Praktikkan Sunat Perempuan, Dokter Ini Terancam Dipenjara

Kasus ini diyakini sebagai kasus pertama di AS yang melibatkan dokter.
, Majalah Kartini | 20/04/2017 - 11:07

Praktikkan Sunat Perempuan Dokter Ini Terancam Dipenjara

MajalahKartini.co.id – Jumana Nagarwala, seorang dokter di Kota Detorit, Amerika Serikat dituduh melakukan praktik mutilasi kelamin perempuan atau sunat perempuan. Kasus ini diyakini sebagai kasus pertama di AS yang melibatkan dokter. “Tindakan mengerikan yang dapat dianggap merupakan tindakan kejam terhadap para korban yang lemah”. ujar Jaksa membacakan tuntutannya, awal April 2017, seperti yang dilansir dari BBC.

Jaksa mengatakan Nagarwala telah melakukan praktik sunat terhadap sejumlah perempuan muda berusia 6-12 tahun. Kasus ini diselidiki setelah otoritas hukum di kota itu menerima bukti-bukti yang mengarah kepada dugaan keterlibatan dokter tersebut. Bila terbukti melakukan praktik mutilasi, kelamin perempuan, Nagarwala akan menghadapi ancaman pidana penjara. Mutilasi kelamin perempuan atau sunat perempuan dilarang dipraktikkan di AS sejak 1996.

Nagarwala membantah tudingan tersebut. Tapi jaksa mengatakan terdakw terbukti melakukan sunat kepada sejumlah pasien dari luar negara bagian Michigan yang mendatanginya. “Sunat perempuan merupakan tindakan kekerasan yang sangat brutal terhadap perempuan dan anak perempuan. Ini juga merupakan kejahatan seridu di Amerika Serikat,” kata Jaksa Daniel Lemisch.

Daniel mengatakan praktik seperti ini tidak diterima masyarakat modern. Mereka yang melakukan sunat perempuan terhadap anak di bawah umur akan bertanggung jawab kepada hukum federal. Kasus pertama sunat perempuan di AS terjadi pada tahun 2006. Ketika itu seorang imigran Ethiopia dipenjara 10 tahun, karena terbukti melakukan kekejaman terhadap anak-anak dengan memutilasi kelamin putrinya yang berusia dua tahun dengan gunting.

Pada 2012, pemerintah AS mengatakan lebih dari 500.000 perempuan dan anak perempuan di negara itu telah dimutilasi kelaminnya. Sekitar 200 juta anak perempuan dan perempuan di seluruh dunia menderita akibat praktik sunat perempuan. Menurut PBB, separuh dari angka itu diyakini hidup di Mesir, Etiopia dan Indonesia. (Foto: Shutterstock)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: