Ika Rahma: Perempuan Masa Kini Harus Berkarya

Bermula dari hobi menjadi passion, itu arti merdeka paling sederhana bagi Ika Rahma.
, Majalah Kartini | 18/08/2017 - 11:01

Ika-Rahma-Perempuan-Masa-Kini-Harus-Berkarya

MajalahKartini.co.id – Menjadi perempuan di era kemerdekaan ini sebenarnya jauh lebih mudah. Tak perlu lagi berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang layak maupun menuntut emansipasi, perempuan “hanya” perlu berkarya. Kenyataan itu disadari sepenuhnya oleh Ika Rahma, seorang wirausaha muda perempuan dan sukses asal Bandung.

Sejak 2012, perempuan kelahiran Kediri 16 Mei 1985 ini memutuskan berbisnis sendiri. “Berawal dari hobi dan ngeblog, saya mulai berjualan pernak pernik untuk foto makanan, semacam piring, mangkok, dan sendok dengan brand Dapur Hangus. Saya berani menglaim, Dapur Hangus adalah toko online pertama yang berjualan properti food photography,” ujar ibu dari satu putri ini. Berbisnis sambil menjalankan hobi, itulah kemerdekaan yang sebenarnya bagi Ika. “Dari hobi jadi passion, itu arti merdeka paling sederhana buat saya,” ucap Ika.

Ika-Rahma-Perempuan-Masa-Kini-Harus-Berkarya2

Sebenarnya, ia tak pernah bercita-cita menjadi fotografer. “Namun takdir berkata lain, saya “kecemplung” di dunia fotografi. Dari ilmu yang saya dapat dari pengalaman, saya mulai mengajar dari workshop ke workshop, dari satu kota ke kota lain membawa pengalaman berharga. Sedikit apapun ilmu, jika dibagi dan diamalkan, tak akan pernah habis. Kebetulan sekali, teman-teman yang ikut workshop saya sebagian besar adalah perempuan, saya berusaha menyemangati setiap peserta di kelas, tak ada yang tak mungkin dicapai dengan ketekunan. Jika saya yang nggak berjiwa seni saja bisa jadi fotografer, apalagi orang lain yang berjiwa seni,” tutur alumi S1 Ilmu Jurnalistik, Universitas Padjadjaran ini.

Ika mengamati di zaman sosial media menjadi “senjata”, hal yang paling saya khawatirkan justru dari perempuan. Membaca komentar ibu-ibu di sosial media membuatnya kadang berpikir. “Memang ini nggak sekolah, kok sekasar itu komentarnya.” Belum lagi di satu sisi bilang no bully, tapi di sisi lain justru mem-bully. Saya, sebisa mungkin posting hal-hal yang bermanfaat, setidaknya saya bisa membuat orang tersenyum ketika membaca postingan saya di sosial media. Biarlah isinya remeh temeh, yang penting nggak menyakiti sesama, nggak SARA. Sudah merdeka masih ngomongin SARA, wah so yesterday banget! Perlu ditinjau lagi, beneran sudah merdeka apa belum,” ucapnya.

Ika-Rahma-Perempuan-Masa-Kini-Harus-Berkarya3

Indonesia udah 72 tahun merdeka, tapi masih ketinggalan dibanding negara lain. “Saya pikir, penyebab utamanya adalah literasi yang kurang. Buku cuma buat koleksi, dibaca sih jarang. Semoga ke depan literasi di Indonesia semakin baik. Saya sendiri merasakan manfaat membaca tips dan trik marketing, bisnis saya berjalan mulus dan saya termasuk mudah menemukan solusi ketika bisnis mandeg. Tugas saya sendiri berat, anak saya bukan penggemar buku, butuh usaha ekstra keras untuk mengenalkan buku. Alhamdulillah sebulan terakhir sudah mulai suka buku sejak saya bawa ke pameran buku,” lanjutnya.

Sebagai perempuan Ika meyampaikan pesan pada para pembaca, berkaryalah seolah esok adalah hari terakhirmu di dunia. Jalani dengan enjoy, sesuaikan dengan ritme sebagai istri dan ibu, tidak perlu muluk-muluk. Semua akan indah pada waktunya.

Belajar dari Dapur Hangus

Ika-Rahma-Perempuan-Masa-Kini-Harus-Berkarya1
Dapur Hangus berawal dari blog yang dibuat pada 2012. Setelah perjalanan lima tahun, Dapur Hangus memiliki brand celemek sendiri dan memroduksi barang sendiri. Mulai tahun ini, Dapur Hangus bekerja sama dengan pengrajin lokal untuk memasarkan produk mereka via marketplace, Etsy. Dua tahun terakhir, selain menggelar workshop fotografi di berbagai kota, Dapur Hangus juga menyediakan jasa foto produk yang sebagian besar kliennya adalah UKM. Akhir September nanti, Dapur Hangus akan meluncurkan buku perdana masih seputar food photography. (Foto: Doc. Pribadi)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: