Pemberdayaan Ekonomi Dimulai dari Ketahanan Keluarga

Di akhir tahun, program Pengabdian Kepada Masyarakat antar Perguruan Tinggi sepakat dorong pemberdayaan ekonomi berbasis ketahanan keluarga.
, Majalah Kartini | 30/12/2017 - 14:03

MajalahKartini.co.id – Keterlibatan sejumlah universitas dalam program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bukanlah yang pertama kalinya. Sejarah membuktikan bahwa dalam universitas memiliki peranan penting dalam penanganan masalah bangsa sejak masa kemerdekaan. Civitas akademika aktif bekerja bersama masyarakat untuk proses perbaikan.

Hal tersebut sejalan dengan tujuan Renstra Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi 2015-2019 Nomor 3, yaitu ketersediaan Pendidikan Tinggi Indonesia yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional sehingga berkontribusi secara nyata kepada peningkatan daya saing bangsa. Un-iversitas dengan Tri Darma Perguruan Tinggi-nya, memiliki kewajuban untukme-laksanakan PKM secara berkesinambungan.

Sejatinya kegiatan PKM bagi kalan-gan akademisi adalah kegiatan impelementasi hasil-hasil kerja akademis kepada masyarakat dalam cakupan yang lebih luas. Cakupan tersebut meliputi masyarakat umum, industri, komunitas serta pemerintah meliputi eksekutif dan legislatif.

Urgensi Pengabdian Kepada Masyarakat yang dilakukan oleh akademisi tidak hanya dari seberapa besar kegiatan riset dan publikasi yang dihasilkan. Na-mun juga bagaimana impact keberadaan perguruan tinggi dapat merubah perilaku dan kesejahteraan masyarakat melalui peran pembangunan masyarakat. Pengab-dian masyarakat ini dibangun berdasarkan beberapa kriteria tolak ukur keberhasi-lan, yaitu dengan adanya keberlanjutan program (sustainability), dan program multidisiplin (Agustino Sulys: 2012).

Bersandar pada teori tersebutlah yang kemudian menggugah para pegiat PKM melakukan join committee untuk “blusu-kan” mengamati dan melakukan coaching di Kab. Tanara khususnya Kampung Bom mengingat area tersebut sangat luas dan sulit dilakukan apabila tidak dila-kukan secara paralel.

Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat melalui kegiatan ekonomi memiliki peran dalam membentuk kepribadian, watak, moral dan etika masing-masing keluarga sebagai pembentuk masyarakat. Pengabdian masyarakat melalui Pemberdayaan Ketahanan Ekonomi Keluarga merupakan suatu proses kegiatan agar keluarga mampu melakukan kegiatan ekonomi (bekerja atau beru-saha) untuk mencapai kesejahteraan keluarga.

Kegiatan ini didasari oleh Undang-Undang Nomor 10 tahun 1992 Bab I yaitu tujuan akhir gerakan Keluarga Beren-cana (KB) bukan hanya keluarga kecil, tetapi juga keluarga sejahtera, yang men-cakup ekonomi keluarga. Pemberdayaan ketahanan ekonomi keluarga diharapkan dapat meningkatkan partisipasi keluarga dalam pemberdayaan ekonomi, mening

katkan komitmen stakeholder dan mitra kerja dalam pengelolaan dan program pemberdayaan ekonomi keluarga. Kaum Ibu pun dituntut untuk mandiri dalam mencapai target perekonomian keluarga, mengingat tidak menentunya pendapatan yang diperoleh oleh kepala keluarga yang mayoritas sebagai nelayan, buruh dan petani.

Sebagaimana diketahui, produksi hasil laut di pesisir utara Banten sangat melimpah. Karena itu, kebutuhan akan pengelolaan hasil laut sangat bersifat urgen. Panitia mencoba meramu menjadi Kelompok Usaha Bersama berbasis Syariah dengan kegiatan yang bermanfaat, berupa pengelolaan hasil laut menjadi produk konsumsi yang inovatif.

Dalam program pelatihan pengelolaan hasil laut ini panitia mendemonstrasikan hasil laut menjadi produk inovatif. Misalnya, ikan bandeng yang selama ini hanya dijual kepada tengkulak diolah menjadi nugget, burger bahkan untuk topping pizza. P

ihak Sekolah Tinggi Ilmu Fiqih Annawawi Tanara selaku tuan rumah mengundang warga sekitar untuk mengikuti pelatihan ini. Alhasil antusiasme warga sangat tinggi dan direspon baik oleh Camat setempat. Selain membangun kegiatan usaha ekonomi produktif warga, seluruh kegiatan tersebut menggunakan pendekatan partisipatif, yakni menempatkan warga sebagai objek sekaligus subjek program.

Tanara sebagai daerah perbatasan antara Kab. Tangerang dan Kab. Serang memiliki potensi terjadinya kekerasan terhadap anak. Baik kekerasan verbal mau-pun non verbal. Panitia bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak – Indonesia Kab. Tangerang untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan.

Menurut Agus Fachrudin Hidayat selaku fungsionaris LPAI Kab. Tangerang bahwa pence-gahan terhadap kekerasan dapat diantisipasi dengan kegiatan-kegiatan bermana-faat seperti olahraga, penyaluran minat dan bakat, ketersediaan sarana dan prasarana serta terbentuknya Children Center sebagai tempat pengaduan yang aman bagi anak-anak.

Oleh karena itu pihak perguruan tinggi ikut memberikan pelatihan, pembinaan dan konseling yang bersifat continue. Sebagaimana kita ketahui bahwa perlindungan terdekat perempuan dan anak ialah keluarga, saudara sekitar dan lingkungan tempat tinggal.

Maka untuk itu dibutuhkan keluarga memahami dan mengenal lingkungan sekitar. Alhasil seminar, pelatihan dan konseling yang diadakan pada tanggal 16-18 Desember ini pun berhasil mengundang antusiasme warga sekitar.

Acara yang digelar selama tiga hari ini berupa Seminar (hari pertama), Cooking Class (hari ke-2), Konseling (Hari ke-2), kunjungan ke pabrik terasi Nur-jen (Hari ke-2), dan pelatihan pengemasan produk ikan asin di hari ketiga. Adapun yang menjadi kendala dalam hal ini adalah rusaknya infrastruktur yang menyebabkan akses menjadi terhambat sehingga harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Panitia terdiri dari ILUNI Kajian Timur Tengah dan Islam UI, Program Ma-gister Manjemen (MM) Universitas Yarsi, Universitas Pamulang (UNPAM), STIE IBS (Indonesia Banking School), UNISMA Bekasi, UAI (Universitas Al Azhar Indonesia, FEI Universitas Djuanda, STAIZA, Sekolah Tinggi Ilmu Fiqih Syech Nawawi Tanara (STIF Syentra), STIE SEBI, President University dan LPAI (Lembaga Perlindungan Anak Indonesia) Kab. Tangerang.

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: