Ramai-ramai Aborsi Janin Perempuan

Dalam setahun, sebanyak 1400 janin perempuan digugurkan di negara ini.
, Majalah Kartini | 13/01/2017 - 15:23

Ramai-ramai Aborsi Janin Perempuan

MajalahKartini.co.id – Ani Kirakoyosan, 27 tahun, was-was menghadapi USG untuk melihat jenis kelamin janin yang dikandungnya. Dia khawatir bayinya berjenis kelamin perempuan. “Jika perempuan, janin ini harus digugurkan,” kata dia seperti yang dilansir dari The Guardian. Anak pertamanya berjenis kelamin perempuan, dia berharap kali ini laki-laki. Ibu mertuanya sudah mengultimatum dia harus melahirkan bayi laki-laki.

Di budaya Aremania, negara pecahan Uni Soviet, para ibu sering dipaksa melakukan aborsi ketika mengandung bayi perempuan. Keluarga tradisional sangat mendambakan anak laki-laki. Armenia memang merupakan negara tertinggi ketiga di dunia yang menaborsi janin perempuan.

Data dari The United Nations Population Fund menunjukkan bahwa prevelensi anak laki-laki di negara tersebut lebih tinggi dibanding perempuan.Jumlah penduduk di Armenia sendiri saat ini berjumlah 3 juta jiwa. “Dari 114 anak laki-laki banding 100 anak perempuan di tahun 2012,” begitu bunyi data tersebut. Padahal, angka normalnya semestinya 102-106 laki-laki banding 100 bayi perempuan.

Aborsi janin perempuan sering dilakukan di pada anak kedua dan seterusnya. Dalam setahun, sebanyak 1400 janin perempuan digugurkan di negara ini. “Dalam 10-20 tahun yang akan datang, kita akan kekurangan perempuan,” kata perwakilan UNFPA Armenia Garik Hayrapetyan. Ini akan menjadi krisis demografi yang serius.

Hayrapetyan memprediksi Armenia akan kekurangan 100.000 perempuan di tahun 2060 untuk dinikahi. Tentu saja, akan banyak laki-laki menjomblo di masa datang. Kisah Armenia ini mengekor China. Di negara tersebut, keluarga berencana hanya boleh memiliki satu anak. Alhasil, bayi laki-laki yang dipilih karena dianggap sebagai penerus keturunan. Karena krisis bayi perempuan, Pemerintah China akhirnya mencabut pembatasan satu anak bagi warganya. Negara tetangga Armenia, Azerbaijan 53 persen anak-anak yang baru lahir adalah laki-laki. Alasan ternyata sama, ingin mempunyai keturunan laki-laki.

Pakar kependudukan mengatakan tren aborsi janin perempuan di Armenia dan Azerbaijan juga dikarenakan sengketa wilayah Nogorno-Karabakh yang sudah berlangsung sejak tahun 1994. Mereka membutuhkan laki-laki untuk membela diri. Tapi UNFPA membantahnya. Fenomena Armenia dipicu masalah budaya patriarki. Apalahi saat ini mesin pendeteksi janin suda sedemikian canggih sehingga bisa dilihat jenis kelamin sebelum tumbuh membesar.

Menjamurnya Aborsi Ilegal

Aborsi masih menjadi sarana utama kelurga Armenia untuk merencanakan kehamilan. Tindakan ini juga diberikan secara gratis di layanan kesahatan plat merah. Namun pada pertengahan 2016, parlemen Armenia merevisi undang-undang yang mebatasi tindakan aborsi janin perempuan. Salah satunya adalah dokter wajib menanyakan alasan menggugurkan kandungan. Jika tujuannnya untuk menyeleksi jenis kelamin, para medis wajib menolaknya.

Undang-undang ini juga melarang pengguguran kandungan pada janin yang berusia di atas 12 pekan. Kecuali jika membahayakan keselamatan ibu, korban perkosaan, atau seorang ibu tunggal.

Undang-undang ini malah dikecam aktifis perempuan Armenia. Alasan mereka, undang-undang ini justru akan menambah jumlah aborsi janin perempuan secara ilegal yang justru membahayakan sang ibu. Penyebabnya karena Armenia masih sangat patriarkal dan masih mengagunggkan anak laki-laki.

“Pelarangan aborsi resmi justru akan menyebabkan tindakan ilegal,” kata Anush Poghosyan aktifis dari Pusat Sumber Daya Perempuan kepada AFP. Menurut dia, seharusnya pandangan patriarkal masyarakat yang harus diubah, bahwa sejatinya janin laki-laki maupun perempuan mempunyai nilai dan hak yang sama. “Jika perempuan dan laki-laki diberi kesempatan yang sama, mereka akan sama-sama mempunyai potensi untuk sukses dan mandiri secara finansial,” ujar Poghosyan. Dengan demikian, para orang tua tidak akan membedakan anak laki-laki dengan perempuan. (Sundari/Foto: Shutterstock)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: