Peringatan 700 Hari Kasus Novel Baswedan, KPK Gelap dan Diam

KPK gelar aksi protes terhadap kasus Novel Baswedan yang tak kunjung tuntas.
, Majalah Kartini | 14/03/2019 - 09:35
700 Hari

                                                                                   Sumber Foto: Istimewa

MajalahKartini.co.id – 700 hari kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan hingga kini belum menemui titik terang. KPK pun gelar aksi diam dan gelap selama 700 detik (12/3/2019) sebagai upaya agar pemerintah segera mengusut tuntas kasus tersebut.

Aksi diam dan gelap dimulai pukul 19.00 WIB dengan pidato dari Ketua Wadah Pegawai KPK, Yudi Pramono. “Berbagai aksi sudah dilakukan, akhirnya tiba masanya kami menyuarakan suara kalbu kami saat kami diam, diam adalah bahasa tanpa sandiwara, diam adalah bahasa terakhir,” ujar Yudi Purnomo.

Aksi Gelap dan Diam

Setelah pidato, aksi diam dan gelap pun dimulai. Sebagai pengingat, mereka memasang jam di layar dengan hitungan mundur selama 700 detik. Angka 700 detik merupakan simbol peringatan dari 700 hari kasus Novel Baswedan.

Tidak hanya diam, lampu yang berada di area gedung KPK pun dipadamkan sehingga keadaannya gelap. Sebelumnya para pegawai KPK dan para komunitas anti korupsi yang bergabung dalam aksi tersebut telah dibagikan light stick untuk melengkapi kegiatan aksi tersebut.

Setelah kegiatan aksi gelap dan diam selesai, dilanjutkan dengan pembacaan sajak berjudul “Suara” ciptaan aktivis Widji Thukul. Selesai pembacaan sajak, dilakukan doa bersama. Dalam doa itu tersurat harapan mereka agar Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) independen dapat dibentuk, dan kasus Novel Baswedan dapat segera menemui titik terang.

Baca Juga: Kornea Mata Novel Baswedan Belum Ada Pertumbuhan

Kegiatan pun diakhiri dengan teriakan dari Yudi. “700 detik kita diam bukan berarti kita berhenti melawan,” pekik Yudi. Ia menjelaskan aksi diam merupakan bentuk protes karena pelaku penyerangan Novel tak kunjung ditemukan. Padahal, polisi telah berjanji bakal mengungkap teror itu sejak 2 tahun lalu, tepatnya sejak Novel pertama kali disiram air keras.

Wadah pegawai dan koalisi masyarakat merasa semua kritik dan desakan untuk menyelesaikan kasus ini tidak didengar. “Ini protes dari kami kenapa kasus ini masih gelap,” pungkas Yudi. Seperti yang telah diketahui, pada 11 April 2017 lalu, Novel diserang oleh dua orang tak dikenal.(*)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: