Muntah Darah, Pertanda Apa?

Muntah darah merupakan gejala dari suatu penyakit serius yang terjadi di dalam tubuh.
, Majalah Kartini | 10/01/2019 - 10:00

MajalahKartini.co.id – Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Prof Ari Fahrial Syam menjelaskan muntah darah atau BAB hitam adalah tanda dari perdarahan saluran cerna atas. Penyebabnya bisa macam-macam, antara tukak di lambung dan atau tukak pada usus dua belas jari atau karena pecahnya varises di kerongkongan maupun lambung. Perdarahan lambung juga bisa disebabkan oleh kanker lambung.

“Tukak dan kanker lambung bisa disebabkan oleh kuman Helicobacter pylori” ujar Prof Ari, Senin (7/1).

Pada manusia, infeksi kuman Helicobacter pylori (H.pylori) ini bisa tanpa gejala, atau bisa jadi pasien seperti merasakan sakit maag. WHO sendiri sudah menyatakan bahwa kuman ini sebagai zat karsinogen yang bisa menyebabkan kanker.

Saat ini laporan dari berbagai pusat penelitian termasuk juga dari sentra-sentra pendidikan di Indonesia yang menunjukkan bahwa prevalensi infeksi H.pylori ini memang sudah menurun tetapi tetap harus diwaspadai.

Dalam 3 tahun terakhir sejak Januari 2014 sampai tahun 2017, Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia khususnya Kelompok Studi Helicobacter pylori Indonesia (KSHPI) melakukan penelitian infeksi kuman H pylori ini di 20 RS Indonesia, baik yang mempunyai fasilitas maupun RS yang belum mempunyai fasilitas endoskopi.

Untuk rumah sakit yang belum mempunyai peralatan endoskopi kita membawa sendiri peralatan endoskopi untuk melakukan penelitian tersebut. Penelitian ini bekerja sama dengan peneliti Jepang Prof Yoshio Yamaoka dari Universitas Oita, Jepang. Prof Yamaoka sendiri menjadi guru besar di Universitas Houston USA.

Penelitian Helicobacter pylori ini juga merupakan bagian dari survei endoskopi yang didukung oleh Asia Pacific Society of Digestive Endoscopy (APSDE), organisasi perhimpunan endoskopi saluran cerna Asia Pasifik.

Penelitian di Indonesia  kebetulan diketuai oleh saya sendiri dan melibatkan berbagai peneliti gastroenterologi serta pusat-pusat pelayanan kesehatan di berbagai kota di Indonesia. Sampai sejauh ini hasil penelitian multicentre ini telah menghasilkan 6 publikasi internasional.

“Dari hasil penelitian  kami mendapatkan prevalensi dari kuman H.pylori di Indonesia hanya 22,1 %. Angka ini menunjukan bahwa 1 dari 5 pasien dispepsia (sakit maag) mengalami infeksi H pylori,” kata Prof Ari.

“Suku bangsa dan sumber air minum menjadi faktor risiko terjadi infeksi kuman H pylori. Secara khusus catatan penting dari laporan penelitian ini, bahwa untuk etnis,Batak, Bugis dan Papua mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk menderita infeksi H.pylori ini dari pada etnis lain,” tambah Prof Ari.

Mengingat dampak klinis yang terjadi akibat infeksi ini begitu luas bisa menyebabkan perdarahan lambung sampai menyebabkan kematian.

Sampai sejauh ini pemeriksaan  endoskopi menjadi pilihan untuk mencari penyebab perdarahan sekaligus mendeteksi adanya kuman H.pylori.

Infeksi ini bisa diobati. Pengobatan dapat diberikan dengan memutus kelanjutan perjalanan infeksi ini sebagai penyebab terjadinya kanker lambung di masa datang.  Oleh karena itu diagnosis yang tepat harus ditegakkan agar pengobatan infeksi H.pylori dapat dilakukan secara cepat dan tepat. (*)

Tags: ,

BAGIKAN HALAMAN INI: