Fakta-fakta Terbaru Kasus Audrey

Ada sejumlah fakta terbaru terungkap dari kasus yang memunculkan gerakan #JusticeforAudrey di media sosial.
, Majalah Kartini | 11/04/2019 - 12:00

Foto: Istimewa

MajalahKartini.co.id – Kasus dugaan perundungan dan penganiayaan terhadap Audrey (14), siswi SMP di Pontianak, Kalimantan Barat, oleh para siswi SMA setempat masih jadi sorotan. Ada sejumlah fakta terbaru terungkap dari kasus yang memunculkan gerakan #JusticeforAudrey di media sosial itu.

Salah satunya adalah hasil visum korban yang diungkap polisi pada Rabu (10/4/19). Terduga pelaku juga membuat pengakuan soal kasus tersebut. Hasil visum Audrey dikeluarkan oleh Rumah Sakit Pro Medika. Visum dilakukan sepekan setelah dugaan pengeroyokan terjadi di rumah sakit tempat dirawat.

Baca Juga: Pengeroyokan Audrey Siswi SMP di Pontianak

Dari hasil visum, kepala korban tidak bengkak dan tidak ada benjolan. Tidak ada memar di mata dan penglihatan normal. Kemudian telinga, hidung dan tenggorokan (THT) tidak ditemukan darah. “Dada, tidak ada memar dan bengkak. Jantung dan paru-paru normal. Perut datar, bekas luka tidak ditemukan. Organ dalam abdomen tidak ada pembesaran,” ungkapnya.

Anwar mengatakan, dari pengakuan korban, terduga pelaku sempat menekan alat kelamin korban. Berdasarkan hasil visum, tidak ada bekas luka di alat kelamin. “Alat kelamin, selaput dara atau hymen, intact. Tidak tampak luka robek atau memar dan kulit tidak ada memar, lebam, maupun bekas luka,” ucap Anwar.

Pengakuan Terduga Pelaku

Tujuh terduga pelaku kekerasan terhadap Audrey meminta maaf dan mengklarifikasi perkara tersebut. Itu mereka lakukan di sela pemeriksaan di Polresta Pontianak. Ketujuh terduga pelaku adalah siswi SMA masing-masing berinisial CC, DE, LL, EC, TR, BN, dan DA. LL kepada wartawan mengaku menyesal atas perbuatannya. Dia menyangkal mengeroyok dan menyolok alat kelamin korban.

“Saya minta maaf atas yang terjadi, tapi kami tidak mengeroyok, masalah menusuk alat vital Audrey tidak pernah saya menyolok alat vital Audrey,” ujarnya. Dia juga merasa terganggu dengan respons warganet atas kasus tersebut. “Tolong netizen jangan menghakimi karena kami tidak melakukan hal seperti itu dan malah kami tahu dari netizen, sementara kami tidak pernah melakukan yang dituduhkan. Atas pemberitaan yang tidak benar di media sosial kami dibully dibilang psikopat dan penjahat kelamin,” ujarnya.

Tiga pelaku penganiayaan terhadap Audrey ditetapkan sebagai tersangka yakni berinisial LL, TR dan EC. Karena masih di bawah umur, mereka  diduga melanggar Pasal 76C juncto Pasal 80 ayat 1 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Namun, sesuai dengan UU Nomor 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, dilakukan diversi atau pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana. Usai ditetapkan sebagai tersangka, ketiganya ini dijerat dengan Undang-undang Perlindungan Anak. Ketiga tersangka terancam mendapatkan hukuman 3,5 tahun penjara.(*)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: