Penderita Hepatitis Kerap Alami Diskriminasi di Tempat Kerja

Dari sekian banyak jenis virus hepatitis, yang sering menyebabkan hepatitis kronis adalah hepatitis B dan C.
, Majalah Kartini | 02/10/2017 - 09:02

MajalahKartini.co.id – Penderita hepatitis B dan C kerap menerima diskriminasi di tempat kerja. Cukup banyak yang tidak diterima bekerja, tidak bisa naik pangkat, atau tidak diterima menjadi pegawai tetap bila hasil skrining menunjukkan hepatitis B atau C positif. “Dalam satu tahun, rerata bisa ada sepuluh keluhan diskriminasi di tempat kerja,” ujar Marzuita dari Komunitas Peduli Hepatitis (KPH), dalam diskusi yang diselenggarakan Forum Ngobras di Jakarta, Jumat (29/9).

Lebih lanjut perempuan yang akrab disapa bu Ita ini mengataka n masih begitu banyak stigma negatif di masyarakat untuk hepatitis B atau C. Kedua penyakit ini masih dianggap sebagai aib atau hal yang menakutkan. “Banyak yang keluarganya merasa takut dikucilkan, karena takut dianggap sebagai sumber penularan penyakit,” tuturnya. Ia bahkan pernah menerima surat salah satu SMA di Bogor mengenai persyaratan penerimaan, yang menyatakan bahwa calon murid harus bebas dari HIV/AIDS dan hepatitis.

Ketua Komisi Ahli Hepatitis dari Kementrian Kesehatan Dr. dr. Rino A. Gani, Sp.PD-KGEH menjelaskan, perlu waktu 20 – 30 tahun untuk jadi sirosis, di mana hati mengecil, keras dan fungsinya menurun, hingga akhirnya bisa timbul kanker hati. Sirosis muncul akibat peradangan yang terjadi terus menerus. “Peradangan terjadi karena tubuh tidak mampu menghilangkan infeksi secara tuntas,” terangnya.

Meski begitu, menurut Dr. dr. Rino, tidak semua infeksi hepatitis menimbulkan keluhan dan menjadi kronis. Dari sekian banyak jenis virus hepatitis, yang sering menyebabkan hepatitis kronis adalah hepatitis B dan C. itupun, hanya sekitar 30-40% yang berlanjut jadi kronis dan menimbulkan gangguan seperti sirosis.

Banyak penderita hepatitis B dan C yang mampu beraktivitas seperti biasa. Penularannya pun tidak semudah itu, harus melalui kontak darah. Misalnya melalui transfusi darah, jarum suntik, tato dan lain-lain. Jadi, stigma negatif di masyarakat dan lingkungan kerja terhadap penderita hepatitis B dan C tidak beralasan.

“Memang kalau untuk di bidang medis harus ada pertimbangan karena mereka berhubungan langsung dengan pasien. Tapi kalau untuk yang non medis, apalagi yang kerja kantoran di balik meja, apa masalahnya?” tegas Rino.

Ditambahkan Dr. dr. Kasyunil Kamal, M.S, Sp.OK dari PERDOKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Okupasi), skrining hepatitis B dengan HBsAg bukanlah parameter yang harus dilakukan saat rekruitmen. “Sudah ada Surat Edaran dari Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan ketenagakerjaan tahun 1997 Peniadaan hepatitis B dalam pemeriksaan kesehatan tenaga kerja,” ucapnya.

Pemeriksaan hepatitis diperlukan hanya untuk jenis pekerjaan tertentu seperti bidang medis atau pengolahan makanan. Bila hasilnya positif, bisa dilanjutkan dengan pemeriksaan fungsi hati misalnya dengan SGOT/SGPT, untuk orang yag akan bekerja di tempat berat atau perlu berpaparan dengan bahan kimia, karena akan memperberat kerusakan hatinya. Namun, skrining maupun pemeriksaan fungsi hati tidak diperluan untuk semua jenis pekerjaan.

“Apalagi untuk pekerjaan kantoran, harusnya tidak perlu pemeriksaan HBsAg. Kenapa ada perusahaan yang masih melakukannya, entah dimulai dari mana. Saya rasa itu berlebihan, mereka sendiri tidak tahu apa fungsinya,” tutur Dr. dr. Kasyunil.

Ia melanjutkan, selama tidak ada peradangan, penderita hepatitis masih dapat bekerja seperti biasa. Yang penting, kesehatan mereka harus selalu dimonitor dan dilakukan antisipasi semisal ada hal-hal yang bisa memberatkan penyakit. “Bukannya dipecat,” tegas Dr. dr. Kasyunil.

Lebih jauh Kasyunil menegaskan bahwa ini tidak hanya berlaku untuk penyakit hepatitis saja, melainkan juga penyakit kronis lain seperti penyakit jantung, diabetes, hipertensi, dan lainnya. Alasan diterima atau tidaknya harus dengan alasan kuat. “Misalnya pekerjaan tersebut akan memperberat penyakit, bisa menularkan ke teman-teman, atau mengimbulkan risiko keselamatan kerja bagi lingkungan kerja maupun masyarakat. Tidak sesederhana itu tidak diterima,” imbuhnya.

Untuk diketahui bahwa HBsAg adalah protein virus. Artinya jika hasilnya positif, menunjukkan ada virus hepatitis B di tubuh. Namun indikator positif itu tidak menunjukkan semata-mata seseorang sakit karena protein yang diproduksi virus banyak sekali.

“Jadi meskipun virusnya dorman atau tidak aktif, tetap saja HbsAg-nya positif atau reaktif,” jelas Rino. Jika memang perusahaan ragu dengan performa calon karyawan dengan HbsAg positif, dianjurkan untuk pemeriksaan lebih lanjut, misalnya enzim hatinya (GOT/SGPT) yang menunjukkan adanya peradangan hati yang aktif.

Pengobatan Hepatitis
Tidak semua hepatitis B perlu diobati. “Yang tidak perlu diobati hanya perlu monitoring secara berkala, tergantung dari tingkat kerusakan hatinya,” jelas Dr. dr. Rino. Untuk yang perlu diobati, memang belum ada obat yang bisa menghilangkan virus, tapi sudah ada obat yang bisa mencegah perburukan penyakit hati.

Obat untuk menekan virus mungkin perlu diminum dalam jangka panjang atau bahkan seumur hidup, “Tapi bukan hanya hepatitis B yang minum obat seumur hidup. Hipertensi, diabetes atau kolesterol pun demikian”.

Untuk hepatitis C, sudah ditemukan obat DAA (direct-acting antiviral) yang bisa menghilangkan virus dengan angka keberhasilan hingga 98%. “Jadi, apa yang ditakutkan? Yang jadi masalah adalah bila tidak ketahuan, sehingga tidak diobati dan penyakit jadi memburuk. Tapi kalau ketahuan, bisa dikontrol dan diobati,” tegas Dr. dr. Rino.

Hal senada diungkapkan oleh ibu Ita. Almarhum suaminya meninggal dunia akibat sirosis, karena hepatitis C. “Ketiak tahuan mengenai penyakit ini membuat pasien telat berobat dan sekeluarga jadi panik,” ucapnya. Bila ada anggota keluarga yang kena hepatitis B atau C, maka langkah yang perlu dilakukan yakni melakukan skrining pada seluruh anggota keluarga. Ini membuat penyakit bisa diketahui lebih awal. “Semakin awal diketahui akan semakin mudah disembuhkan. Tidak ada yang tidak mungkin,” tandasnya.

Yang perlu diperhatikan yakni hepatitis kronis yang disertai dengan penyakit lain. Misalnya hepatitis dengan penyakit ginjal kronis (PGK). Pada pasien hepatitis yang mengalami gangguan ginjal, DAA yang umum seperti sofosbuvir tidak boleh digunakan, karena obat ini dimetabolisme di ginjal. Pada kondisi ini, perlu obat khusus (elbasvir/grazoprevir), yang tidak memperberat fungsi ginjal. Obat ini masih dalam proses registrasi di BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). “Seharusnya bulan Desember ini sudah ada izin edarnya,” ujar Dr. dr. Rino.

Sedangkan untuk menghilangkan diskriminasi pekerja dengan hepatitis, baik Rino maupun Kasyunil sepakat agar dibuat sebuah peraturan atau perundang-undangan, minimal keputusan bersama antara menteri Tenaga Kerja dan Menteri Kesehatan, agar penderita hepatitis mendapatkan hal yang sama di tempat kerja. Dengan demikian tidak ada lagi stigma negatif pada penyandang hepatitis.(Foto : Forum Ngobras)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: