Orangutan “Hope” Masih Punya Harapan setelah 74 Peluru Bersarang Di Tubuhnya

Sebagai manusia yang mempunyai 97% DNA yang sama dengan orang utan, seharusnya kita sebagai makhluk yang berpikir dan memiliki perasaan bisa lebih menjadikan mereka salah satu kerabat terdekat kita. Bukan menghancurkan kehidupannya.
, Majalah Kartini | 20/03/2019 - 12:00

Foto: Dok. YEL dan SOCP

MajalahKartini.co.id – Kasus penembakan terhadap orang utan, berlangsung sudah mendekati satu dekade. Hati nurani manusia tiada habis-habisnya merenggut kehidupan makhluk hidup lainnya. Bermula dari perampasan habitat dan menyingkirkan makhluk hidup di dalamnya.

Kasus yang sedang hangat kali ini adalah masih pada hutan yang tergerus menjadi hutan kelap sawit. Habitat makhluk hidup yang berada di tempat tersebut berangsur hilang dan punah. Perlakuan keji manusia kembali terjadi di tahun ini, yaitu penembakan orang utan menggunakan senapan angin kembali terjadi di wilayah Pulau Sumatera.

Terjadi di perkebunan kelapa sawit Desa Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh. Pada hari Minggu (10/3/19) ditemukan dan dievakuasi dua orang utan yang sekarat.

Foto: Dok. Sutopo Purwo Nugroho

Menurut keterangan Sapto Aji Prabowo, Ketua Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, bahwa dari hasil pemeriksaan dengan menggunakan sensor x-ray, banyak peluru yang tersebar di dalam tubuh orang utan tersebut. Serta bagian matanya sudah mengecil berwarna putih susu, kerusakan terjadi selama lebih dari 2 atau 3 bulan sebelumnya akibat infeksi.

Hasil rontgen 74 peluru di dalam tubuh Hope. Foto: Dok. BKSDA Aceh

Kondisi orang utan itu masih belum menemui titik stabil. Untuk itu masih dalam tahap penyembuhan intensif selama 24 jam.

Para aktivis dan sukarelawan menyebut dan memberi nama orang utan itu dengan nama “Hope”. Yang maknanya mengandung harapan untuk terus bertahan dan menjalani hidup yang layak sediakala. Tapi, nyawa anak Hope yang berusia 1 bulan mati di perjalanan ketika menuju pusat rehabilitasi orang utan Sibolangit, Sumatera Utara.

Hewan yang dilindungi itu hanya terdapat di dua wilayah kepulauan Indonesia dan hanya memiliki tiga spesies, yakni di Pulau Kalimantan dan Sumatera, dan satu tahun kemarin ditemukan ada spesies orang utan Tapanuli selain orang utan Sumatera dan Kalimantan.

Dikutip dari greenpeace.org populasi orang utan berkurang 25 ekor setiap hari – Hutan hujan yang menjadi rumah mereka hancur untuk membuka jalan bagi perkebunan kelapa sawit, menempatkan populasi orang utan secara serius di bawah ancaman.

Hope kini masih mempunyai harapan. Para sukarelawan dan aktivis membantu penuh dalam segi penanganan. Tindakan operasi segera dilakukan oleh dokter hewan dari Yayasan Ekosistem Lestari melalui program The Sumatran Orangutan Conservation Programme (YEL-SOCP) serta dokter Andreas, spesialis ortopedi dari Swiss, dokter dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara dan Orang utan Information Center (OIC) pun ikut andil dalam bagian penyelamatan.

Tindakan operasi Hope. Foto: Dok YEL-SOCP

“Operasi difokuskan hanya kepada penyambungan tulang patah dan bukan tertuju pada pengangkatan pelurunya, saat ini masih tidak memungkinkan untuk pengangkatan peluru yang tersisa. Karena kondisi yg tidak memungkinkan. Walaupun kondisi Hope sudah membaik dan mengalami peningkatan” ujar Sapto.

Baca juga: Peduli Hutan, Nina Tamam Tak Gunakan Produk Kelapa Sawit

Semoga “Hope” adalah harapan untuk kita berdamai dengan harapan kita sebagai manusia yang penuh harapan.(*)

Tags: , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: