Korea Selatan Jadi Negara Tertinggi dengan Angka Bunuh Diri

Meski tercatat sebagai negara maju, kasus bunuh diri di Korea Selatan tertinggi di dunia.
, Majalah Kartini | 09/09/2016 - 15:00

MajalahKartini.co.id – Korea Selatan merupakan negara yang berhasil menduduki peringkat pertama sebagai 10 negara dengan angka bunuh diri tertinggi yaitu mencapai 36,8 diiukti Guyana 34,8 dan Lituania 33,5 dimana angka populasi tersebut per 100.000 populasi.

Korea Selatan, yang sebelumnya hancur karena perang dan tergolong sebagai negara dunia ketiga, muncul sebagai kekuatan ekonomi nomor 10 di dunia, hanya dalam beberapa dekade saja. Namun menurut sejumlah pakar kesehatan jiwa, perkembangan ekonomi yang pesat malah membawa dampak yang buruk.

Bunuh diri merupakan penyebab kematian nomer empat di Korea. Sebuah survei yang melibatkan 30 negara anggota Organisasi bagi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mengungkap, Korea menduduki posisi paling atas, dengan hampir 25 kasus per 100.000 orang. Menurut para ahli kesehatan, ini berarti setiap hari terjadi 33 kasus bunuh diri.

Lantaran tingginya kasus bunuh diri di Korea Selatan, sejumlah peron stasiun kereta api, di Seoul, dibangun pintu kaca yang setinggi langit-langit stasiun. Penghalang ini dibuat, untuk mencegah orang melemparkan diri ke kereta api yang sedang melintas.

Doktor Hong Kang-Eui, psikiater dan Presiden Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri di Korea mengatakan, jumlah kasus bunuh diri di negeri itu merupakan fenomena baru. Dia yakin, pertumbuhan ekonomi yang pesat telah mengubah pandangan warga soal kehidupan. “Sistem nilai budaya sudah menghilang. Dulu ada standar nilai internal yang sangat kuat dalam budaya timur atau budaya Korea. Sekarang malah terlalu materialistis, dan terlalu berorientasi ke prestasi,’ ucapnya.

Menurut Hong, penyebabnya adalah berubahnya struktur keluarga. Sebelum keajaiban ekonomi, biasanya sebuah keluarga terdiri dari beberapa generasi yang berbeda, yang tinggal serumah. Tapi sekarang, sebuah keluarga Korea biasanya terdiri dari 3 atau 4 orang saja.

“Itu berarti sistem pendukung sosial telah berubah. Sebelumnya hubungan keluarga sangat dekat, dan mereka saling menolong dan tergantung satu sama lain. Sekarang mereka lebih indpenden, keluarga-keluarga semakin kecil. Dan kalau suatu hal terjadi, jarang sekali ada dukungan dari orang lain,” urainya. (Foto: ANT FOTO/Muhammad Adimaja)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: