Nadia Murad Raih Nobel Perdamaian Berkat Berbagi Pengalaman Jadi Budak ISIS

Selain menyuarakan pengalaman kelamnya, Nadia juga berkampanye agar tidak ada pihak yang menggunakan pemerkosaan sebagai senjata perang.
, Majalah Kartini | 12/12/2018 - 11:00
 

MajalahKartini.co.id – Nadia Murad Basee Taha adalah seorang aktivis hak asasi manusia Yazidi. Perempuan berkebangsaan Irak ini lahir di Kocho tahun 1993. Putri dari Murad Ismail ini memiliki pengalaman hidup luar biasa. Ia pernah ditangkap oleh milisi ISIS pada tahun 2014. Nadia adalah satu dari sekitar 6.500 perempuan Yazidi yang diperlakukan sebagai “rampasan perang” oleh ISIS. Di tangan milisi ISIS, para perempuan ini dipaksa menjadi budak seks. Banyak di antaranya yang diperkosa beramai-ramai setiap hari.Video propaganda ISIS menunjukkan bagaimana milisi-milisi ISIS memperjual-belikan perempuan-perempuan Yazidi. Selain diperjual-belikan di pasar, banyak juga perempuan Yazidi yang dilelang melalui layanan pesan WhatsApp dan Telegram.

Dari sekitar 6.500 perempuan Yazidi yang disekap oleh milisi ISIS, 3.000 dikembalikan ke keluarga, 1.000 diasuh oleh keluarga atau organisasi, sementara sisanya tak diketahui keberadaannya. Nadia Murad menuai pujian, karena secara terbuka berani membeberkan dan membagikan pengalaman menjadi budak seks ISIS, dengan harapan dunia akan memberikan perhatian yang lebih besar atas nasib komunitas Yazidi.

Berkat keberaniaannya tersebut dan upayanya yang tak pernah lelah berkampanye untuk memastikan tidak ada pihak yang menggunakan pemerkosaan sebagai senjata perang di masa mendatang, maka Nadia Murad diganjar sebuah Nobel Perdamaian.
 
Nadia Murad bersama Denis Mukwege, resmi menerima Hadiah Nobel Perdamaian di Oslo, Norwegia (10/12). Saat menerima Hadiah Nobel Perdamaian, Murad mengatakan lebih dari 6.500 perempuan dari komunitas Yazidi diculik, diperkosa, dan diperjualkan.

“Ini terjadi di abad ke-21, di era globalisasi dan hak asasi manusia,” kata Murad.

Nasib sekitar 3.000 perempuan dan remaja putri dari komunitas Murad yang ditangkap kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) hingga kini tak diketahui.

“Para remaja yang masih belia dijual, dibeli, disekap, dan diperkosa setiap hari. Tak bisa dipahami, bagaimana pemimpin dari 195 negara tidak tergerak untuk membebaskan gadis-gadis ini,” tandas Murad. (*)

 

 

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: