Listrik Otak Abnormal Sebabkan Epilepsi

Epilepsi disebabkan adanya aktifitas listrik otak yang abnormal dengan bentuk serangan kejang atau bentuk lain.
, Majalah Kartini | 29/04/2017 - 08:38

epilepsiMajalahKartini.co.id – Dalam rangka memperingati “International Epilepsy Day” Yayasan Epilepsi Indonesia mengadakan acara talkshow pada 22 – 23 April lalu di Mall Neo Soho Jakarta Barat. Talkshow dengan tema “Aspek Psikososial pada Orang Dengan Epilepsi” dan “Mitos dan Fakta Epilepsi” ini dihadiri ODE (Orang Dengan Epilepsi) dari berbagai kalangan.

Dalam acara talkshow ke 2 dengan menghadirkan dr. Astri Budikaryanti, Sp.S, Ketua Kelompok Studi Epilepsi PERDOSSI Jaya. Dalam pemasarannya, ia mengatakan di Indonesia banyak masyarakat masih beranggapan bahwa epilepsi atau sering disebut ayan/sawan bukanlah penyakit tapi karena masuknya roh jahat, kesurupan atau kutukan. Kurang lebih 0,5 1% dari penduduk Indonesia dapat terkena penyakit ini. Epilepsi dapat terjadi pada semua umur dan bukan penyakit menular.

“Ada mitos mengatakan epilepsi dapat menular melalui liur. Sebenarnya ini tidak benar, epilepsi bukanlah penyakit menular sekalipun faktor keturunan. Jika salah satu orangtua epilepsi kemungkinan untuk ditularkan ke anak sangat kecil, umpama jika punya empat anak kemungkinan akan diturunkan pada satu anak saja,” jelas dr. Astri.

Epilepsi adalah adalah salah satu penyakit neurologi menahun akibat aktifitas listrik otak yang abnormal dengan bentuk serangan kejang atau bentuk lain seperti perubahan tingkah laku, kesadaran dan perubahan lain yang hilang timbul baik yang terasa atau terlihat.

Dr. Astri menjelaskan gangguan listrik di otak dapat disebabkan antara lain oleh kerusakan jaringan (mis. tumor), akibat gejala sisa dari suatu penyakit (infeksi, cedera kepala, gangguan pembuluh darah otak, cacat lahir, dsb), dapat juga penyebabnya tidak diketahui atau faktor genetik.

“Epilepsi ada tiga penyebab utamanya yaitu: Faktor keturunan. Hanya sekian persen dari epilepsi yang ditutunkan, tapi kalau diturunkan cepat sembuhnya biasanya setelah dewasa akan sembuh; Disebbkan bermacam penyakit seperti stoke, tumor dan infeksi di otak (tosoplasma, tbc dll). Jadi yang menular bukan epilepsinya justru penyebabnya, meski demikian kemungkinan sembuh cukup besar; ada juga penyebabnya tidak diketahui sama sekali, ini yang butuh terapi lama dan pengobatannya lama karena struktur yang tadinya baik saja menjadi rusak,” jelas Astri.

Lebih lanjut ia menjelaskan, manifestasi serangan berbeda-beda, tergantung pada fungsi otak mana yang terganggu. Epilepsi umum dibedakan menjadi tiga yaitu: Petit Mal (Absence). Gangguan kesadaran secara mendadak. Penderita diam tanpa reaksi (bengong), lalu melanjutkan kegiatannya semula; Grand Mal (tonik klonik). Diawali dengan kehilangan kesadaran kemudian terjadi kejang-kejang, air liur berbusa, dan nafas mengorok; Mioklonik. Terjadi kontraksi singkat dari satu/sekelompok otot. Bervariasi dari yang tidak terlihat sampai sentakan hebat. Mengakibatka misalnya mendadak jatuh atau tiba-tiba melontarkan benda yang sedang dipegang.

Sedangkan epilepsi parsial dibedakan menjadi tiga yaitu: Sederhana (tanpa gangguan kesadaran). Umumnya berupa kejang dan kadang-kadang berupa kesemutan atau rasa kebas pada satu tempat. Berlangsung beberapa menit/jam; Kompleks (disertai gangguan kesadaran). Diawali dengan Parsial sederhana, diikuti rasa seperti bermimpi, daya ingatnya terganggu, halusinasi, atau kosong pikiran. Seringkali diikuti otomatisme, misalnya mengulang-ulang ucapan, melamun atau berlari-lari tanpa tujuan.

Kemudian ada juga Umum Sekunder. Perkembangan dari parsial sederhana atau kompleks menjadi umum.

“Inilah yang harus diperhatikan keluarga atau orang terdekat ODE ini, tiba-tiba kaku bagian tubuh, keluarganya kita tanya bagian mana yang kaku, mereka harus tahu karena saat terjadi bangkitan ODE dan akan terjatuh bisa langsung ditangkap,” terangnya.

Kemudian ia menjelaskan hal yang dapat dilakukan apabila kebetulan Anda berada dekat penderita epilepsi yang sedang mengalami serangan:

1.Hindarkan benturan kepala atau bagian tubuh lainnya dari benda keras, tajam atau panas. Jauhkan la dari tempat/benda berbahaya.

2. Longgarkan bajunya.
Miringkan kepalanya ke samping untuk mencegah lidahnya menutupi jalan pernafasan.

3.Biarkan kejang berlangsung.
Jangan memasukkan benda keras diantara giginya, karena dapat menyebabkan gigi patah. Penderita akan bingung atau mengantuk setelah kejang. Biarkan ia istirahat.

4. Laporkan pada keluarga terdekatnya. Hal ini penting untuk pemberian pengobatan oleh dokter.

5. Bila serangan berulang-ulang dalam waktu singkat atau penderita terluka berat, bawa segera ke dokter atau rumah sakit terdekat.

Epilepsi dapat diobati sehingga serangan dapat dikurangi bahkan dihilangkan. Penderita sebaiknya segera menghubungi dokter dan mengikuti nasehatnya serta secara disiplin minum obat yang diberikan.(Foto : Andim)

Tags: , , , , , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: