DPR Minta Aparat Penegak Hukum Segera Bongkar Motif Bom Samarinda

Pelaku pengeboman Gereja Oikumene disebut berinisial JO alias MAK berusia 32 tahun.
, Majalah Kartini | 14/11/2016 - 18:30

MajalahKartini.co.id – Anggota Komisi I DPR RI, Charles Honoris menilai aparat harus serius mengawasi orang-orang yang masuk dalam daftar pengawasan tindak pidana terorisme. Hal tersebut dikatannya usai terjadi ledakan bom di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, sekitar pukul 11.30 WITA Minggu (13/11). “Polri, Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme harus serius mencermati, melakukan infiltrasi dan mengawasi jaringan orang-orang yang sudah masuk dalam daftar pengawasan terorisme,” katanya, di Jakarta, Senin (14/11).

Charles mengatakan, aparat penegak hukum harus segera membongkar motif dan jaringan dari pelaku teror yang terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur tersebut. Dirinya juga menjelaskan, pelaku sudah pernah dipenjara karena pidana terorisme, karena itu seharusnya pelaku sudah masuk daftar pengawasan aparat penegak hukum. “Pemboman Gereja Oikumene di Samarinda tindakan biadab. Pelaku kejahatan tersebut harus dihukum seberat-beratnya,” ujarnya.

Politikus PDI Perjuangan itu juga menilai, negara juga harus waspada agar aksi-aksi teror tidak ditunggangi oleh aktor-aktor politik yang ingin menjatuhkan pemerintahan sah. Pelaku pengeboman Gereja Oikumene disebut berinisial JO alias MAK berusia 32 tahun, tinggal di Jalan Cipto RT 04, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Samarinda Seberang. Dia pernah dihukum penjara 3 tahun 6 bulan terkait kasus terorisme dan dinyatakan bebas bersyarat pada 28 Juli 2014.

Kepala Divisi Humas Kepolisian Indonesia, Inspektur Jenderal Polisi Boy Rafli Amar, mengatakan, JO diduga terkait jaringan teroris kelompok JAD Kalimantan Timur yang memiliki koneksi dengan jaringan Anshori Jawa Timur. Sementara itu, Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Khotibul Wiranu, mengecam pelemparan bom oleh seseorang ke Gereja Oikumene, Samarinda.

“Saya mengecam dan mengutuk keras aksi pengeboman Gereja Oikumene Samarinda, oleh orang-orang atau kelompok yang tidak berperikemanusiaan, tidak beradab, dan tidak beragama. Tindakan mereka bertentangan dengan Pancasila, agama, konstitusi negara serta undang-undang,” tegas dia, di Jakarta.

Dirinya menyesalkan aksi terorisme yang kali ini terjadi dalam bentuk pengeboman Gereja Oikumene Samarinda. Menurutnya peristiwa itu sungguh sangat memilukan, menyedihkan, dan menyayat hati bangsa Indonesia, terlebih ada korban balita perempuan akhirnya meninggal dunia dan beberapa terluka. “Saya meminta pihak kepolisian dan aparat penegak hukum lainnya untuk secepatnya memproses hukum bagi para pelaku pengeboman, serta pembuat skenario pengeboman, menghukum mereka seberat-beratnya sesuai UU Anti Terorisme serta undang-undang lain yang berlaku,” ujar dia.

Menurutnya, pelaku dan perencana teror ini jelas punya motif mengadu domba antarpemeluk agama yang berbeda, serta membuat situasi sosial masyarakat lsaling curiga, dan bisa menciptakan konflik sosial yang lebih luas. Ledakan yang bom terjadi di Gereja Oikumene di Jalan Cipto Mangunkusumo Nomor 37, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda, pada pukul 10.15 WITA Minggu (13/11) kemarin, menyebabkan seorang korban meninggal dunia. Korban bernama Intan Marbun balita berusia 2,5 tahun yang menderita luka bakar hampir 70 persen disekujur tubuhnya. (Raga Imam/Foto: ANT FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Tags: , , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: