Pernikahan Dini Dinilai Picu Kekerasan dalam Rumah Tangga

Selain memiliki risiko dalam kesehatan perempuan, pernikahan dini juga memicu munculnya kekerasan seksual dan pelanggaran hak asasi manusia.
, Majalah Kartini | 08/03/2017 - 10:02

fenomena pernikahan dini di Indonesia

MajalahKartini.co.id –  Salah satu tuntutan Womens March atau peringatan Hari Perempuan Internasional adalah pernikahan anak atau masih di usia dini. Pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan sebelum mempelai berusia 18 tahun. Pernikahan hakikatnya adalah penyatuan 2 insan laki-laki dan perempuan dalam ikatan yang suci, yang mengandung arti sakral dan janji di hadapan Tuhan dalam membina rumah tangga yang baik dan harmonis.

Pernikahan bukan sekadar pesta atau kesenangan sesaat. Hendaknya apabila seseorang sudah berani untuk memutuskan menikah, ia harus siap baik secara mental maupun material. Menurut Psikolog Juliana Murniati, bisa dikatakan pernikahan dini butuh kematangan fisik, emosi, dan psikologi belum berkembang dengan baik. “Seseorang dibawah umur itu masih dalam fase pencarian identitas diri. namun, disisi lain ingin dipandang sebagai orang dewasa yang ingin lepas dari orang tua namun belum waktunya,” jelas psikolog yang juga sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Atmajaya, Jakarta.

Pernikahan tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Perlu kematangan baik dalam psikologi maupun fisik. Itulah kenapa pernikahan dini terlebih dipaksa sebaiknya janganlah terjadi. Selain risiko-risiko diatas, dampak psikologis yang dirasakan juga bisa membebani perempuan tersebut.  Belum lagi bicara kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Dalam semua rumah tangga, kata Juliana, pasti ada konflik.

“Mereka yang menikah di usia normal saja punya potensi problem yang tinggi, apalagi yang menikah di usia lebih muda. Di saat secara emosi dia belum matang. Hal ini memberikan trigger pada pasangan untuk bertindak secara lebih emosional. Sering kali dimulai dari verbal, caci maki, dan sebagainya. Lalu ketika emosi tidak bisa dikelola dan sedemikian tereskalasi, tangan mulai bermain,” terangnya.

Dalam hal ini, perempuan yang sering sekali menjadi korban. “Sulit sekali keluar dari lingkaran KDRT, karena isunya ketergantungan keuangan. Ketika pihak wanita tidak punya otonomi untuk mengelola kebutuhan dirinya, karena itu ia terjebak dalam situasi semacam itu dan nggak berani keluar. Alasannya, lebih sering karena kekhawatiran pada ekonomi. Seorang wanita tidak hanya memikirkan dirinya saja, tapi juga memikirkan anak,” jelas Juliana. (Foto: istimewa)

Tags: , , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: