Inilah Tiga Fakta Menarik Seputar Bung Tomo yang Mungkin Belum Anda Ketahui

Sosok Bung Tomo merupakan sosok yang paling mencuat berkaitan dengan pertempuran 1
, Majalah Kartini | 10/11/2018 - 10:10

MajalahKartini.co.id – Peristiwa penting yang menjadi catatan Bangsa Indonesia tidak hanya 17 Agustus 1945, tetapi juga peristiwa perjuangan yang terjadi di Surabaya pada 10 November 1945 sehingga kemudian diperingati menjadi Hari Pahlawan. Menyebut Hari Pahlawan, memori kita tentu langsung teringat dengan sosok pejuang bernama Sutomo atau lebih dikenal dengan Bung Tomo dalam pertempuran di Surabaya melawan pasukan Inggris dan NICA-Belanda. Dalam perang itu, Bung Tomo tampil sebagai orator ulung di depan pengeras suara. Suara dan pekikan takbirnya membakar semangat rakyat untuk berjuang melawan para penjajah.

Berkaitan dengan Bung Tomo, 3 Fakta Menarik ini mungkin belum Anda ketahui:

Tak Tamat sekolah

Bung Tomo yang lahir pada 3 Oktober 1920 di Surabaya, Jawa Timur dibesarkan dalam keluarga kelas menengah. Dia juga keluarga yang sangat menghargai dan menjunjung tinggi pendidikan. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo adalah seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Meski berasal dari keluarga menengah, Bung Tomo tidak berpangku tangan. Dia tetap bekerja keras. Kondisi ini membuatnya terpaksa meninggalkan pendidikan di MULO karena harus melakukan pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan, Bung Tomo dapat menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus. HBS (Hegere Burger School) merupakan pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Masa studi HBS berlangsung dalam 5 tahun atau setara dengan MULO+AMS (SMP+SMA). Kala muda, Bung Tomo aktif dalam organisasi kepanduan atau KBI. Bung Tomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya.

Profesi Wartawan

Selain sebagai orator ulung, Bung Tomo juga seorang wartawan yang aktif menulis di beberapa surat kabar dan majalah. Tulisannya kerap menghiasi Harian Soeara Oemoem, Harian berbahasa Jawa Ekspres, Mingguan Pembela Rakyat, Majalah Poestaka Timoer. Dia juga menjabat sebagai wakil pemimpin redaksi Kantor Berita pendudukan Jepang Domei, dan pemimpin redaksi Kantor Berita Antara di Surabaya. Kelihaiannya dalam menulis, ia tuangkan saat menyusun aksara dalam surat cinta kepada calon istrinya. Kisah itu terungkap dalam buku “Bung Tomo, Suamiku”, yang ditulis sang istri, Sulistina Soetomo.

Foto Legendaris

Sosok Bung Tomo tengah berpidato dengan sorot mata tajam yang bersemangat kerap muncul dalam momen Hari Pahlawan. Namun, gambar tersebut ternyata bukanlah diambil saat 10 November 1945. Hal itu diungkapkan Istri Bung Tomo, Sulistina. Dia mengakui keaslian foto tersebut, namun momen yang tergambar dalam foto itu bukan terjadi pada operasi perang 10 November 1945. Dalam foto yang beredar itu diambil saat Bung Tomo berpidato di Lapangan Mojokerto tahun 1947 dalam rangka mengumpulkan pakaian bagi korban perang Surabaya. Momen penuh gelora itu diduga direkam oleh kamera fotografer Alexius Mendur dari IPPhoS (Indonesia Press Photo Services). Sang fotografer selanjutnya menerbitkannya di majalah majalah dwi bahasa Mandarin-Indonesia, Nanjang Post, edisi Februari 1947. (*)

 

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: