Masyarakat Lebih Mampu Beli Rokok Daripada Bayar BPJS

Rata-rata kemampuan bayar tagihan BPJS Kesehatan dari peserta sebesar Rp16.000,- sedangkan peserta mampu membeli rokok dengan harga Rp30.891.
, Majalah Kartini | 31/01/2017 - 15:31

Masyarakat Lebih Mampu Beli Rokok Daripada Bayar BPJS

MajalahKartini.co.id – Kepala Grup Litbang, BPJS Kesehatan, Dwi Martiningsih mengungkapkan, hingga 31 Desember 2016 data peserta BPJS sudah mencapai 171,9 juta, dan data penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh tembakau berdasarkan tagihan rumah sakit pada tahun 2015 ternyata penyakit-penyakit tersebut antara lain kanker, jantung, stroke, dll dengan total 7,7 triliun klaim. “Dan tentunya data di tahun 2016 belum masuk semua, jadi belum diketahui berapa totalnya jika di kira-kira dapat melebihi 7,7 triliun,” kata Dwi talkshow pada peluncuran Iklan Layanan Masyarakat “Penyakit yang Diakibatkan Rokok” di Jakarta, Jumat (27/1).

Sementara, penyakit yang berkaitan dengan rokok memang ada penelitian khusus dan, kata Dwi, data yang masuk ke BPJS sesuai data yang dikirim dari rumah sakit sehingga identitas dari pasien sangat terbatas. Ia juga mengatakan, berdasarkan hasil kajian atau penelitian kemampuan membayar dan kemampuan untuk membeli rokok.

Kajian itu dilakukan kepada 1800 mandiri kelas 3 yang menunggak tagihan BPJS Kesehatan dan jelas ini menjadi masalah bagi peserta yang menunggak. “Ini dilakukan di 12 provinsi dan 6 kabupaten/kota. Rata-rata kemampuan bayar dari peserta sebesar Rp16.000,- seharusnya di kelas 3 itu sebesar Rp25.500,- namun setelah dilakukan kroscek, data peserta mampu membeli rokok dengan harga Rp30.891. Jadi peserta BPJS kelas 3 mampu membayar kesehatan hanya Rp16.000,- saja sedangkan membeli rokok mampu hingga Rp30.891,-,” jelasnya.

Negara Indonesia adalah negara yang menjual rokok dengan harga yang murah dengan harga Rp30.000,- saja sudah mendapatkan 1 bungkus rokok. Sedangkan di negara Amerika dan Australia, lanjut Dwi, rokok dijual dengan harga Rp200.000,- an. Pihaknya selalu berupaya untuk terus bersinergi dengan pemerintah untuk menjadikan Indonesia ini menjadi negara yang sehat, agar jangan sampai faktanya anak-anak yang masih kecil sudah menghisap rokok.

“Ini menjadi kerugian juga bagi kita. Keprihatinan kita bersama jika anak-anak usia remaja menganggap merokok itu keren dan hebat jadi mereka ada keinginan untuk mencoba dan pada akhirnya sangat susah untuk melepaskan kebiasaan merokok tersebut,” lanjut Dwi. Lebih lanjut ia bercerita, suatu ketika pernah ada berita bahwa harga rokok akan naik menjadi Rp50.000,- berita ini menjadi sangat heboh di kalangan masyarakat. Tapi, kata dia, sampai sekarang belum terjadi dan ia kembali mengatakan akan merealisasikan jika akhirnya akan menurunkan pengonsumsi rokok. (Foto: Andim)

Tags: ,

BAGIKAN HALAMAN INI: