Ini Alternatif Pengobatan bagi Penyandang Epilepsi

Sekitar 30% penyandang epilepsi tidak dapat menolerir efek samping pengobatan, ini adalah kandidat kuat untuk menjalani pembedahan.
, Majalah Kartini | 19/04/2017 - 07:04

Ini Alternatif Pengobatan bagi Penyandang Epilepsi

MajalahKartini.co.id – Pembedahan adalah salah satu alternatif pengobatan pada penyandang epilepsi yang gejala kejangnya tidak dapat diatasi dengan obat-obatan. Selain itu, sekitar 30% penyandang epilepsi tidak dapat mentolerir efek samping pengobatan. Mereka ini adalah kandidat kuat untuk menjalani pembedahan. Dalam rangka mensosialisasikan tindakan bedah untuk epilepsi, Epilepsi Center RSU Bunda Jakarta bekerjasama dengan Yayasan Epilepsi Indonesia mengadakan seminar tentang Bedah Epilepsi di RSU Bunda Jakarta, Sabtu (15/4).

Prof. Dr. Zainal Muttaqin, SpBS, PhD., konsultan bedah saraf dari Epilepsi Center RSU Bunda menjelaskan, bedah untuk epilepsi sudah dikenal sejak satu abad lalu, namun penggunaannya mulai meningkat sejak tahun 80 dan 90-an. Hal ini menunjukkan bahwa bedah menjadi salah satu cara efektif untuk penyandang epilepsi.

Dulu pembedahan menjadi pilihan terakhir. Pasien umumnya sudah menerima berbagai jenis pengobatan anti-epilepsi selama bertahun-tahun namun tidak banyak mengalami kemajuan. Sekarang pembedahan direkomendasikan dilakukan lebih awal karena hasil penelitian menunjukkan semakin awal pembedahan dilakukan, hasilnya semakin baik. ”Tentunya ada pertimbangan khusus sebelum dilakukan tindakan pembedahan, di antaranya seleksi pasien, mempertimbangkan untung dan rugi, mengingat sebuah operasi apalagi dilakukan di otak yang sangat berisiko, tidak selalu berakhir dengan kesuksesan,” jelas Prof. Zainal.

Ada beberapa kriteria penyandang epilepsi yang sebaiknya menjalani pembedahan di antaranya penyandang epilespi parsial yang sulit dikendalikan dengan pengobatan. Saat ini jika pasien sudah diobati dengan dua jenis atau lebih obat epilespi selama 1-2 tahun namun kondisinya tidak membaik, dalam arti kejangnya sulit dikendalikan, maka dapat dipertimbangkan pembedahan.

Pembedahan dapat memberikan hasil yang baik terutama pada penyandang yang mendapatkan epilepsi akibat gangguan struktur otak, misalnya adanya tumor jinak di otak, kelainan pembuluh darah otak atau akibat stroke. Ada beberapa jenis pembedahan untuk epilepsi, tergantung jenis penyakitnya. Secara umum bedah dilakukan untuk menghilangkan area penyebab kejang, menginttervensi jalur saraf yang menyebabkan kejang, atau menanamkan alat khusus pengendali kejang.

Kesuksesan pembedahan tergantung pada tipe operasi yang dilakukan. Beberapa anak penyandang epilepsi yang menjalani pembedahan menunjukkan perbaikan di mana tidak lagi mengalami kejang, atau frekuensi kejang menurun dibandingkan sebelum pembedahan.

Tes dan pemeriksaan menyeluruh harus dilakukan sebelum tindakan. Pembedahan hanya dilakukan jika hasil pemeriksaan menunjukkan risiko jauh lebih rendah daripada manfaatnya. Pasien harus diberikan penjelasan bahwa ada beberapa risiko pembedahan mulai dari gangguan memori dan bahasa, gangguan penglihatan, kelumpuhan, gangguan perilaku atau frekuensi kejang yang semakin bertambah dibandingkan sebelum pembedahan.

Penelitian tahun 2011 yang diterbitkan di jurnal Lancet menunjukkan bahwa hampir separuh pasien epilepsi yang menjalani pembedahan dapat terbebas dari kejang bahkan sampai 10 tahun paskapembedahan. Menurut Prof Zainal, saat ini tidak banyak dokter spesialis bedah saraf yang mendalami bedah epilepsi ini karena menuntut hasil yang sempurna dan tidak boleh meninggalkan dampak di otak setelah operasi. Epilepsi Center RSU Bunda Jakarta dirancang sebagai salah satu pusat bedah epilepsi modern dengan dokter yang sudah berpengalaman menangani bedah pasien epilepsi.

Epilepsi Center RSU Bunda Jakarta tidak hanya menangani pembedahan, namun juga pengobatan pasien epilepsi secara menyeluruh. Saat ini diperkirakan penyandang epilepsi di Indonesia ada 6 per 1000 orang. Jika penduduk Indonesia mencapai 240 jiwa makan 0,6 atau sekitar 2 juta orang penyandang epilepsi.

Di Epilepsi Center RSU Bunda Jakarta pasien ditangani secara individual dr. Ira, Spesialis Saraf dari Epilepsi Center RSU Bunda Jakarta menambahkan, harus digarisbawahi bahwa terapi untuk pasien epilepsi, baik pengobatan maupun pembedahan, harus mengedepankan keselamatan dan kualitas hidup pasien, bukan sekadar mengurangi gejala kejang. Karena metode pengobatan apapun untuk epilepsi ini mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan pasien dan keluarganya, mUIai dari masalah fisik, sosial, pendidikan dan karir. Selain itu ada beban biaya yang harus dipikirkan.(Foto: Andim)

Tags: ,

BAGIKAN HALAMAN INI: