Penyakit Kardiovaskular Lebih Sering Menyerang Laki-laki

Meski penyakit kardiovaskular dapat menyerang siapapun, namun laki-laki paling berpotensi.
, Majalah Kartini | 17/11/2017 - 18:37

MajalahKartini.co.id – Menurut WHO, penyakit kardiovaskular adalah penyakit yang disebabkan gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah, yang dimaksud dengan penyakit kardiovaskular/ Cardiovascular Disease (CVD) adalah penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskular (otak dan pembuluhnya), penyakit pembuluh darah perifer, penyakit jantung rematik, penyakit jantung bawaan, gagal jantung, aritmia dan penyakit katup, thrombosis vena dalam dan emboli paru.

Penyakit kardiovaskular dapat menyerang siapapun baik laki-laki maupun perempuan tergantung dengan gaya hidup seseorang yakni merokok, kelebihan berat badan, kurang berolahraga, tekanan darah tinggi dan diabetes. Namun, beberapa faktor risiko yang tidak dapat dihindari diantaranya yaitu riwayat penyakit kardiovaskular dalam keluarga, pernah mengalami penyakit aterosklerotik (serangan jantung, angina, stroke, penyakit arteri perifer), gender (penyakit kardiovaskular lebih sering terjadi para laki-laki dibandingkan perempuan hingga usia lanjut, saat kemungkinan terjadinya pada laki-laki dan perempuan menjadi sama), usia lanjut serta etnik (orang Indo-Asia lebih berisiko terkena penyakit kardiovaskular).

Wakil Sekjen PERKI, dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, SpJP(K), FIHA mengemukakan terdapat banyak sekali kemajuan yang telah kita capai dalam bidang kardiovaskular di Indonesia, baik dalam bidang terapetik, diagnostik maupun preventif, salah satunya adalah intervensi terhadap penyakit jantung bawaan dan mengganti katup tanpa operasi tetapi dengan intervensi non bedah yaitu Transcatheter Aortic Heart Valve (TAVI) dan MITRAL CLIPS yang banyak dilakukan di Indonesia mulai tahun 2015, demikian pula upaya penutupan apendiks atrium untuk mencegah stroke. “Di bidang pengobatan aritmia, kini terdapat pemakaian obat antikoagulan oral baru (OKB) untuk mencegah stroke pada kelainan irama fibrilasi atrium. OKB adalah sebuah lompatan besar terapi antikoagulan yang mencegah timbulnya berbagai risiko, antara lain risiko perdarahan,” lanjutnya.

Ia menambahkan, “semakin berkembang dan majunya teknologi Percutaneus Coronary Intervention (PCI) diharapkan makin mengurangi angka kematian akibat gagal jantung, demikian pula teknologi Cardiac Resynchronization Therapy (CRT), Left Ventricular Assist Device (LVAD) ataupun teknologi intervensi non bedah lainnya yang sangat menolong pasien gagal jantung. Pemasangan pacu jantung pada kasus gangguan irama jantung dan ICD terbukti menurunkan kematian jantung mendadak. “Masih banyak kemajuan-kemajuan lainnya di bidang kardiovaskular. Penting untuk dicatat, SDM atau dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Indonesia terus berupaya mengikuti perkembangan bidang ini dan telah banyak yang mampu dan kompeten,” tutupnya. (Foto: Doc. Pribadi)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: