Curhat Kepada Jokowi, Baiq Nuril Tunggu Kabar Baik

Akhirnya setelah PK ditolak oleh MA, Baiq Nuril mengajukan permohonan amnesti ke Jokowi.
, Majalah Kartini | 17/07/2019 - 14:18

MajalahKartini.co.id – Korban pelecehan seksual yang justru berujung menjadi terpidana kasus ITE Baiq Nuril akhirnya bisa bernapas lega. Pasalnya, setelah sebelumnya PK yang diajukan ditolak oleh MK dan Baiq dikenakan enam bulan hukuman penjara dan denda Rp500 juta serta subsidier tiga bulan kurungan, kini mendapat balasan dari Jokowi perihal serat permohonan amnesti yang diajukannya.

baiq nuril

sumber : istimewa

Pada Senin (15/7/2019), Baiq Nuril sebelumnya telah menyampaikan surat permohonan pemberian amnesti kepada Presiden Joko Widodo yang diterima oleh Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko. Baiq memberikan dua lembar surat yang telah ia tanda tangani dan bermaterai yang berisi permohonan agar Jokowi dapat memberikan amnesti secepatnya.

Dikutip dari liputan6.com, pada Selasa (16/7/2019) surat rekomendasi amnesti untuk Baiq Nuril ini dibacakan dalam paripurna DPR. Atas perihal tersebut, Baiq pun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukungnya.

“Alhamdulilah, terima kasih temen-teman semua yang tetap men-support saya, terutama dari temen media yang sampai saat ini terus mendukung saya. Saya juga berterima kasih, pertama pada Pak Presiden atas perhatiannya yang sampai saat ini alhamdulilah untuk memberikan amnesti kepada saya, mudah-mudahan DPR menyetujui dan memberi pertimbangan untuk memberikan amnesti kepada saya,” ucap Nuril.” kata Baiq seperti yang dikutip dari liputan6.com Selasa.

Seeperti yang telah diketahui, kasus ini bermula saat tahun 2012, Baiq Nuril yang seorang guru honorer SMAN 7 Mataram, yang sering menerima telepon dari atasannya. Namun percakapannya malah membahas hal personal atasanya, mengenai hubungan atasannya dengan perempuan lain.

Merasa tidak nyaman, Nuril pun akhirnya merekam percakapan tersebut dengan niat menjadikannya bukti pelecehan seksual. Namun sayangnya, bekti percakapan tersebut tersebar pada tahun 2014, dan atasannya melaoprkan Baiq Nuril dengan dakwaan UU ITE pasal 21 ayat 7 tahun 2016.

Pada tahun 2017 Baiq diberhentikan dari pekerjaannya dan pada tahun 2018 MA memutuskan ia bersalah dan menjatuhi hukuman 6 bulan penjara serta denda 500 juta atau kurungan 3 bulan jika tidak membayar denda. Tidak terima dengan hasil putusan tersebut, Baiq akhirnya meminta untuk mengajukan PK dan sayangnya, PK Baiq Nuril ditolak oleh Mahkamah Agung (MA).

Baca Juga : PK Ditolak, Kini Hanya Jokowi yang Bisa Selamatkan Baiq Nuril

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: