Kawasaki, Penyakit yang Tak Boleh Diabaikan

Penyakit ini ditandai oleh peradangan pembuluh darah di seluruh tubuh. Meskipun tidak menular, tapi sangat membahayakan.
, Majalah Kartini | 12/04/2019 - 14:00

Foto: iStock

MajalahKartini.co.id – Nofar Fido Abqary (3,5) harus berjuang melawan panyakit langka bernama Kawasaki. Nofar sendiri anak dari pasangan suami istri Doni Ari Efendi dan Fitria. Sebagaimana dikutip dari akun Facebook sang istri, Fitria, Nofar positif divonis menderita penyakit Kawasaki setelah sebelumnya dirawat di RS Jambi selama 7 hari.

“Anak saya berjuang melawan penyakit Kawasaki yang baru kami ketahui pada 30 Maret 2019. Sebelumnya dirawat di RS yang pertama selama 4 hari, tapi belum didiagnosa Kawasaki,” ujar Fitria melalui akun Facebooknya. Fitria juga dalam statusnya menjelaskan, dari hasil pemeriksaan, anaknya harus diberi obat sebanyak 16 vial dengan biaya sekitar Rp 60 juta.

Baca Juga: Kenali Kemungkinan Anak Terkena Penyakit Jantung Bawaan

Tidak Menular Tapi Membahayakan

Menurut dr. Ackni Hartati, SpA, Mkes dari RS Awal Bros Bekasi Timur, mengatakan bahwa, “Penyakit Kawasaki (PK) dikenal juga sebagai mucocutaneous lymph node syndrome, ditemukan oleh Tomisaku Kawasaki tahun 1967 di Jepang sehingga dinamakan penyakit Kawasaki dan angka kejadian di Indonesia diperkirakan 5.000 kasus per tahun.”

Penyakit ini ditandai oleh peradangan pembuluh darah di seluruh tubuh yang menyerang anak-anak di bawah usia 5 tahun. Penyakit Kawasaki pun merupakan penyebab utama penyakit jantung pada anak-anak. Namun, remaja juga bisa diserang, meski ini jarang terjadi. Penyakit Kawasaki didiagnosis tidak menular tetapi membahayakan.

Munculnya gejala penyakit Kawasaki ini dapat dijelaskan menjadi 4 tahapan, yaitu:

  1. Fase Pertama (Fase Akut)

Fase pertama terjadi dalam kurun waktu 1 hingga 2 minggu. Gejalanya berupa demam hingga lebih dari 5 hari; mata memerah tanpa adanya kotoran; juga munculnya ruam merah pada beberapa bagian tubuh. Termasuk kelamin, bibir bengkak disertai dengan pecah-pecah dan kering, lidah membengkak dan berubah warna menjadi merah. Ada pula pembengkakan pada telapak kaki dan tangan, juga pada selaput lendir yang berada di leher.

Pasalnya, gejala awal ini seringkali diabaikan oleh orangtua, karena tampak sama dengan penyakit lainnya, seperti campak, demam, penyakit gondok, atau alergi. Meski begitu, pemberian antibiotik atau antiperik pada anak yang mengidap penyakit Kawasaki tidak akan menurunkan demam, sehingga sebaiknya segera bawa anak ke dokter.

  1. Fase Kedua (Fase Subakut)

Memasuki minggu ke-6, anak menuju fase lanjutan, atau disebut fase subakut. Pada tahapan ini, gejala yang muncul berupa kulit kaki dan tangan mengelupas, terutama pada bagian ujung jari, diare, nyeri pada persendian, muntah, terasa sakit pada bagian abdominal, dan nafsu makan berkurang, bahkan hilang.

Selain itu, jumlah trombosit anak mengalami peningkatan yang cukup signifikan, bahkan hingga lebih dari 1 juta per mikroliter darah atau terjadinya trombositosis dan aneurisma koroner. Apabila masih tetap demam hingga fase ini, kemungkinan terjadinya komplikasi jantung semakin besar. Bahkan bisa berisiko kematian.

  1. Fase Ketiga (Fase Penyembuhan)

Fase ini berarti gejala yang timbul sudah mulai berkurang. Anak akan secara perlahan mengalami penyembuhan, kecuali jika terjadi komplikasi. Biasanya, muncul garis horizontal pada kuku tangan dan kaki yang disebut Beau’s line, karena munculnya penyakit memengaruhi tubuh keseluruhan. Pada fase ini, kemungkinan keabnormalan jantung masih ada.

  1. Fase Kronis

Fase ini terjadi pada pengidap yang mengalami komplikasi jantung dan dapat berlanjut hingga anak tumbuh dewasa. “Dengan perawatan, pasien penyakit Kawasaki mungkin mulai membaik segera setelah perawatan gamma globulin pertama. Jika memiliki indikasi masalah jantung, direkomendasikan tes tindak lanjut untuk memantau kesehatan jantung secara berkala, seringkali pada 6 hingga 8 minggu setelah penyakit dimulai,” tutup dr. Ackni.

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: