Ayudia Bing Slamet Buka Rahasia Persalinan dan Pola Asuh untuk Sekala

Sebagai keluarga muda, Ayudia dan Ditto terbilang cukup berpengalaman urusan mengasuh dan mengurus anak. Mereka tak ragu berbagi tugas demi sang buah hati.
, Majalah Kartini | 30/08/2018 - 16:00

MajalahKartini.co.id – Kisah percintaan Ayudia Bing Slamet dan Muhammad Pradana Budiarto alias Ditto memang sudah diangkat ke film layar lebar berjudul Teman Tapi Menikah. Tetapi masih banyak cerita lain seputar kehidupan rumah tangga milik pasangan yang resmi menikah pada 13 September 2015 ini. Kepada KARTINI, Ayudia  dan Ditto bercerita seputar proses persalinan yang dipilihnya hingga cara berbagi tugas dan menerapkan pola asuh untuk sang buah hati, Dia Sekala Bumi.

Ketika mengalami masa hamil, pengetahuan Ayudia perihal kehamilan dan persalinan terbilang sudah cukup banyak. “Dari zaman kuliah aku sering browsing tentang hal tersebut, aku sering juga diskusi dengan kakak dan mamaku. Saat hamil kemarin, aku lebih perkaya lagi pengetahuanku dengan banyak membaca dan cari referensi,” ujar Ayudia. Setelah banyak mencari informasi, alhasil Ayudia memilih gaya melahirkan tradisional yang minim intervensi medis di Yayasan Bumi Sehat, Ubud, Bali. “Dari dulu aku tuh memang agak takut sama hal-hal yang berbau rumah sakit, makanya aku banyak cari referensi. Setelah aku lihat Yayasan Bumi Sehat, aku merasa nyaman di sana, dan menurutku tempat persalinan terbaik adalah tempat di mana sang ibu merasa nyaman. Senangnya, keputusan aku ini didukung oleh Ditto,” ujar Ayudia. “Kendala awal mungkin hanya bagaimana meyakinkan keluarga atas keputusan kami, karena keluarga mayoritas di Jakarta, tetapi kami malah ingin melahirkan di Bali,” tambah Ditto. Namun, semua kendala berhasil dilalui keduanya, dan pada 24 Mei 2016, Dia Sekala Bumi, putera pertama Ayudia dan Ditto lahir dan menyempurnakan kehidupan mereka.

“Proses persalinan normal selama kurang lebih 12 jam, tetapi aku mulai mengejan sejak pukul 1 siang hingga lahir pukul 5 sore,” tutur Ayudia. Ketika ditanya seputar arti nama sang buah hati, keduanya menjawab kompak, “Nama itu sudah kami buat sejak masih pacaran,” pungkas Ditto. “Waktu itu kami melihat sebuah buku, ada nama Sekala yang berarti yang terlihat. Sedangkan Bumi artinya bumi, jadi yang terlihat di bumi. Nah untuk nama depannya baru kami dapatkan sehari sebelum ia lahir, Dia adalah singkatan dari nama kami Ditto dan Ayudia,” ujar Ayudia menambahkan. Setelah tiga minggu menetap di Bali dan memperolah pelajaran merawat bayi dari sang bidan, maka Ayudia beserta suami dan puteranya pun kembali bertolak ke Jakarta.

Selama merawat Sekala keduanya saling berbagi tugas. Baik urusan menggendong, mengganti popok, hingga memandikan. Begitu pula untuk pola asuh dan pola didik yang mereka terapkan. “Kami selalu diskusi. Intinya kami harus satu suara ketika memberikan arahan untuk Sekala. Jangan sampai orang tuanya beda pendapat di hadapan anak, selain itu kami juga selalu jaga intonasi bicara, jangan dengan nada tinggi. Dan saat ini kami mulai menjaga lisan, karena Sekala sudah bisa mengikuti apa yang kami ucapkan. Sedangkan untuk pendidikan, nanti Sekala akan kami sekolahkan di usia 3 tahun. Kalau sekarang masih intens dipegang oleh aku sendiri, aku ajarkan membaca, menggambar, menulis, menyanyi di rumah,” jelas Ayudia panjang lebar. Selain berbagi tugas ketika di rumah, Ayudia dan Ditto yang gemar traveling ini juga kerap berbagi tugas ketika sedang berlibur di luar negeri bersama Sekala. “Luar biasa deh kalau liburan cuma bertiga. Bagi kami yang penting saling kompak,” tutur Ayudia menutup perbincangan. (*)

Tags: , , ,

BAGIKAN HALAMAN INI: