Pembinaan PAUD Fokus pada Pembelajaran Berbasis Bermain

Saat ini terdapat sekitar 190 ribu lembaga PAUD, sekitar 600 ribu guru dan pendidik PAUD serta sekitar enam juta anak yang dilayani semuanya berbasis masyarakat.
, Majalah Kartini | 30/08/2017 - 14:04

MajalahKartini.co.id – Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Harris Iskandar mengatakan saat ini pemerintah telah melaksanakan gerakan nacional PAUD berkualitas untuk mendorong setiap anak usia dini mengikuti PAUD satu tahun pra-sekolah dasar. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung terwujudnya wajib belajar 9 tahun berkualitas karena sejak usia dini anak-anak Indonesia mempunyai kesiapan belajar dan bersekolah. Saat ini APK PAUD telah menunjukkan persentase yang cukup baik yaitu 72,35 persen, walaupun masih ada yang di bawah rata-rata APK Nasional.

Semua pihak mulai menyadari bahwa PAUD yang holistik dan integratif dengan kualitas yang baik secara universal adalah suatu investasi pembangunan manusia yang secara manusiawi turut mengentaskan kemiskinan, mewujudkan kesehatan, kesejahteraan, dan meningkatkan martabat anak Indonesia. “Walau demikian masih banyak anak-anak yang belum dilayani oleh karena itu, sesuai dengan nawacita membangun dari pinggiran, pemerintah Indonesia membantu masyarakat desa di daerah terdepan, perbatasan dan pedalaman untuk menginisiasi terbentuknya PAUD baru,” ujar Harris.

Direktur Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini, Ella Yulaelawati menambahkan dalam pengembangan pembinaan PAUD saat ini pihaknya tengah fokus mengembangkan model pembelajaran berbasis bermain. “Pembelajaran di kelas selama ini lebih sering menggunakan strategi pembelajaran konvensional, dimana dalam strategi ini pembelajaran lebih difokuskan pada aspek hasil, secara individu, dan bersifat kompetitif. Ini sangat tidak pas dikembangkan di PAUD,” ujar Ella yang juga pakar kurikulum.

Dikatakan, pembelajaran berbasis permainan lebih memberikan kesempatan murid untuk lebih terlihat dalam belajar secara kelompok, berinteraksi dengan teman, lingkungan dan guru. Karena dalam pembelajaran ini murid harus mendapat kesempatan untuk saling bercerita, bertukar pikiran, berbagi pendapat, ide, saling bertanya, dan sambil bermain dalam proses pembelajaran. Saat ini pihaknya telah menerbitkan sejumlah buku cerita, CD musik dan lagu serta sejumlah sarana multimedia yang memudahkan guru untuk mengembangkan model pembelajaran sambil bermain di PAUD.

“Malah kami telah menerbitan buku cerita berbahasa ibu yang diterjemahkan ke 70 bahasa daerah di Indonesia. Diharapkan buku cerita berbahasa ibu ini dapat memberikan dampak positif dan mampu memberikan kesempatan kepada anak-anak yang memiliki kecerdasan linguistik (bahasa) untuk menyampaikan cerita dengan cara unik, asyik, dan menyenangkan. Terlebih yang diceritakan adalah cerita yang sudah sangat dekat kehidupan anak-anak. Kami mengemas buku cerita tersebut dengan kemasan menarik, bergambar, dan berukuran besar dibanding buku cerita lain,” ujar Ella. (Foto: JIBI Solopos)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: