Penyebab Budaya Literasi Anak Masih Rendah

Persoalan literasi khususnya buku-buku ramah anak masih menjadi PR besar dalam dunia pendidikan.
, Majalah Kartini | 06/06/2017 - 14:07

Penyebab Budaya Literasi Anak Masih Rendah
MajalahKartini.co.id – National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai “kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Definisi ini memaknai Literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Dari definisi ini terkandung makna bahwa definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu.

Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Fakta tersebutlah yang mendasari Diskusi yang bertajuk “Dunia Literasi Kita: Dampaknya bagi Ekonomi Berkeadilan yang digagas oleh Tempo Institute, Senin (5/6) di Gedung Tempo, Jakarta.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Direktur Eksekutif Tempo Mardiyah Chamim ini menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Afi Nihaya Faradisa, seorang siswi asal Banyuwangi yang belakangan tersorot karena tulisan-tulisannya yang menghiasi linimasa sosial media, Sosiolog Imam Prasodjo dan Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan kebudayaan Hilmar Farid.

Baca Juga: Menyoal Tantangan Literasi Anak di Indonesia

Menurut Afi, minat baca anak-anak di Indonesia masih rendah, salah satu penyebabnya adalah kemunculan beraneka jenis gadget. “Banyak orang yang lebih suka melihat gadget untuk bermain sosial media daripada membaca,” ucap gadis yang baru saja lulus dari SMU ini. Afi bercerita pengalamannya di sekolah, literasi yang rendah tak melulu soal kurangnya akses tetapi juga faktor internet dan gadget. “Selain iti suplai dari pemerintah pusan pada buku-buku anak juga masih kurang, kebanyakan hanya buku-buku pelajaran yang tersedia” imbuhnya.

Sementara itu Imam Prasodjo mengatakan bahwa masyarakat kita dewasa ini berada di antara dua dunia, suatu saat masuk offline culture, saat bersamaan masuk online culture lalu tenar dan melakukan kesalahan sedikit maka habislah. Untuk itu diperlukan literasi sejak usia dini pada anak-anak. “Saya memulai membudayakan literasi ke anak-anak saya dan akan saya teruskan ke cucu saya,” ucapnya. (Foto: Ecka Pramita)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: