Puluhan Warga Meninggal akibat Banjir Bandang Jayapura

Banjir ini bermula ketika daerah Sentani pada Sabtu (16/3/19) sekitar pukul 17.00 WIT diguyur hujan. Bencana ini pun kembali menelan banyak korban.
, Majalah Kartini | 20/03/2019 - 14:00

Foto: Istimewa

MajalahKartini.co.idBanjir bandang dan longsor di Sentani, Jayapura, Papua, terjadi sejak Sabtu malam (16/3/19). Banjir diduga karena tingginya intensitas hujan dan botaknya pegunungan Cycloops.

Banjir ini bermula ketika daerah Sentani pada Sabtu (16/3/19) sekitar pukul 17.00 WIT diguyur hujan. Hujan itu membuat longsor di bagian hulu yang materialnya menyumbat sungai hingga membuat air meluap. “Karakteristik banjir bandang yang sering terjadi di Indonesia diawali adanya longsor di bagian hulu kemudian membendung sungai sehingga terjadi badan air atau bendungan alami,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Senin (18/3/19).

Sutopo pun mengatakan, karena volume air terus bertambah, air meluap dan turun ke dataran bawah yang merupakan kawasan permukiman. Banjir yang membawa material kayu dan batu pun menerjang rumah warga. BNPB menduga selain karena tingginya curah hujan, banjir di Sentani disebabkan karena rusaknya ekosistem di Gunung Cycloop, Jayapura, Papua. Kerusakan hutan di sana sudah berlangsung sejak lama.

Baca Juga: Banjir dan Longsor Meningkat, Potret Buruknya Pengelolaan DAS

Daerah pegunungan yang harusnya menjadi hutan sebagai daerah resapan dan penahan longsor malah disulap menjadi ladang dan kebun. Hasilnya, saat hujan deras longsor gampang terjadi. “Kemudian digunakan untuk beberapa kebun, ladang dan sebagainya sehingga kerusakan hutan sudah berlangsung beberapa tahun sebelumnya,” kata Sutopo.

Foto: Istimewa

Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Jayapura, Papua, menelan puluhan korban jiwa. Selain itu, bencana tersebut menyebabkan bangunan dan rumah warga rusak. Berikut ini data korban banjir dan tanah longsor yang disampaikan BNPB per Selasa (19/3/19) siang:

  1. 89 Orang Tewas dan 159 Orang Luka-luka

BNPB mencatat 89 orang meninggal dunia akibat banjir di Sentani, Jayapura, Papua. Selain itu, 159 orang mengalami luka-luka. Dari 89 orang itu, Posko Induk Tanggap Darurat mencatat 82 korban meninggal akibat banjir bandang di Kabupaten Jayapura. Sedangkan 7 korban tewas akibat tanah longsor di Ampera, Kota Jayapura.

  1. 74 Orang Hilang

BNPB pun menjelaskan bahwa ada 74 orang hilang sesuai dengan laporan dari keluarga dan masyarakat. Puluhan orang yang hilang itu terdiri atas 34 dari Kampung Milinik, 20 dari BTN Gajah Mada, 7 dari kompleks Perumahan Inauli, 4 dari Kampung Bambar, 2 dari BTN Bintang Timur, 1 dari Sosial, 1 dari Komba, dan 3 dari Taruna Sosial. Selain itu, 350 rumah, 3 jembatan, 8 unit drainase, 4 jalan, 2 gereja, 1 masjid, 8 sekolah, 104 ruko, dan 1 unit pasar rusak berat.

  1. Jumlah Pengungsi Bertambah

Jumlah korban terus bertambah mengingat luasnya wilayah yang terdampak bencana. Dapur umum, pos pelayanan kesehatan, dan posko sudah didirikan. Namun masih diperlukan beberapa kebutuhan mendesak, seperti MCK, air bersih, makanan, matras, selimut, pakaian layak, genset, peralatan dapur, dan psikososial.

Dikarenakan banyak masyarakat yang memilih tinggal di pengungsian karena trauma dan takut akan adanya banjir bandang susulan. Akibatnya, di beberapa titik pengungsian berjubel pengungsi.

Tercatat ada 6.831 orang pengungsi yang tersebar di 15 titik pengungsian. Pengungsi masih memerlukan bantuan kebutuhan dasar. Sebaran dari 6.831 pengungsi adalah:

  1. BTN Bintang Timur: 600 orang.
  2. BTN Gajah Mada: 1.450 orang.
  3. Doyo Baru: 203 orang.
  4. Panti jompo: 23 orang.
  5. HIS Agus Karitji: 600 orang.
  6. Siil: 1.000 orang.
  7. Gunung Merah (Posko Induk): 1.391 orang.
  8. Asrama himles: 50 orang.
  9. Kompi D: 108 orang.
  10. Puspenka Hawai: 123 orang.
  11. Yayasan Abdi Nusantara: 900 orang.
  12. Kampung Netar: 43 orang.
  13. Permata Hijau: 120 orang.
  14. Panti Jompo: 23 orang.
  15. Rindam: 220 orang.

Tags: , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: