Badan POM Sita Ratusan Ribu Jamu Ilegal di Tangerang

Jamu-jamu tersebut diproduksi PT Bilca Markin Jaya Makmur di Desa Cilongok, Kabupaten Tangerang.
, Majalah Kartini | 11/08/2016 - 07:00
MajalahKartini.co.id – Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) bekerjasama dengan kepolisian berhasil menyegel dan mengamankan produk jamu ilegal senilai Rp11,4 miliar di Tangerang, Banten, Rabu (10/8). Sebelum melakukan penggerebekan, Badan POM telah melakukan pengintaian terhadap pabrik yang disamarkan sebagai produsen karton itu.
Kepala Badan POM Penny K. Lukito mengatakan jamu atau obat tradisional yang disita mengandung bahan kimia obat berbahaya yaitu Parasetamol, Sildenafil Sitrat, Fenilbutazon, turunan Sildenafil dan Deksametason.
“Sebetulnya operasi ini bukan baru saja dilakukan tapi sudah lama dengan dilakukan lidik. Pemilik pabrik bukan pemain baru tapi saat itu belum dapat dijerat secara hukum dengan berbagai alasan,” kata Penny.
Penny menyampaikan, perusahaan tersebut tidak memiliki izin dan ditemukan produknya tidak sesuai dengan standar kesehatan seperti tidak menggunakan dosis yang benar untuk bahan kimia obatnya. Zat-zat kima tersebut ditemukan sebagai campuran obat tradisional jamu.
Hasil temuan dari operasi penyidikan tersebut ditemukan sebanyak 20 jenis produk yang terdiri dari 533.656 buah produk ilegal dengan merk seperti Wantong, Ricalinu, Xianling, Chon Sang, Sheng Lin, Jakarta Bandung, Bintang Dua Mustika Dewa, Tawon Liar, Obaku, Purbasalam Bintang Dua, Tangkur Kobra, Sera, Ocema dan Spider.
Saat penggerebekan, penyidik melakukan penyitaan terhadap sejumlah bahan baku, bahan kemas dan produk jadi. Petugas juga menemukan barang bukti berupa serbuk putih yang diduga merupakan bahan kimia obat Parasetamol. Terhadap temuan dugaan BKO tersebut dilakukan penyitaan untuk diuji secara laboratorium. Sedangkan untuk mesin produksi dan lainnya, termasuk pabrik, telah dilakukan penyegelan dan berada di bawah pengawasan BPOM dan Kepolisian.
“Kami akan kejar para pelaku kejahatan kemanusiaan ini karena produk dikonsumsi masyarakat pada umumnya, terutama lapisan masyarakat yang mengonsumsi obat tradisional, yang mereka berharap dapat menyembuhkan penyakitnya tapi malah menimbulkan penyakit baru,” kata dia. (ANT/Foto: ANT/Lucky R.)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: