Masalah Tanpa Solusi Picu Depresi

Stresor disebabkan banyak hal, salah satunya kehilangan orang yang dicintai.
, Majalah Kartini | 03/04/2017 - 07:03

Produktivitas-Pekerjaan-Perempuan-Turun-Karena-Anemia

MajalahKartini.co.id – Masyarakat yang mengikuti arus gaya hidup modern namun tidak bijaksana menyikapinya sehingga dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam masalah dalam kehidupannya. Menurut Dr. Iman Firmansyah, SpKJ, Kepala Rehabilitasi BNN dan Kepala Bidang Hukum dan Etika PDSKJI Jaya, Stresor yang terdapat pada manusia bisa disebabkan oleh banyak hal, mulai dari kehilangan orang yang dicintai, bencana (tanah longsor, tsunami, banjir, kecelakaan), masalah pekerjaan atau bisa juga berupa rangkaian dari pengalaman yang mengganggu dari hari ke hari.

“Masalah-masalah tersebut bila tidak segera mendapat solusi dan semakin lama bertambah dapat menyebabkan gangguan stres, gangguan mood, emosi labil, mudah emosi, agresif hingga sedih berkepanjangan dan semakin lama menjadi gangguan keseimbangan mental atau masalah dengan kejiwaan,” kata dr. Iman dalam presentasinya dalam event Gangguan Bipolar Vs Gaya Hidup Modern di Jakarta, Kamis (30/3).

Gangguan kejiwaan yang berhubungan dengan masalah emosi dan perasaan tersebut kata dia adalah gangguan mood yang dalam istilah medis sering dinamakan gangguan bipolar (GB) . Gangguan bipolar adalah salah satu masalah kejiwaan yang tidak sederhana dan tidak mudah ditegakkan diagnosanya. “Tidak selamanya orang dengan masalah emosi mengalami gangguan bipolar. Masyarakat modern yang banyak hidup tanpa kawan dekat dan menyimpan masalahnya seorang diri dan tidak dapat berbagi perasaan dengan orang lain sehingga berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri,” katanya.

Penyelesaian masalah sendiri ini terkadang membuat masalah baru seperti mencari solusi dengan penyalahgunaan zat yang merupakan masalah dengan kejiwaan dan berhubungan dengan gaya hidup modern. “Masalah penyalahgunaan zat sangat erat berhubungan dengan gangguan bipolar. Penyalahgunaan zat pada Gangguan Bipolar lebih banyak dari Gangguan Jiwa Lainnya,” lanjut dr. Iman.

Dalam bukunya, Strakowski SMI, Biol Psychiatry 2000, menjelaskan prevalensi Gangguan Bipolar dengan penyalahgunaan zat, selama kehidupan sekitar 40%-60%. Prevalensi selama kehidupan penyalahgunaan zat pada Gangguan Bipolar I (61%) dan Gangguan Bipolar II (48%). Penyalahgunaan obat dan alkohol sekitar 44% yang dirawat karena episode manik atau campuran.

Hubungan tersebut dapat dilihat akibat penyalahgunaan zat dapat mengalami
gangguan bipolar karena otak terkena narkoba atau sebaliknya, karena gangguan bipolar akan menyalahgunakan zat atau narkoba untuk menghilangkan manik atau depresinya. “Gangguan bipolar dan gaya hidup modern dapat merusak kehidupan bila tidak diarahkan dengan baik, dapat menghancurkan hubungan dengan pasangan, pekerjaan dan karir seseorang bahkan dapat menyebabkan tindakan mengakhiri hidup bila gangguan atau masalah tersebut dianggap terlalu berat bagi mereka,” lanjutnya.

Ia juga mengatakan, untuk mengatasinya, dapat dilakukan melalui dua cara tergantung dari asesmen masalah yang dimiliki penderita. Pharmakoterapi atau Psikoterapi ataupun keduanya dapat dilakukan bersamaan. Penderita gangguan bipolar harus dapat menyadari gejala-gejala saat gangguan tersebut datang sehingga dapat mengantisipasinya. (Foto: Dok PDSKJI Jaya)

 

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: