Mayoritas Generasi Milenial Tak Tertarik Isu Politik

Temuan “Studi Yogrt 2017” kukuhkan kesesuaian ekosistem digital Yogrt dengan karakter milenial Indonesia
, Majalah Kartini | 03/11/2017 - 21:17

MajalahKartini.co.id – Aplikasi media sosial berbasis lokasi, Yogrt, melalui studi terbarunya mengungkap bahwa hanya sembilan persen milenial akar rumput Indonesia yang memiliki ketertarikan terhadap isu politik. Sementara, dari sisi karakternya, meski terbuka terhadap ide atau pemikiran baru, kalangan muda ini cenderung tak mau mengambil risiko.

Lebih jauh, temuan juga memperlihatkan bahwa kebersamaan menjadi nilai utama yang dijunjung milenial akar rumput Indonesia bukan pencapaian diri, seperti yang kerap direkatkan pada anak-anak muda. Melibatkan sekitar 5.000 pengguna sebagai responden, “Studi Yogrt 2017: Milenial Akar Rumput Indonesia” digagas untuk memahami karakter psikografis dan minat generasi milenial khas Tanah Air sebuah pasar besar yang potensial.

“Peran krusial generasi milenial di setiap sisi kehidupan masyarakat semakin tak bisa dipungkiri – terlebih mereka akan menjadi penerus tanggung jawab generasi sebelumnya, baik bidang sosial, politik, maupun ekonomi. Belum adanya temuan memadai terhadap milenial, terutama di Indonesia, mendorong Yogrt untuk memprakarsai studi ini. Didesain khusus untuk pasar Indonesia, aplikasi Yogrt melalui fitur dan aktivitasnya hadir sebagai platform solusi yang tepat untuk menjangkau kalangan muda khas Tanah Air: milenial akar rumput, yang jumlahnya sangat besar dan belum tersentuh,” ujar Jason Lim, Co-founder Yogrt di Jakarta, Kamis (2/11).

Bila istilah ‘milenial’ merujuk kelompok usia 15-34 tahun yang lekat gawai dan internet, secara lebih spesifik ‘milenial akar rumput’ terkategorikan sebagai milenial berpenghasilan rumah tangga di bawah 5 juta rupiah per bulan. Gambaran jumlah, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencantumkan keseluruhan populasi berusia 15-34 tahun di Indonesia mencapai lebih dari 85 juta jiwa atau lebih dari 32,6% dari total 261,9 juta penduduk.

Penguat lain, berdasarkan riset Boston Consultant Group (BCG), masyarakat Indonesia masih didominasi kelas berpenghasilan di bawah Rp 5 juta per bulan; pada 2012 saja, jumlahnya melebihi 128 juta jiwa dan di 2020 nanti diproyeksikan melebihi 90 persen dari keseluruhan penduduk. Studi Yogrt 2017: Milenial Akar Rumput Indonesia mengombinasikan dua metode survei demografi online, untuk mengetahui minat dilaksanakan pada September 2017, dan “Portrait Values Questionnaire” formulasi psikolog dunia Shalom H. Schwartz, untuk membedah karakter psikografis; diaplikasikan dalam bentuk kuis di aplikasi Yogrt diluncurkan Februari dan September 2017.

Schwartz sendiri dikenal dengan rumusan 10 nilai dasar yang mempengaruhi motivasi individu terdiri atas kekeluargaan/kebersamaan, kesejahteraan, kemandirian, stabilitas, tradisi, keseragaman, hedonisme, stimulasi, pencapaian/prestasi diri dan kekuasaan. Terkait minat, senada dengan perhatian yang rendah terhadap ihwal politik, studi Yogrt mengemukakan hanya 7% milenial akar rumput Indonesia yang tertarik topik literatur atau buku. Sebaliknya, hiburan menjadi bahasan yang paling digemari dengan rincian 45% meminati musik (tertinggi), dan 30% memilih film. Yang menarik, subjek agama ternyata cukup mendapat animo milenial akar rumput Indonesia sebesar 28%.

“Meski demikian, perlu digarisbawahi, minat terhadap agama tampaknya bukan akibat dorongan ideologis, tetapi lebih karena keinginan bersosialisasi. Ini terlihat dari nilai ideologis konservatif yang berada di bawah nilai kekeluargaan/kebersamaan,” jelas Roby Muhamad Ph.D, sosiolog bidang jejaring sosial, dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, sekaligus co-founder Yogrt. Telaah Roby sejalan dengan temuan studi yang memperlihatkan bahwa karakter psikografis milenial akar rumput Indonesia sarat value kekeluargaan/kebersamaan, disusul nilai konservatisme yang mempertahankan tradisi, stabilitas dan keseragaman.

“Milenial akar rumput Indonesia berseberangan dengan kelompok umur serupa di Amerika yang lebih memprioritaskan nilai-nilai individualisme: pencapaian diri dan kekuasaan. Uniknya lagi, mereka pun ternyata berbeda dengan anggapan umum tentang ‘generasi Y’ yang tergolong challenge seeker. Sebaliknya, meski sama-sama terbuka terhadap ide atau pemikiran baru, kalangan muda khas Tanah Air ini cenderung enggan terhadap risiko,“ tambah Roby. Alasannya, hasil studi Yogrt menunjukkan, anutan nilai dasar kemandirian yang cukup tinggi (mempengaruhi kebebasan berpikir dan berperilaku) tidak diimbangi nilai stimulasi seimbang (berimbas pada rendahnya penerimaan atas tantangan dalam hidup).

Sementara, berbicara aktivitas digital kalangan ini, milenial akar rumput Indonesia lebih dominan memanfaatkan internet sebagai sarana berinteraksi sosial (presentase aktif di media sosial dan chatting sama-sama paling tinggi, sebanyak 67%), diikuti mencari informasi/browsing (47%), serta hiburan (41% mendengarkan musik, dan 30% menonton film). Sayangnya, kegiatan berbelanja dan bertransaksi perbankan bergerak/mobile banking masih rendah (masing-masing hanya 15% dan 8%).

Keunikan milenial akar rumput Indonesia tadi, semakin kokoh memposisikan Yogrt sebagai platform media sosial yang jitu. Sebab, mereka membutuhkan sarana yang berbeda dari buatan luar negeri yang diciptakan dan dikembangkan dengan mempertimbangkan karakter psikografis para target pengguna. Teknologi yang diterapkan di dalam aplikasi Yogrt sejalan dengan nilai dasar utama milenial akar rumput Indonesia, yakni kebersamaan.

Yogrt memungkinkan adanya kemudahan dalam menemukan teman baru dan membangun komunitas; lebih mengedepankan kesetaraan di antara penggunanya (egaliter) – bukan berlandas popularitas sehingga menghindarkan elitisme. Tingginya minat berupa aktif di media sosial dan chatting mempertegas pergeseran personalitas ekonomi digital yang tak lagi terbatas pada transaksi tradisional seperti pembelian barang. Ekonomi digital justru dinilai sarat aktivitas berbasis pengalaman dan interaksi sosial yang kini juga telah memiliki nilai moneter.

Yogrt sendiri telah menghadirkan fitur pendukungnya, antara lain Grup, Live Content ataupun Game. Unduhan aplikasi Yogrt yang telah mencapai sekitar 7 juta pengguna, juga adanya lebih dari 40 ribu komunitas bentukan, memberi bukti bahwa milenial akar rumput Indonesia memiliki ketertarikan tinggi terhadap kegiatan ekonomi digital berbasis pengalaman dan interaksi sosial.

Tak berhenti pada inovasi aplikasi, demi melecut ekonomi digital milenial akar rumput Indonesia, saat ini Yogrt tengah membangun sebuah sistem ekosistem yang akan mencakup layanan e-commerce dan e-payment untuk kepraktisan berbelanja dan bertransaksi daring. “Melalui ekosistem ini, Yogrt meyakini bisa meraih pasar lebih luas, terutama milenial akar rumput Indonesia yang belum banyak terjangkau. Hasil ‘Studi Yogrt 2017’ semakin menguatkan kami bahwa Yogrt berada di arah bisnis yang terencana. Kami optimis, target 20 juta pengguna pada 2019 akan tercapai,” ungkap Jason. (Foto: Dok. Pribadi)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: