Karya Seni #MakanMayit Dinilai Melanggar Norma Kesusilaan

Kemen PPPA menghimbau kepada masyarakat untuk tidak menyebarluaskan kembali karya seni tersebut di media sosial.
, Majalah Kartini | 28/02/2017 - 11:22

Karya Seni #MakanMayit Dinilai Melanggar Norma Kesusilaan

Majalahkartini.co.id – Maraknya perbincangan di media sosial terkait karya seni dari senima muda Indonesia yang mengusung tajuk #makanmayit yang didalangi oleh seniman bernama Natasha Gabriella Tontey ini, menampilkan makanan berbentuk tubuh bayi dan otak bayi yang dibuat dari ASI (Air Susu Ibu) dan juga keringat ketiak bayi. Makanan tersebut lantas di pamerkan di Footurama Jakarta pada bulan Januari 2017 kemarin.

“Hal ini sangat disayangkan, karya seni anak bangsa seharusnya merupakan ekspresi dari kreativitas yang diciptakan dan mengandung unsur keindahan bukan yang justru melanggar norma kesusilaan, kepatutan, dan agama. Negara ini melindungi anak-anak Indonesia sejak mereka masih dalam kandungan. Hal tersebut tidak tercermin dalam karya seni ini,” Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak kata Yohana Yembise saat menanggapi fenomena tersebut.

Disamping itu penggunaan ASI dan keringat ketiak bayi yang dimasukan ke dalam bahan makanan merupakan suatu hal di luar akal sehat dan tidak lazim untuk dilakukan. ASI bukanlah konsumsi bagi orang dewasa. “Penyalahgunaan ASI melalui karya seni yang disebarluaskan melalui pesan visual ini sangat rentan memberikan dampak negatif bagi masyarakat karena sesuatu yang tidak lazim jika digunakan akan menimbulkan protes di masyarakat,” ujar Yohana. “Belum lagi dampak bagi anak-anak kita yang melihat pesan visual ini melalui media sosial. Bukan hal yang mustahil anak-anak akan meniru perilaku tersebut,” lanjutnya.

Baca juga:  Acara ‘Makan Mayit’ oleh Seniman Muda Ini Banjir Protes

Menyikapi fenomena tersebut, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menyebarluaskan kembali karya seni ini di media sosial. Dengan menyebarluaskannya maka kita telah berkontribusi dalam penyebarluasan konten yang negatif bagi anak-anak.

Setiap orang berhak mengembangkan diri dan dijamin dalam pasal 28 c UUD 1945 ayat 1 namun tidak bertentangan dengan norma kepatutan dan nilai-nilai hidup dalam masyarakat. “Kami juga mendesak kepolisian untuk menindaklanjuti kasus ini karena karya seni ini telah melanggar norma kesusilaan, kepatutan, agama dan bila terbukti melanggar UU akan dikenakan Pasal 27 ayat 1 Undang- Undang ITE dan pasal 282 ayat 3 KUHP kesusilaan,” ungkapnya.

Adanya kasus ini memungkinkan munculnya modus penjualan organ tubuh yang termasuk ke dalam bentuk perdagangan orang di Indonesia. Hal ini mengingat sudah banyak kasus serupa terjadi di luar negeri. (Foto: ANT FOTO)

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: