Masyarakat Diminta Partisipasi Aktif Lakukan Penanggulangan TB

Indonesia memiliki Kasus Tuberkulosis Tertinggi Kedua di Dunia.
, Majalah Kartini | 04/10/2017 - 19:03

 

MajalahKartini.co.id – Kurangnya pemahaman masyarakat terkait gejala Tuberkulosis (TB) dan relevansi terhadap risiko terkena TB, membuat sekitar 676.000 kasus TB belum terdeteksi atau sekitar 60% dari jumlah kasus TB di Indonesia. Kasus Tuberkulosis ini yang membuat Indonesia menjadi negara penyakit TB tertinggi kedua di dunia.

Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (PERDOKI) dari acara symposium ke 11 dengan tema ‘The 11th Indonesian Occupational Medicine Update’, membahas tentang penyakit tuberculosis ini. Yang mana penyakit menular ini dapat terjadi dari satu orang ke-10 sampai 15 orang lain disekitarnya. Setiap tahunnya ditemukan sekitar 1 juta kasus baru dengan angka kematian 100.000 per tahun atau setara dengan 273 orang per hari dari penyakit tuberculosis.

“Dalam upaya penanggulangan TB, pemerintah berusaha menjamin ketersediaan obat. Pemerintah juga memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat untuk menggalakan sosialisasi program ini.,” jelas Kepala Sub Direktorat Tuberkulosis, Dr. Asik Surya MPPM.
Sebagian besar pasien Tuberkulosis berada di kelompok usia produktif (15-55 tahun), sehingga diperlukan komitmen dan upaya massif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap dampak dan upaya pencegahan penularan TB.

“Karena penularan TB adalah lewat udara, semua orang beresiko untuk terkena penyakit TB. Lakukan pencegahan dengan memberikan edukasi yang baik kepada masyarakat bahwa penyakit TB dapat disembuhkan sampai tuntas dan pasien yang sedang menjalani pengobatan TB dapat kembali bekerja,” Jelas Ketua Pokja DOTS dan TB MDR RSUP Persahabatan, Dr. Erlina Burhan MSc. SpP(K).

Penanggulangan penyakit tuberculosis ini memerlukan bantuan dari beberapa pihak, seperti media dan pelaku industri. Menurut Peneliti Pusat KP-MAK Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, Diah Ayu Puspandari Apt. MPh. MBA, media harus berperan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat sehingga masyarakat bisa mempunyai kontrol sosial.

Sedangkan dari pelaku industri seperti Head of HRD Johnson & Johnson Indonesia memaparkan penanganan tuberkulosis dalam industri. “Sudah diatur dalam UU Ketenagakerjaan tentang penanganan TB dalam industri. Dibutuhkan juga edukasi kepada karyawan mengenai penyakit TB dan cara penanganan TB. Pihak HRD juga harus mengerti prosedur pengobatan TB yang tepat, termasuk tidak langsung memecat kayawan yang terdeteksi penyakit TB,” Ujarnya. (Cindy/Foto: Ilustrasi)

Tags: , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: