yang tersebar di 89 lokasi. Lokasi utama berada di kantor KBRI, Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, dan Wisma Duta. Dikarenakan antusiasme WNI di negara tetangga itu cukup tinggi, maka pemilih harus mengantre panjang dan menunggu berjam-jam untuk mencoblos.

Baca Juga: Jelang Pilpres, SD Kudu 01 dan 02 Menjadi Viral

Tak hanya di Malaysia, suasana pelaksanaan pemilu 2019 di KBRI Singapura pun sangat ramai. Meski Tempat Pemungutan Suara (TPS) belum dibuka, WNI di Singapura harus mengantre sekitar 1-2 jam hingga akhirnya bisa mencoblos. Antrean WNI yang hendak nyoblos mengular hingga ke pinggir jalan di luar KBRI Singapura.

TKI di Hong Kong Merasa Dihalangi Nyoblos

Sedangkan di Hong Kong dan Sydney, Australia, WNI yang tinggal di sana harus merasakan pahit. Pasalnya, banyak WNI yang gagal untuk melakukan pencoblosan Pilpres 2019. Misalnya saja para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Hong Kong. Mereka antusias menyalurkan hak suara di Pemilu 2019 pada hari Minggu, (14/4/19). Bahkan, saking semangatnya, antrean ke tempat pemungutan suara sampai membludak. Pemungutan suara sudah dimulai sejak pukul 09.00 dan akan terus dibuka sampai pukul 22.00 waktu setempat. Sementara untuk jumlah DPT di Hong Kong mencapai 188.000.

Foto: Istimewa

Melalui jejaring sosial Twitter, warganet mengunggah rekaman video yang memperlihatkan sejumlah perempuan yang diduga TKI di Hong Kong, yang merasa dihalangi untuk mencoblos. Peristiwa tersebut terjadi di dua lokasi berbeda, yakni Wancahi dan Yuen Long. Beberapa WNI yang berada di sana tergabung dalam komunitas Buruh Migran Indonesia (BMI).

Seorang WNI mengatakan, sebenarnya banyak orang yang hendak mencoblos. Mereka mengantre di luar tapi tidak disuruh masuk. Padahal, kursi di dalam gedung TPSLN  banyak yang kosong. Berulang kali WNI berteriak bahwa banyak kursi TPS yang kosong. Kemudian, seorang WNI lainnya yang baru saja mencoblos dari dalam gedung lokasi TPSLN membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan banyak kursi yang kosong di dalam gedung. Para WNI lainnya juga mengklaim panitia hanya leyeh-leyeh bermain ponsel, padahal banyak yang mengantre di luar.

Foto: (Instagram/septriasaacha)

WNI Australia Menuntut Pemilu Ulang

Sementara itu di Townhall, Sydney, pencoblosan dilakukan pada (13/4/19). Antrean WNI pun sama mengularnya seperti di tempat lain. Proses yang panjang dan PPLN Sydney yang dinilai tidak mumpuni sebagai penyelenggara, menyebabkan antrean tidak bisa berakhir sampai pukul 18.00 petang waktu setempat. Sehingga, ratusan orang yang sudah mengantre sekitar 2 jam tidak dapat melakukan hak dan kewajibannya untuk memilih karena PPLN sengaja menutup TPS tepat jam 18.00 tanpa menghiraukan ratusan pemilih yang mengantre di luar.

Total DPTLN Sydney mencapai 25.381 pemilih, padahal pemungutan suara tersebar di 22 TPSLN dengan rincian 4 TPSLN berlokasi di KJRI Sydney, 5 TPSLN berlokasi di Sydney Town Hall, 3 TPSLN berlokasi di Marrickville Community Centre, 3 TPSLN berlokasi di Yagoona Community, 3 TPSLN berlokasi di Good Luck Plaza, 2 TPSLN berlokasi di Sherwood State School-Brisbane dan 2 TPSLN di Adelaide State Library. Walaupun banyaknya tempat pemungutan suara di Australia, tak membuat para pemilih dapat menggunakan hak suaranya. Bahkan, ratusan WNI di Sydney Australia menuntut pemilu ulang lantaran belum menyalurkan hak pilih tetapi TPS telah ditutup.(*)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: