Kurang Albumin Saat Hamil Bahaya bagi Janin

Jika kekurangan albumin, tumbuh kembang sang bayi akan mengalami hambatan.
, Majalah Kartini | 23/11/2017 - 13:43

MajalahKartini.co.id – Menurut hasil riset, sebanyak satu hingga dua ibu hamil di Indonesia mengalami kurang darah (kadar HB rendah). Jika ibu hamil terkendala memakan makanan yang bergizi akibat muntah yang berlebihan, maka kebutuhan albuminnya dapat diganti dengan mengkonsumsi suplemen albumin. Dokter juga harus bisa menyiasati agar pasien ibu hamil tetap terpenuhi kebutuhannya.

Menurut DR. dr. Taufik Jamaan SpOG, Ahli Obstetri dan Ginekologi dari RSlA Bunda sangat berbahaya bagi ibu hamil jika tubuhnya kekurangan albumin. “Bayi yang ibunya kekurangan gizi, maka bayinya juga menderita kurang gizi. Akibatnya tumbuh kembang sang bayi akan mengalami hambatan,” katanya pada talk show “Mengenal Manfaat Albumin untuk Kesehatan Tubuh” oleh Prima Medika Laboratories di Freser Place Setia Budi Jakarta, Selasa (21/11).

Kasus lain yang kadang dialami setelah melahirkan ialah menderita kaki dan tangan bengkak. Hal ini juga dapat disebabkan karena kekurangan albumin.

Sedangkan pada orang-orang yang menjalani program kehamilan, kebutuhan albumin juga harus dipenuhi sehingga tidak mengalami edema atau akumulasi cairan di dalam jaringan yang menyebabkan tangan, pergelangan kaki, dan bagian tubuh liainnya membengkak,” papar dr. Taufik. Dari sisi suami, kata dia tidak terlalu berpengaruh tetapi, bagi pasutri yang sedang menjalankan program kehamilan, kesehatan fisik suami juga mempengaruhi kualitas spremanya.

Kadar normal albumin dalam darah mencapai 3,4-5,4 g/dl. Albumin didapat dari hasil metabolisme protein di dalam hati menjadi plasma protein. Bagi orang normal, jika kekurangan albumin (hipoalbumin) akan berdampak pada rasa lemas, tenaga berkurang, dan mudah sakit. Hipoalbumin adalah suatu kondisi dimana kadar albumin rendah atau di bawah nilai normal kadar albumin 3,4 g/dL. “Hipoalbumin disebabkan pasokan asam amino yang tidak memadai dari protein dan absorsi protein yang tidak kuat,” ujarnya.

“Biasanya, hipoalbumin ditemukan pada pasien dengan kondisi medis kronis seperti penderita kanker, luka akibat pembedahan, luka bakar, gagal ginjal, penyakit hati, penyakit saluran cerna kronik, radang atau infeksi, dan diabetes melitus,” sambungnya. (Foto: Andim)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: