Perempuan Harus Capai Target Tekanan Darah

Penderita hipertensi sering tidak mengalami gejala-gejala/keluhan pada hal sudah merusak organ-organ vital. hipertensi sering tidak mengalami gejala-gejala/keluhan pada hal sudah merusak organ-organ vital.
, Majalah Kartini | 01/03/2017 - 08:02

 

Perempuan Harus Capai Target Tekanan Darah

MajalahKartini.co.id – Pada beberapa literatur, seperti The Rotterdam study tercatat bahwa hipertensi adalah faktor yang lebih berperan pada perempuan dibandingkan pada laki-laki. Pada studi Chapman dan Neal tahun 2001 didapati bahwa pengobatan pada hipertensi dapat mengurangi terjadinya gagal jantung hingga 50 perempuan. Maka dari itu, perempuan sebaiknya memperhatikan Target Tekanan Darah (TD) yang harus mereka capai.

“Penderita hipertensi sering tidak mengalami gejala-gejala/keluhan pada hal sudah merusak organ-organ vital sehingga penyakit ini disebut sebagai “The silent killer,” kata dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD- KGH, Wakil Ketua InaSH, ahli ginjal hipertensi pada pertemuan ilmiah “11th Scientific Meeting of InaSH: The Science For Today’s And Tomorrow’s” di Jakarta, Kamis (23/2).

Lebih lanjut memaparkan, terjadinya kerusakan ginjal akibat hipertensi sangat ditentukan oleh tingginya angka tekanan darah sehingga dinding pembuluh darah di ginjal menebal dan kaku yang disebut Nephrosclerosis. “Karena itu pengendalian tekanan darah yang baik hingga mencapai target yang ditentukan dapat menghindari kerusakan ginjal akibat hipertensi atau setidaknya memperlambat perburukan fungsi ginjal sehingga terhindar dari gagal ginjal tahap akhir yang membutuhkan dialisis (Cuci darah),” papar dr. Tunggul.

Terdapat faktor risiko unik pada perempuan yang perlu dipelajari. Masih perlu penelitian tentang pengobatan hipertensi pada perempuan. “Di lain pihak tata kelola/guideline pengobatan hipertensi sama pada perempuan dan laki-laki,” tambahnya. Dr. dr. Yuda Turana, SpS, Ketua InaSH juga menjelaskan, Riskesdas 2013 mencatat secara keseluruhan prevalensi hipertensi di Indonesia adalah sebesar 26,5 persen dengan prevalensi hipertensi pada perempuan 28,8 sedangkan laki-laki 22.8. “Penelitian menunjukkan bahwa perempuan usia di atas 65 tahun pengontrolan tekanan darahnya kurang adekuat dibandingkan dengan pria seusianya,” katanya.

Beberapa faktor yang menyebabkan kondisi ini, lanjut dr. Yuda, yaitu konsentrasi estrogen yang bersirkulasi menurun, meningkatnya indeks massa tubuh, dan kurang agresifnya tatalaksana hipertensi oleh petugas kesehatan. Selain itu pula dapat disebabkan usia harapan hidup lansia perempuan yang lebih lama.

“Hipertensi masih merupakan faktor risiko utama terjadinya stroke. Mereka yang saat mudanya menderita hipertensi tidak terkontrol, maka saat lansia akan berisiko menderita demensia. Risiko  terkena demensia pada perempuan lebih tinggi dibanding pria. Penelitian yang dilakukan di Yogjakarta pada Desember 2015-Januari 2016 menunjukkan bahwa wanita yang terkena stroke kemungkinan mengalami demensia sebanyak 7 kali lipat, dibandingkan dengan pria yang hanya 4 kali lipat,” tutupnya. (Foto: Analisadaily)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: