Fenomena Jasa Titip Menghasilkan Lapangan Pekerjaan Baru

Jastip merupakan sebuah peluang usaha baru yang bermodalkan teknologi. Hanya dengan memegang smartphone dan mengandalkan hasil foto, Anda bisa mengantongi omzet hingga ratusan juta rupiah per bulan.
, Majalah Kartini | 15/05/2019 - 14:00

MajalahKartini.co.id – Fenomena jasa titip (jastip) saat ini kian menjamur seiring tumbuhnya konsumen yang gemar berbelanja. Layanan jastip ini digandrungi mulai dari remaja hingga ibu rumah tangga yang menekuni pekerjaan ini.

Produk yang ditawari oleh jastip pun beragam. Mulai dari komestik, fashion, gadget, produk rumah tangga, dan lain-lain. Barang-barang ini dibawa dari luar negeri semua dan dilakukan atas dasar kepercayaan si pembeli kepada jastip. Cara kerja jastip cukup sederhana. Pemesan menghubungi jastip, mengirimkan gambar dan berkomunikasi melalui pesan singkat atau telepon. Jika sudah setuju, pemesan diminta melakukan transfer sejumlah biaya total beserta fee jastip yang beragam. Mulai dari 5 sampai 100 ribu, imbalan yang disetujui keduanya.

Jastip merupakan sebuah peluang usaha baru yang bermodalkan teknologi. Hanya dengan memegang smartphone dan mengandalkan hasil foto, Anda bisa mengantongi omzet hingga ratusan juta rupiah per bulan. Namun, di balik itu tidak sedikit kendala yang dialami oleh pemilik jasa titip. Misalnya saja tertahan oleh pihak Bea & Cukai saat hand carry barang, respon yang lama atau kepastian serta keamanan yang tidak terjaga.

Baca Juga: Ketahui 7 Langkah Aman Berbelanja Online

Peraturan baru dari pemerintah

Maka dari itu, pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai bisnis jastip ini. Ketentuannya diatur oleh Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 203/PMK.04/2017 tanggal 27 Desember 2017 tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Barang yang Dibawa oleh Penumpang dan Awak Sarana Pengangkut. Oleh karena jastip tergolong pengeluaran pribadi. Maka dibebaskan pajak USD500 per orang. Bagi pelaku bisnis jastip, wajib pahami aturan yang berlaku ini

Sementara itu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengubah aturan batas nilai barang impor bawaan penumpang dari US$ 250 menjadi maksimal US$ 500 per orang. Kemenkeu pun memperketat jumlah barang impor bawaan penumpang yang masuk ke Indonesia untuk jenis pakaian dan barang elektronik.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, adanya aturan ini untuk mempertegas soal ketentuan barang impor yang dibawa penumpang dari luar negeri. Apakah untuk dipakai sendiri atau untuk dijual kembali seperti pada jasa titip beli. Sedangkan jika memang seseorang membeli barang dengan tujuan untuk dijual kembali di dalam negeri, atau sebagai jasa titip beli barang dengan total nilai barang lebih dari US$ 500, maka harus dikenai bea masuk 10 persen dan pajak lain.

Baca Juga: 73 Persen Perempuan Memilih Belanja Online

Sri Mulyani juga menegaskan, tujuan dari aturan yang akan tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tersebut adalah untuk memberikan kejelasan prosedur bagi penumpang yang membawa barang dari luar negeri ke Indonesia. Namun jika memang seseorang membawa barang dengan tujuan untuk diselundupkan, maka tetap akan ditindak oleh Direktorat Jenderal Bea Cukai.

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: