Kisah Pilu di Balik Kain Tenun Motif Sisik Ikan

Kain sarung motif sisik ikan ini digunakan warga dalam rituai adat pada saat terjadi bencana seperti gagal panen, hujan badai dan Iainnya.
, Majalah Kartini | 02/12/2016 - 12:00

MajalahKartini.co.id – Tenun adalah warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai seni yang tinggi. Sama halnya dengan batik, tenun memiliki makna tersendiri. Tenun sisik ikan, salah satu motif tenun yang menyimpan kisah mendalam dari zaman kerajaan

Berikut cerita dari Tenunkoe! Pada zaman dahulu kala, ada seorang raja yang jatuh cinta kepada seorang gadis jelata yang cantik rupawan. Sang Raja menyampaikan niatnya untuk mempersunting gadis tersebut kepada istrinya, Ratu, dengan harapan mendapatkan keturunan anak laki-laki sebagai pewaris tahta. Karena mereka belum dikaruniai putra, sang Ratu dengan berat hati memberikan izin dengan syarat si Gadis harus melahirkan anak laki-laki. Namun, pada kenyataannya, sang Ratu Muda malah melahirkan bayi perempuan pada saat hujan badai.

Hai ini terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya, pada setiap perayaan kelahirannya di malam bulan purnama, si bayi yang belum diberi nama pun sakit dan sekujur tubuhnya dipenuhi luka. Hujan badai melanda seluruh kerajaan sehingga tanaman rakyat gagal panen, bahkan mata air yang selalu menjadi tumpuan hidup rakyat pun berubah rasa menjadi pahit. Rakyat menganggap semua bencana ini terjadi karena kutukan Dewa atas kelahirannya, maka ia diberi nama Gadis Borok.

Rakyat resah karena bencana terus berlangsung. Para pemangku adat pun bermusyawarah dan melakukan ritual agar mendapat petunjuk dari Dewa untuk menangkal bencana ini. Dalam ritual tersebut, Dewa memberikan petunjuk bahwa si Gadis Borok harus menceburkan diri ke dalam danau. Maka si Gadis Borok loncat ke dalam danau dan seketika terjadilah fenomena alam angin puting beliung. Gadis Borok terbebas dari rasa sakit dan borok hilang dari tubuhnya tetapi ia berubah menjadi seekor ikan berkepala manusia.

Saat ia menyadari keadaan dirinya, si Gadis bertubuh ikan menangis meratap pilu. Hati sang Ratu Muda hancur mendengar ratapan buah hatinya tercinta. Sembari bernyanyi duka Iara dan memanjatkan untaian doa, Ratu Muda menyarungkan selembar kain tenun tanpa motif ke kepala si Gadis. Si Gadis menyelam kembali masuk ke dalam danau dan ia berubah seutuhnya menjadi seekor ikan. Sejak saat itu, bencana serupa tidak pernah terjadi lagi.

Dengan hati yang sedih, Ratu Muda kembali ke istana dan memohon izin kepada Raja agar diperbolehkan tidak lagi menjadi istri Raja. ia kembali menjadi rakyat jelata dan belajar menenun seperti nenek moyangnya. Kain tenun panama yang ia hasilkan adalah kain tenun dengan motif sisik ikan untuk mengenang hidup anaknya yang penuh derita dan berubah menjadi seekor ikan. Kain sarung motif sisik ikan ini digunakan warga dalam rituai adat pada saat terjadi bencana seperti gagal panen, hujan badai, dan Iainnya.(Foto: Andim)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: