Happiness Festival 2019, Kolaborasi yang Membawa Kebahagiaan

Happiness Festival membawa semangat kolaborasi dengan melibatkan berbagai komunitas dari berbagai bidang untuk berpartisipasi merayakan kebahagiaan.
, Majalah Kartini | 30/04/2019 - 12:00

Foto: Antara

MajalahKartini.co.id – Mari Elka Pangestu membuka Happiness Festival 2019 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat pada Sabtu (27/4) dengan aktivitas “Merajut Dalam Keberagaman”. Dalam acara yang digagas untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ini, Mari Elka sebagai Ketua Yayasan Upaya Indonesia Damai mengatakan Happiness Festival 2019 bertema “Alignment for Harmony” bermakna keselarasan menuju harmoni dengan harapan dapat membantu mengarahkan masyarakat menuju kebahagiaan.

“Dengan harmoni, kita akan mencapai kebahagiaan karena keharmonisan dapat kita terjemahkan ke dalam tujuan pembangunan berkelanjutan,” ujar Mari Elka dalam sambutannya. Mari pun menjelaskan mengapa Lapangan Banteng dipilih sebagai lokasi penyelenggaranaan kegiatan. Lokasi tersebut mewakili semangat persatuan Indonesia yang ingin diangkat dalam Happiness Festival ini.

Foto: Isitmewa

“Kita bangsa yang optimis. Maka saya juga optimis kalau kita semua bisa tetap merajut kembali keberagaman kita. Saling menghormati perbedaan antara kita, dan memandangnya sebagai kekayaan budaya. Indonesia akan menjadi bangsa yang luar biasa, rukun dalam keberagamannya,” jelas Mari Elka.

HADIRKAN WORKSHOP OPEN HEART

Misi Happines Festival ini untuk meningkatkan peringkat Indonesia dalam World Happiness. Semangat harmoni dan merayakan International Day of Happiness ini juga mendukung proyek Sustainable Development Goals(SDGs) untuk Indonesia yang lebih baik.

Dalam hal ini, hadir pula kolaborasi yang membantu mengupas aspek kesehatan mental masyarakat. Salah satunya lewat workshop Open Heart yang diselenggarakan oleh Sanggar Jiwa Bertumbuh pada Sabtu (27/4). Kesehatan mental atau jiwa menjadi kata kunci meraih kebahagiaan dan kehidupan yang sejahtera.

Workshop ini bertujuan untuk kembali belajar dari satu sama lain untuk melatih secara bersama-sama selaras dalam membangun hubungan dengan diri sendiri, sesama manusia dan lingkungan. Yuza Azis sebagai terapis atau konselor Sanggar Jiwa Bertumbuh  menjelaskan peserta diajak menjalani terapi dan menerima “pertanyaan-pertanyaan berkualitas therapeutic”.

“Tujuan dari pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya menggali dan mengeksplorasi bawah sadar kita. Jika dijawab dengan sungguh-sungguh akan memunculkan kesadaran baru yang berguna bagi kehidupan kita. Kesadaran yang terbentuk ini menjadi jembatan antara pikiran sadar dan bawah sadar sehingga tercipta self healing dalam tubuh, jiwa dan pikiran kita,” tutur Yuza. Pada akhirnya semua ini dapat menjadi jalan menemukan kebahagiaan dari dalam diri masing-masing personal sekaligus mencari solusi dari permasalahan jiwa yang mereka alami.

ANDIEN AISYAH: SUPPORT KESEHATAN JIWA DENGAN MENTAL-MORFOSA

Foto: Istimewa

Kesehatan jiwa atau mental seberapa besar efeknya terhadap kehidupan secara keseluruhan? Pertanyaan ini menarik minat penyanyi Jazz kawakan, Andien Aisyah, menelusuri pentingnya kesehatan jiwa dan bagaimana merawat self awareness sebagai kunci kebahagiaan. Dalam event Happiness Festival 2019 pada 27-28 April 2019 Andien berkolaborasi dengan Sanggar Jiwa Bertumbuh mengadvokasi kesehatan jiwa melalui Mental-Morfosa.

Hal ini menjadi wadah kolaborasi fasilitator dan edukator dalam ranah transformasi dan self healing untuk kesehatan jiwa. Fokus Mental-Morfosa adalah mengedukasi dan memfasilitasi seseorang untuk bisa mengenali dirinya sendiri lebih dalam lagi, sehingga mereka makin menyadari potensi diri, kelemahan dan mencari solusi dari berbagai masalah yang dihadapi.

“Beberapa pepatah juga mengatakan masalah itu adanya nggak pernah di luar, semuanya adanya di dalam. Jadi kalau dalamnya beres, semua masalah di luar akan hilang dengan sendirinya. Nah di situ peran mental health begitu penting, ” ujar Andien.

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: