Cara Melatih Kecerdasan Emosional Anak

Kecerdasan emosional atau EQ merupakan kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosi dan bagaimana mengatasinya.
, Majalah Kartini | 22/04/2019 - 20:00

Foto: Istimewa

MajalahKartini.co.id – Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kesuksesan seseorang lebih dipengaruhi oleh kecerdasan emosinya. Kecerdasan IQ atau yang sering dianggap sebagai kecerdasan akademik berkontribusi sebesar 20%. Sedangkan, sisanya sebanyak 80% dipegang oleh kecerdasan emosi.

Kecerdasan emosional atau EQ merupakan kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosi dan bagaimana mengatasinya dengan cara yang positif. Bahkan dalam situasi yang penuh tekanan. Seseorang dengan kecerdasan emosional yang tinggi mampu berkomunikasi secara efektif, memiliki rasa empati yang tinggi terhadap orang lain, mengatasi kesulitan hingga menyelesaikan konflik.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan pemahaman terkait EQ ini merupakan proses non verbal yang membentuk mindset dan memengaruhi seseorang dalam bersosialisasi dengan orang lain. Bahkan, beberapa ahli mengatakan bahwa EQ berperan penting sebagai penentu kebahagiaan dalam hidup.

Baca Juga: Anak Bahagia dan Sehat Kunci Anak Cerdas

Salah satu tugas utama orang tua adalah melatih anak untuk mampu mengendalikan emosi. Jika emosi naik maka intelektual turun. Dan jika emosi turun maka intelektual naik. Hal ini menjelaskan bagaimana emosi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan seorang anak. Melatih emosi anak akan membuat mereka berprestasi sesuai bidang serta dapat meningkatkan kecerdasan. Lalu, bagaimana orang tua melatih kecerdasan emosional anak? Berikut caranya:

  1. Mendengarkan Perasaan Anak

Ketika anak sedang mengekspresikan perasaannya maka anak akan belajar bagaimana cara untuk mengontrol perasaannya dan menyembuhkan dirinya sendiri. Selain itu, bercerita dan mengekspresikan perasaannya akan membantu anak agar perasaan negatif tersebut tidak terperangkap dan tidak meledak-ledak. Saat seperti ini, peran orang tua hanya dengan cukup mendengarkan ceritanya sampai selesai. Lalu berikanlah solusi untuk masalah yang sedang dihadapi.

  1. Menggambarkan sebuah persaan melalui coretan

Mengajarkan anak mengungkapkan perasaan bisa melalui coretan warna-warni, seperti warna hitam yang menggambarkan kesedihan, warna biru ungkapan perasaan tenang, warna merah menggambarkan perasaan semangat, atau warna kuning mengungkapkan kebahagiaan.

  1. Membacakan buku menjelang tidur

Melalui membacakan buku, tidak hanya menambah wawasan akan bermacam nilai, namun juga diyakini akan mempererat hubungan antara orang tua dan anak. Hubungan positif ini selanjutnya mampu menciptakan emosi positif. Anak lebih mampu untuk bersikap tenang saat mengalami suatu masalah.

Baca Juga: Ketahanan Mental Bantu Anak Hadapi Tantangan Hidup

  1. Melatih kesabaran

Melatih kesabaran bisa dengan berbagai cara, contohnya melatih anak untuk mengantri. Hal tersebut dapat dilakukan di rumah maupun di sekolah. Namun ini tentu tidak lepas dari peran orang tua sebagai model atau panutan. Sesungguhnya, anak tidak dapat mengantri saat orang tua terlihat tidak terbiasa mengantri.

  1. Mengajari anak menghadapi perasaan tidak nyaman

Seorang anak tidak selalu harus merasakan bahagia dan nyaman. Adakalanya merasakan hal-hal yang tidak dirinya senangi. Hal itu juga untuk melatih dan mengajarkan anak menerima perasaan negatifnya. Orang tua juga bisa membantu dirinya menyelesaikan masalah yang sedang terjadi. Perlahan-lahan dengan latihan tersebut, seorang anak akan terbiasa memikirkan solusi dan berpikir kalau perasaan yang dirasakannya itu normal terjadi.

  1. Menumbuhkan tanggungjawab

Orangtua dapat memupuk sikap tanggung jawab sejak dini melalui pembiasaan yang sudah disepakati bersama. Misal, selepas bermain anak harus membereskan mainan atau merawat mainannya sendiri. Dengan emosi positif, kecerdasan semakin berkembang. Sebaliknya, emosi negatif mampu merusak kecerdasan anak.

Baca Juga: Resah dengan Minat Bakat Anak? Simak Tips Berikut Ini

  1. Memupukan rasa peduli terhadap sesama

Anak akan memiliki kepedulian kepada sesama ketika ia hidup dalam lingkungan suka berbagi. Seperti, ketika bermain anak mau berbagi mainan dengan teman atau mau berbagi makanan dengan teman.

  1. Melatih kepercayaan diri

Melatih kepercayaan diri sejak dini sangat penting karena akan sangat mempengaruhi kecerdasan anak. Anak dengan rasa percaya diri tinggi akan mampu meningkatkan kecerdasannya. Sebaliknya, anak yang cerdas akan mengalami hambatan dalam perkembangan saat tidak memiliki rasa percaya diri.

Tags: , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: