Hari Ibu, Sejarah Kebangkitan Perempuan Indonesia

Hari Ibu merupakan tonggak kebangkitan para perempuan-perempuan Indonesia untuk memperjuangkan
, Majalah Kartini | 22/12/2016 - 10:30

hari-ibu-sejarah-kebangkitan-perempuan-indonesia

MajalahKartini.co.id – Hari ibu dirayakan setiap tanggal 22 Desember. Namun, terjadi penyempitan sekadar menjadi ajang ucapan cinta kepada ibu. Peringatan dengan menukar kado dan kompetisi memasak atau kegiatan yang berhubungan dengan peran ibu di ranah domestik.

Sejatinya, Hari Ibu merupakan tonggak kebangkitan para perempuan-perempuan Indonesia untuk memperjuangkan tanah air. Bermula pada Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, dilanjutkan dengan Kongres Perempuan Indonesia pertama yang dibuka pada tanggal 22 Desember 1928.

Kongres yang digelar 3 hari ini, 22-25 Desember 1928,diselenggarakan di sebuah gedung bernama Dalem Jayadipuran. Gedung itu saat ini menjadi kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta. Kongres perempuan pertama dihadiri sekitar 30 organisasi dari 12 kota di Jawa dan Sumatra yang kemudian. Kongres ini kelak dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Di Indonesia, organisasi perempuan telah ada sejak 1912. Organisasi perempuan ini terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan Indonesia pada abad ke-19 seperti Kartini, Christina Martha Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, dan lainnya.

Kongres dimaksudkan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan. Agenda utama Konggres Perempuan Indonesia I adalah persatuan perempuan nusantara, peranan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan, peranan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, hingga pernikahan usia dini bagi perempuan, dan lain sebagainya.

Kongres Perempuan Indonesia II kemudian digelar Juli 1935. Kongres tersebut menghasilkan keputusan membentuk Badan Pemberantasan Buta Huruf dan menentang perlakuan tidak wajar atas buruh wanita perusahaan batik di Lasem, Rembang.

Peringatan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember baru ditetapkan pada Kongres Perempuan Indonesia III, tahun 1938. Presiden Soekarno menetapka secara resmi tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Payung hukumnya adalah Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga saat ini. (Sundari/Foto: Arsip Negara)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: